Diriwayatkan bahwa Ibrahim 'alaihissalam dilahirkan di Babilonia. Beliau menikahi Sarah, seorang wanita yang mandul. Kemudian beliau berhijrah bersama istrinya Sarah dan keponakannya, Luth, menuju tanah Kanaan (Palestina). Mereka singgah di Harran, yang penduduknya menyembah tujuh bintang.
Penduduk yang membangun kota Damaskus juga menganut agama ini; mereka menghadap kutub utara dan menyembah bintang-bintang. Oleh karena itu, pada setiap pintu dari tujuh pintu tua Damaskus terdapat kuil untuk salah satu bintang, dan mereka mengadakan perayaan serta persembahan untuknya. Demikian pula penduduk Harran menyembah bintang-bintang dan berhala.
Setiap orang di muka bumi saat itu adalah kafir, kecuali Ibrahim Al-Khalil, istrinya, dan keponakannya Luth 'alihimussalam. Ibrahim 'alaihissalam adalah orang yang Allah gunakan untuk menghilangkan kejahatan dan membatalkan kesesatan itu. Allah memberikan petunjuk kepadanya sejak kecil, mengutusnya sebagai rasul, dan menjadikannya sebagai kekasih (khalil) di masa tuanya.
Allah berfirman: "Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan Kami mengetahui (keadaan)nya." (QS. Al-Anbiya': 51)
Dakwah kepada Ayahnya
Dakwah pertamanya adalah kepada ayahnya, yang termasuk penyembah berhala, karena ayahnya adalah orang yang paling berhak mendapatkan nasihat yang tulus.
"Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al-Qur'an. Sesungguhnya dia seorang yang sangat membenarkan dan seorang nabi. Ingatlah ketika dia berkata kepada ayahnya, 'Wahai ayahku! Mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolongmu sedikit pun?'" (QS. Maryam: 41-42)
Allah menyebutkan dialog dan perdebatan antara Ibrahim dan ayahnya, bagaimana ia mengajak ayahnya kepada kebenaran dengan ungkapan yang lembut, dan menjelaskan kebatilan penyembahan berhala yang tidak dapat mendengar seruan penyembahnya, tidak dapat melihat tempatnya, apalagi memberi manfaat atau mudarat.
Kemudian Ibrahim berkata—sambil mengingatkan petunjuk dan ilmu yang Allah berikan kepadanya, meski ia lebih muda dari ayahnya—: "Wahai ayahku! Sesungguhnya telah sampai kepadaku sebagian ilmu yang tidak diberikan kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus." (QS. Maryam: 43)
Artinya, jalan yang lurus, jelas, mudah, dan condong kepada kebenaran, yang akan membawamu kepada kebaikan di dunia dan akhirat. Namun ketika nasihat ini disampaikan, ayahnya tidak menerimanya, bahkan mengancamnya.
"Dia (ayahnya) berkata, 'Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, wahai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku untuk waktu yang lama.'" (QS. Maryam: 46)
Maka Ibrahim berkata: "Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memohonkan ampunan untukmu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku." (QS. Maryam: 47)
Artinya, tidak akan ada keburukan atau gangguan dariku padamu. Engkau selamat dariku. Bahkan aku tambahkan kebaikan dengan berdoa memohon ampunan untukmu kepada Rabb-ku yang telah memberiku petunjuk untuk menyembah dan mengikhlaskan ibadah kepada-Nya.
Ibrahim berkata: "Aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku." (QS. Maryam: 48)
Ibrahim benar-benar memohonkan ampunan untuk ayahnya seperti yang dijanjikannya. Namun ketika jelas baginya bahwa ayahnya adalah musuh Allah, beliau berlepas diri darinya.
