Kaum Nabi Saleh 'alaihissalam adalah suku terkenal yang bernama Tsamud, dinisbatkan kepada nenek moyang mereka Tsamud, saudara dari Judais. Keduanya adalah anak-anak 'Abir bin Iram bin Sam bin Nuh. Mereka adalah bangsa Arab dari suku 'Aribah yang menghuni daerah Al-Hijr, yaitu wilayah antara Hijaz dan Tabuk. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah melewati daerah ini ketika menuju Tabuk bersama kaum muslimin, sebagaimana akan disebutkan dalam kisah ini.
Mereka hidup setelah kaum 'Ad, dan mereka pun menyembah berhala seperti kaum sebelumnya. Lalu Allah mengutus seorang lelaki dari kalangan mereka sebagai hamba dan rasul-Nya, yaitu Saleh bin 'Abd bin Masikh bin 'Ubaid bin Hajir bin Tsamud bin 'Abir bin Iram bin Sam bin Nuh.
Beliau menyeru mereka untuk menyembah Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, agar mereka meninggalkan berhala-berhala dan sesembahan lain, serta tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Sekelompok dari mereka beriman, namun mayoritasnya kafir. Mereka menyakiti Nabi Saleh dengan ucapan dan perbuatan, bahkan bermaksud membunuhnya. Mereka juga membunuh unta betina yang Allah jadikan sebagai bukti bagi mereka. Maka Allah menimpakan azab kepada mereka sebagai Dzat Yang Mahaperkasa, Mahakuasa.
Kisah Beliau dengan Kaumnya
Sekarang mari kita sebutkan kisah mereka, keadaan mereka, bagaimana Allah menyelamatkan Nabi Saleh 'alaihissalam dan orang-orang yang beriman bersamanya, serta bagaimana Allah memutuskan keturunan kaum yang zalim akibat kekufuran, kesombongan, dan penentangan mereka terhadap Rasul mereka 'alaihissalam.
Kami telah sebutkan bahwa mereka adalah bangsa Arab yang hidup setelah kaum 'Ad, dan mereka tidak mengambil pelajaran dari kisah kaum 'Ad. Oleh karena itu, Nabi mereka 'alaihissalam berkata kepada mereka:
"Dan kepada kaum Tsamud (Kami utus) saudara mereka, Saleh. Dia berkata, 'Wahai kaumku! Sembahlah Allah, tidak ada tuhan bagimu selain Dia. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Unta betina ini adalah tanda (kekuasaan) Allah untukmu, maka biarkanlah dia makan di bumi Allah dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apa pun, (jika tidak) kamu akan ditimpa azab yang pedih.' Dan ingatlah ketika Dia menjadikan kamu pengganti-pengganti setelah kaum 'Ad dan memberi tempat kediaman bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah, maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu melakukan kerusakan di bumi." (QS. Al-A'raf: 73-74)
Artinya: Allah menjadikan kalian sebagai pengganti setelah mereka agar kalian mengambil pelajaran dari kisah mereka, dan beramal dengan menyelisihi perbuatan mereka. Allah juga mengizinkan kalian di bumi ini; kalian membangun istana-istana di dataran-datarannya, dan memahat rumah-rumah di gunung-gunungnya dengan sangat indah, yaitu mahir dalam pembuatannya, teliti, dan kokoh. Maka, balaslah nikmat Allah dengan syukur dan amal Saleh, serta ibadah kepada-Nya semata, tiada sekutu bagi-Nya. Janganlah kalian menyelisihi-Nya dan berpaling dari ketaatan kepada-Nya, karena akibatnya sangat buruk.
Dan beliau juga berkata kepada mereka: "...Dia (Saleh) berkata, 'Wahai kaumku! Sembahlah Allah, tidak ada tuhan bagimu selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya...'" (QS. Hud: 61)
Artinya, Dialah yang menciptakan kalian, mengadakan kalian dari bumi, dan menjadikan kalian sebagai pemakmurnya, yaitu memberikan bumi dengan segala tanaman dan buah-buahannya kepada kalian. Dialah Sang Pencipta, Pemberi Rezeki. Maka, Dialah yang berhak disembah semata, tiada yang lain.
"Maka mohonlah ampunan kepada-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya." (QS. Hud: 61) Artinya, berhentilah dari apa yang kalian lakukan dan bersegeralah menyembah-Nya, karena Dia akan menerima (tolbat) kalian dan mengampuni kalian.
"Sesungguhnya Tuhanku sangat dekat (rahmat-Nya) dan memperkenankan (doa hamba-Nya)." (QS. Hud: 61) Mereka berkata, "Wahai Saleh! Sebelum ini engkau adalah orang yang kami harapkan (kebaikannya) di antara kami." (QS. Hud: 62)
Artinya, dahulu kami berharap akalmu sempurna sebelum ucapan ini, yaitu seruanmu kepada kami untuk mengesakan ibadah, meninggalkan sesembahan-sesembahan yang kami sembah, serta berpaling dari agama nenek moyang kami.
