Bagaimana Seorang Muslim Menyambut Malam Lailatul Qadar?
Sepuluh hari terakhir Ramadan adalah waktu yang sangat istimewa.
Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Malam ini disebut dengan malam Lailatul Qadar.
Karena keutamaannya itu, Rasulullah S.A.W. memberikan perhatian khusus terhadap malam terakhir di bulan Ramadhan ini.
Beliau menjalaninya dengan melakukan amalan yang tidak biasa beliau lakukan di hari-hari sebelumnya.
Diriwayatkan dari Aisyah R.A., ia berkata:
“Ketika Rasulullah S.A.W. memasuki sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadan, beliau mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan malam-malamnya, dan membangunkan keluarganya.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Beliau bahkan beribadah lebih khusyuk dibanding hari-hari sebelumnya.
Dari sini kita belajar bahwa sepuluh malam terakhir pada bulan Ramadhan bukanlah waktu untuk bersantai, tetapi saat terbaik untuk memperbanyak ibadah dan memperbaiki hubungan dengan Allah.
Contents
- 1 1. Beribadah di Malam-Malam Terakhir Bulan Ramadhan
- 2 2. Turut Membangunkan dan Mengajak Keluarga untuk Beribadah
- 3 3. Beribadah dengan Sungguh-Sungguh dan Menjauhi Hal-Hal yang Bisa Mengganggu Kekhusyukan kita
- 4 4. Menjaga Waktu Malam dan Menyambungnya dengan Sahur
- 5 5. Menjaga Kebersihan dan Penampilan saat Beribadah
- 6 6. Mengejar Lailatul Qadar dengan Hati yang Bersih
- 7 7. Mendekat Diri kepada Allah di Akhir Ramadan
- 8 8. Manfaatkan Malam Terakhir Tersebut, Bisa Jadi Ini Ramadhan Terakhir Kita
1. Beribadah di Malam-Malam Terakhir Bulan Ramadhan
Menghidupkan malam-malam terakhir bulan Ramadhan bisa dilakukan dengan memperbanyak ibadah, seperti salat malam, membaca Al-Qur’an, berzikir, atau berdoa hingga larut malam.
Para ulama memiliki beberapa pandangan tentang bagaimana kita sebagai seorang Muslim menjalani malam-malam tersebut:
- Ada yang memahami bahwa Rasulullah S.A.W. beribadah sepanjang malam tanpa tidur.
- Ada yang mengatakan cukup sebagian besar malam, karena yang penting adalah kesungguhan dan konsistensi.
- Beberapa ulama bahkan mengatakan dengan salat malam beberapa jam, lalu tidur sebentar dan kembali bangun untuk sahur dan witir.
- Dan sebagiannya juga mengatakan, jika seseorang menunaikan salat Isya dan Subuh berjamaah, ia sudah mendapatkan bagian dari keutamaan malam itu.
Yang terpenting bukan berapa lama waktunya, tetapi bagaimana hati kita ikhlas menjalani ibadah tersebut.
Bisa jadi seseorang beribadah sepanjang malam, namun hatinya kosong.
Sementara yang lain hanya beribadah sebentar, namun dengan hati yang tulus, sehingga Allah menerima amalnya.
“Barang siapa salat Isya dan Subuh berjamaah, maka seolah ia telah beribadah semalam penuh.” (H.R. Malik)
2. Turut Membangunkan dan Mengajak Keluarga untuk Beribadah
Di malam-malam terakhir Ramadan, Rasulullah S.A.W. tidak hanya beribadah sendiri, tetapi juga membangunkan keluarganya agar mereka tidak kehilangan keberkahan malam tersebut.
Beliau ingin seluruh keluarganya ikut merasakan kedekatan dengan Allah.
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah S.A.W. membangunkan istri dan keluarganya terutama di malam ke-27, karena malam itu sangat mungkin menjadi Lailatul Qadar.
Bahkan beliau pernah mengetuk pintu rumah putrinya, Fatimah, dan menantunya, Ali R.A., sambil berkata:
“Tidakkah kalian bangun untuk salat malam?”
Hal ini menunjukkan bahwa semangat ibadah di rumah Rasulullah S.A.W. bukan hanya untuk pribadi, tapi juga melibatkan seluruh keluarga.
Sebagai umatnya, kita bisa meneladani hal ini dengan cara sederhana, misalnya saling mengingatkan untuk salat malam atau membaca Al-Qur’an bersama.
3. Beribadah dengan Sungguh-Sungguh dan Menjauhi Hal-Hal yang Bisa Mengganggu Kekhusyukan kita
Hadis yang menyebut “Rasulullah mengencangkan ikat pinggang” memiliki dua makna.
Pertama, sebagai kiasan bahwa beliau bersungguh-sungguh dalam beribadah dan tidak mau bermalas-malasan.
Kedua, bermakna beliau menjauhkan diri dari hubungan suami-istri agar bisa lebih fokus beribadah selama sepuluh hari itu, terutama bagi yang sedang beri’tikaf di masjid.