Dialog dengan Penyembah Bintang
"Dan demikianlah Kami memperlihatkan kepada Ibrahim kekuasaan (Kami) di langit dan di bumi, agar dia termasuk orang-orang yang yakin. Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, 'Inilah Tuhanku.' Tetapi ketika bintang itu tenggelam dia berkata, 'Aku tidak suka kepada yang terbenam.' Kemudian ketika dia melihat bulan terbit dia berkata, 'Inilah Tuhanku.' Tetapi ketika bulan itu terbenam dia berkata, 'Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.' Kemudian ketika dia melihat matahari terbit dia berkata, 'Inilah Tuhanku, ini lebih besar.' Tetapi ketika matahari itu terbenam dia berkata, 'Wahai kaumku! Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada (Rabb) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh ketundukan (ikhlas) dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.'" (QS. Al-An'am: 75-79)
Ini adalah dialog Ibrahim dengan kaumnya, penjelasan bahwa benda-benda langit yang bercahaya ini tidak pantas disembah, karena ia adalah makhluk yang diatur, diciptakan, ditundukkan, terbit di suatu waktu dan terbenam di waktu lain, sehingga menghilang dari alam ini. Sedangkan Rabb tidak ada sesuatu pun yang samar bagi-Nya. Dia kekal abadi tanpa sirna. Tiada Tuhan selain Dia dan tiada Rabb selain-Nya.
Pelajaran tentang bintang-bintang ini kemungkinan diberikan kepada penduduk Harran, karena mereka menyembahnya. Adapun penduduk Babilonia menyembah berhala; merekalah yang didialogkan Ibrahim tentang penyembahan berhala, dan yang kemudian dihancurkannya.
Penghancuran Berhala dan Ujian Api
Ibrahim berkata: "Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu setelah kamu pergi meninggalkannya." (QS. Al-Anbiya': 57)
Ia bersumpah akan menghancurkan berhala-berhala itu setelah mereka pergi ke perayaan tahunan mereka. Dikatakan bahwa ia mengucapkan ini dalam hati. Menurut Ibnu Mas'ud, sebagian kaum mendengarnya. Mereka memiliki perayaan yang mereka hadiri setiap tahun. Ayahnya mengajaknya hadir, tetapi Ibrahim berkata, "Aku sedang sakit."
Ketika mereka pergi, Ibrahim pergi dengan diam-diam ke kuil berhala. Ia menemukan berbagai makanan persembahan di hadapan berhala-berhala itu. Dengan nada mengejek, ia berkata, "Mengapa tidak kamu makan? Mengapa kamu tidak berbicara?" Lalu ia menghancurkan semua berhala itu dengan kapak, kecuali yang terbesar, dengan meletakkan kapak di tangannya—seakan-akan berhala besar itu yang melakukannya.
Ketika kaumnya kembali dan melihat kehancuran berhala-berhala mereka, mereka berkata, "Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami? Sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zalim."
Ini adalah bukti yang jelas bagi mereka seandainya mereka berpikir: jika berhala-berhala itu benar-benar tuhan, tentu dapat melindungi diri sendiri. Namun karena kebodohan mereka, mereka berkata, "Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini; namanya Ibrahim."
Mereka membawa Ibrahim di hadapan orang banyak. Ibrahim berkata, "Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya. Tanyakan saja kepada mereka, jika mereka dapat berbicara."
Maksudnya adalah agar mereka menyadari bahwa berhala-berhala itu adalah benda mati. Mereka pun menyadari kesalahan mereka. Kemudian Ibrahim berkata, "Mengapa kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudarat kepadamu? Celakalah kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah! Tidakkah kamu mengerti?"
"Mereka berkata, 'Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak berbuat.'" (QS. Al-Anbiya': 68)
Ketika mereka kalah dalam debat, mereka menggunakan kekuatan dan kekuasaan mereka. Namun Allah menggagalkan tipu daya mereka dan meninggikan kalimat-Nya.
Mereka mengumpulkan kayu bakar dari segala penjuru selama berhari-hari. Seorang wanita yang sakit bahkan bernazar akan membawa kayu bakar jika sembuh. Mereka membuat lubang besar, menyalakan api yang sangat dahsyat, lalu melemparkan Ibrahim dengan menggunakan katapel yang dibuat seorang pria Kurdi bernama Hazn. Ibrahim diikat dan dibelenggu, sambil terus mengucapkan, "La ilaha illa Anta, Subhanaka, laka al-hamdu wa laka al-mulk, la syarika laka" (Tiada Tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau, segala puji dan kerajaan milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu).
Ketika dilemparkan ke api, Ibrahim berkata, "Hasbunallah wa ni'mal wakil" (Cukuplah Allah menjadi Penolong kami, dan Dia sebaik-baik Pelindung).
Allah berfirman: "Wahai api! Jadilah kamu dingin, dan penyelamat bagi Ibrahim!" (QS. Al-Anbiya': 69)
Diriwayatkan bahwa Jibril menawarkan bantuan, tetapi Ibrahim menjawab, "Adapun darimu, tidak (aku butuh)." Malaikat hujan bertanya kapan diperintahkan menurunkan hujan, tetapi perintah Allah lebih cepat. Api itu menjadi dingin dan menyelamatkan Ibrahim. Hanya ikatan yang terbakar, sedangkan Ibrahim berada di tengah taman hijau, dikelilingi api yang tidak dapat menyentuhnya.
Dialog dengan Raja Namrud
"Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya, karena Allah telah memberikan kepadanya kerajaan? Ketika Ibrahim berkata, 'Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan,' dia berkata, 'Aku dapat menghidupkan dan mematikan.' Ibrahim berkata, 'Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dari barat.' Maka tercenganglah orang yang kafir itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim." (QS. Al-Baqarah: 258)
Raja yang angkuh ini mengaku sebagai tuhan. Ibrahim membantahnya dengan mengatakan, "Tuhanku Yang menghidupkan dan mematikan." Raja itu membalas, "Aku pun dapat menghidupkan dan mematikan," maksudnya dengan membebaskan seorang yang hendak dihukum mati dan mengeksekusi yang lain.
Lalu Ibrahim berkata, "Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dari barat." Raja itu terdiam dan tidak dapat menjawab, karena ia tak berdaya.
Diriwayatkan bahwa Allah mengirim nyamuk-nyamuk kepada pasukan Namrud yang memakan daging dan darah mereka, menyisakan tulang belulang. Seekor nyamuk masuk ke hidung Namrud dan tinggal di sana selama 400 tahun, menyiksanya hingga mati.
Hijrah ke Syam dan Kisah Sarah dengan Raja
"Lalu Luth membenarkan (kenabian)nya. Dan dia (Ibrahim) berkata, 'Sesungguhnya aku harus berpindah ke (tempat) yang diperintahkan Tuhanku kepadaku; sesungguhnya Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.' Dan Kami anugerahkan kepada Ibrahim, Ishak dan Yakub, dan Kami jadikan kenabian dan Kitab pada keturunannya. Dan Kami berikan kepadanya balasannya di dunia; dan sesungguhnya di akhirat dia termasuk orang-orang yang saleh." (QS. Al-Ankabut: 26-27)
Ketika Ibrahim berhijrah, istrinya Sarah mandul. Allah kemudian menganugerahkan keturunan yang saleh dan menjadikan kenabian serta kitab pada keturunannya.
Di tengah perjalanan, mereka memasuki wilayah seorang raja lalim. Raja itu mendengar ada wanita cantik (Sarah) bersama Ibrahim, lalu memanggil Ibrahim dan bertanya tentangnya. Ibrahim menjawab, "Dia saudariku," maksudnya dalam agama. Ibrahim khawatir jika mengatakan Sarah adalah istrinya, raja itu akan membunuhnya dan mengambil Sarah.
Sarah dibawa ke hadapan raja. Ketika raja itu mendekatinya, Sarah berdoa, dan tiba-tiba raja itu terserang kejang. Ini terjadi berulang kali hingga raja itu menyadari bahwa Sarah dilindungi oleh kekuatan gaib. Akhirnya, raja itu mengembalikan Sarah dan memberikan Hajar sebagai pelayan untuknya.