Dengan kata lain, Rasulullah S.A.W. menyingkirkan semua hal yang bisa mengganggu kekhusyukan ibadahnya.
Beliau menjadikan sepuluh hari terakhir Ramadan sebagai momen beribadah secara totalitas, baik waktu, tenaga, dan pikirannya hanya untuk mendekatkan diri kepada Allah.
4. Menjaga Waktu Malam dan Menyambungnya dengan Sahur
Salah satu kebiasaan Rasulullah S.A.W. di malam-malam terakhir Ramadan adalah mengakhirkan waktu makan malam hingga mendekati waktu sahur.
Hal ini membuat tubuh terasa lebih ringan dan memberi kesempatan lebih lama untuk beribadah malam.
Aisyah R.A. meriwayatkan bahwa Rasulullah S.A.W. menjadikan makan malamnya di waktu sahur.
Dalam sebagian riwayat juga disebutkan bahwa beliau menghindari kekenyangan agar tidak malas beribadah.
Bahkan, Rasulullah S.A.W. kadang melanjutkan puasanya tanpa berbuka hingga malam berikutnya, dan Allah memberinya kekuatan dengan cara yang tidak dimiliki manusia biasa.
Hal ini menjadi pertanda bahwa semakin dekat seseorang kepada Allah, semakin Allah cukupkan kebutuhannya dengan ketenangan dan cahaya iman.
5. Menjaga Kebersihan dan Penampilan saat Beribadah
Selain beribadah malam, Rasulullah S.A.W. juga menjaga kebersihan diri.
Dalam riwayat disebutkan bahwa beliau mandi di antara waktu Magrib dan Isya untuk menyegarkan tubuh sebelum salat malam.
Beberapa sahabat seperti Ibrahim An-Nakha’i dan Imam Malik juga mencontohkan hal yang sama, dengan mandi dan mengenakan pakaian terbaik di malam-malam terakhir Ramadan tersebut.
Tentunya bukan soal penampilan semata saja, tapi tanda penghormatan sebagaimana kita ingin tampil rapi saat bertemu tamu penting, begitu pula seharusnya ketika “bertemu” dengan Allah.
6. Mengejar Lailatul Qadar dengan Hati yang Bersih
Setiap muslim pasti berharap bisa bertemu dengan Lailatul Qadar.
Tapi yang lebih penting dari sekadar berharap adalah menyiapkan hati agar layak menerimanya.
Sebab Allah tidak memandang banyaknya amal, tapi kebersihan niat dan keikhlasan hati di baliknya.
“Bisa jadi seseorang beribadah sepanjang malam tapi tidak mendapat apa-apa selain rasa lelah, sedangkan yang lain tidur namun hatinya tetap ingat kepada Allah dan mendapat rahmat-Nya.”
Kita tidak tahu malam mana yang menjadi Lailatul Qadar. Karena itu, jangan batasi semangat ibadah hanya di malam-malam tertentu saja.
Rasulullah S.A.W. bersungguh-sungguh di seluruh sepuluh malam terakhir agar tidak kehilangan satu pun peluang mendapatkan keberkahan.
7. Mendekat Diri kepada Allah di Akhir Ramadan
Sepuluh hari terakhir Ramadan adalah waktu yang paling berharga.
Di saat orang mulai lelah, Rasulullah justru meningkatkan semangatnya.
Di saat banyak orang sibuk mempersiapkan hari raya, beliau memilih menambah ibadah agar bisa menutup Ramadan dengan amalan terbaik.
Sebagai umatnya, teladan itu bisa diwujudkan dengan cara sederhana, seperti memperbanyak doa, memperbanyak istighfar, membaca Al-Qur’an dengan tadabbur, dan memperbaiki niat.
Karena pada akhirnya, yang Allah nilai bukan seberapa banyak kita beribadah, tapi seberapa ikhlas hati kita melakukannya.
8. Manfaatkan Malam Terakhir Tersebut, Bisa Jadi Ini Ramadhan Terakhir Kita
Sepuluh malam terakhir Ramadan adalah waktu untuk menenangkan diri, memperbanyak zikir, dan memohon ampunan atas segala dosa.
Jangan biarkan waktu ini berlalu begitu saja.
Bisa jadi, inilah Ramadan terakhir kita.
Maka, gunakan kesempatan ini untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan sepenuh hati.
Karena pada akhirnya, sebagaimana dikatakan para ulama terdahulu:
“Yang menjadi ukuran bukan banyaknya amal, tapi diterimanya amal itu di sisi Allah. Banyak orang beribadah semalaman tapi hanya mendapat kantuk, dan ada yang sedikit beramal tapi Allah ridha kepadanya.”
Semoga Allah memberi kita kekuatan untuk menghidupkan malam-malam terakhir bulan Ramadan nanti dengan penuh iman, keikhlasan, dan harapan.
Semoga kita termasuk hamba yang mendapatkan keberkahan malam Lailatul Qadar dengan hati yang bersih, seolah terlahir kembali.