Kelahiran Ismail dan Penempatannya di Mekah
Atas permintaan Sarah yang mandul, Ibrahim menikahi Hajar, yang kemudian melahirkan Ismail ketika Ibrahim berusia 86 tahun. Ketika rasa cemburu Sarah memuncak, Ibrahim membawa Hajar dan Ismail yang masih bayi ke lembah tandus yang kelak menjadi Mekah.
Ibrahim meninggalkan mereka di dekat Ka'bah dengan sedikit kurma dan air. Hajar bertanya, "Apakah Allah yang memerintahkanmu?" Ibrahim menjawab, "Ya." Hajar berkata, "Maka Dia tidak akan menyia-nyiakan kami."
Ibrahim berdoa:
"Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, agar mereka melaksanakan salat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur." (QS. Ibrahim: 37)
Ketika persediaan air habis, Hajar berlari antara bukit Shafa dan Marwah tujuh kali mencari pertolongan. Malaikat Jibril kemudian memukulkan tumitnya (atau sayapnya) ke tanah, dan memancarlah air Zamzam.
Suku Jurhum yang lewat melihat burung mengitari sumber air, lalu mereka meminta izin tinggal di sana. Ismail tumbuh besar di antara mereka, belajar bahasa Arab, dan menikahi wanita dari suku mereka.
Ujian Penyembelihan (Kisah Penyembelihan)
"Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, 'Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!' Dia (Ismail) menjawab, 'Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.' Maka ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (untuk melaksanakan perintah Allah). Lalu Kami panggil dia, 'Wahai Ibrahim! Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.' Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Dan Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, 'Selamat sejahtera bagi Ibrahim.' Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sungguh, dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. Dan Kami berikan kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) Ishak seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh." (QS. As-Saffat: 102-112)
Ketika Ismail sudah dewasa dan dapat membantu ayahnya, Ibrahim melihat dalam mimpi bahwa ia diperintahkan menyembelih putranya. Mimpi para nabi adalah wahyu. Ibrahim menyampaikan hal ini kepada Ismail, yang dengan penuh ketundukan menjawab, "Lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu."
Ketika keduanya berserah diri dan Ibrahim siap menyembelih, Allah memanggilnya dan mengganti Ismail dengan seekor domba besar (kibas) dari surga. Peristiwa ini merupakan ujian yang jelas, dan Allah memberinya kabar gembira kelahiran Ishak sebagai nabi dari kalangan orang-orang saleh.
Kelahiran Ishak
Allah berfirman: "Dan istri Ibrahim berdiri lalu dia tersenyum. Maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kelahiran) Ishak, dan setelah Ishak (akan lahir) Yakub." (QS. Hud: 71)
Kabur gembira ini disampaikan malaikat ketika mereka singgah di rumah Ibrahim dalam perjalanan menuju kaum Luth. Sarah yang mendengar kabar itu tertawa terkejut karena usianya yang sudah tua dan mandul. Namun malaikat berkata, "Apakah kamu merasa heran terhadap ketetapan Allah?"
Pembangunan Ka'bah
"Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan fondasi Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), 'Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.'" (QS. Al-Baqarah: 127)
Allah mengarahkan Ibrahim ke tempat Ka'bah. Ia dan Ismail membangunnya sambil berdoa. Ibrahim juga berdoa agar Allah mengutus seorang rasul dari keturunan mereka—doa yang dikabulkan dengan diutusnya Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.
Diriwayatkan bahwa Allah mengirim angin untuk membersihkan fondasi Ka'bah yang asli. Batu Hajar Aswat awalnya adalah batu putih dari surga yang dibawa Nabi Adam, kemudian menghitam karena dosa manusia. Batu itu ditemukan kembali dan diletakkan di sudut Ka'bah.
Maqam Ibrahim adalah batu tempat Ibrahim berdiri saat membangun Ka'bah, yang meninggalkan bekas telapak kakinya. Tempat ini kemudian dijadikan tempat salat.