Oleh karena itu, mereka berkata: "...Apakah engkau melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh nenek moyang kami? Dan sesungguhnya kami benar-benar dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap agama yang engkau serukan kepada kami." (QS. Hud: 62) Saleh berkata, "Wahai kaumku! Bagaimana pendapatmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan diberi-Nya aku rahmat (kenabian) dari-Nya, maka siapakah yang akan menolongku dari (azab) Allah jika aku mendurhakai-Nya? Sebab itu, kamu tidak akan menambah apa pun bagiku selain kerugian." (QS. Hud: 63)
Ini merupakan sikap lembut dan halus dari Nabi Saleh dalam berdakwah, serta usaha yang baik dalam mengajak mereka kepada kebaikan. Maksudnya, bagaimana pendapat kalian jika perkara ini seperti yang kukatakan dan kuserukan kepada kalian? Bagaimana alasan kalian di sisi Allah? Apa yang dapat menyelamatkan kalian di hadapan-Nya, sedangkan kalian memintaku untuk meninggalkan dakwahku kepada ketaatan kepada-Nya? Padahal, aku tidak mungkin melakukannya karena itu kewajibanku. Seandainya aku meninggalkannya, tidak seorang pun dari kalian atau selain kalian yang dapat melindungiku atau menolongku dari-Nya. Maka, aku akan terus menyeru kalian kepada Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, sampai Allah memberikan keputusan antara aku dan kalian.
Mereka juga berkata kepadanya: "Sesungguhnya engkau hanyalah seorang yang kena sihir." (QS. Asy-Syu'ara': 153)
Artinya, engkau terkena sihir sehingga tidak tahu apa yang kau ucapkan dalam seruanmu agar kami mengesakan ibadah hanya kepada Allah dan meninggalkan sesembahan selain-Nya. Mayoritas ulama berpendapat bahwa yang dimaksud "al-musahharin" adalah orang yang disihir.
Dan ucapan mereka: "Maka datangkanlah suatu mukjizat jika engkau termasuk orang-orang yang benar." (QS. Asy-Syu'ara': 154)
Mereka memintanya untuk mendatangkan suatu keajaiban yang membuktikan kebenaran ajakannya.
Kisah Unta Betina
Saleh berkata: "Ini seekor unta betina, dia mempunyai giliran untuk mendapatkan air, dan kamu mempunyai giliran pula untuk mendapatkan air di hari yang tertentu. Dan janganlah kamu sentuh unta betina itu dengan sesuatu kejahatan, yang menyebabkan kamu akan ditimpa oleh azab hari yang besar." (QS. Asy-Syu'ara': 155-156)
Dan beliau berkata: "Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Unta betina ini adalah tanda (kekuasaan) Allah untukmu, maka biarkanlah dia makan di bumi Allah dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apa pun, (jika tidak) kamu akan ditimpa azab yang pedih." (QS. Al-A'raf: 73)
Dan Allah berfirman: "Dan Kami telah memberikan unta betina itu kepada kaum Tsamud sebagai bukti (kekuasaan Kami), tetapi mereka menganiaya (membunuh)-nya." (QS. Al-Isra': 59)
Para ahli tafsir menyebutkan bahwa pada suatu hari, kaum Tsamud berkumpul di tempat pertemuan mereka. Lalu Rasulullah Saleh datang, menyeru mereka kepada Allah, mengingatkan, memperingatkan, menasihati, serta memerintahkan mereka.
Mereka berkata kepadanya: "Jika engkau dapat mengeluarkan untuk kami dari batu besar ini—sambil menunjuk ke sebuah batu besar di sana—seekor unta betina dengan ciri-ciri tertentu," lalu mereka menyebutkan beberapa sifat dan kriteria yang mereka inginkan, dan mereka bersikap berlebihan dalam mensyaratkannya: bahwa unta itu harus bunting sepuluh bulan, tinggi, dengan ciri-ciri tertentu.
Nabi Saleh 'alaihissalam berkata kepada mereka: "Bagaimana pendapat kalian jika aku penuhi permintaan kalian dengan tepat seperti yang kalian minta, apakah kalian akan beriman dengan ajakanku dan membenarkan risalah yang aku bawa?"
Mereka menjawab: "Ya." Maka Nabi Saleh mengambil janji dan perjanjian mereka atas hal itu. Kemudian beliau pergi ke tempat shalatnya, lalu shalat kepada Allah 'Azza wa Jalla sebatas yang ditakdirkan, kemudian berdoa kepada Rabb-nya agar mengabulkan permintaan mereka.
Lalu Allah memerintahkan batu besar itu untuk terbelah, dan keluarlah darinya seekor unta betina yang besar dan bunting, sesuai dengan permintaan dan sifat-sifat yang mereka sebutkan. Ketika mereka menyaksikannya demikian, mereka melihat suatu perkara yang sangat besar, pemandangan yang dahsyat, kekuasaan yang menakjubkan, bukti yang meyakinkan, dan dalil yang terang. Maka, banyak dari mereka yang beriman, namun sebagian besar tetap dalam kekufuran, kesesatan, dan kedurhakaan mereka.
Oleh karena itu, Allah berfirman: "Tetapi mereka menganiaya (membunuh)-nya." (QS. Al-Isra': 59) Artinya, mereka mendustakannya dan tidak mengikuti kebenaran karena unta itu—maksudnya, kebanyakan mereka.
Pemimpin orang-orang yang beriman adalah Junda' bin 'Amr bin Mahalah bin Labid bin Jawas. Dia adalah salah satu pemimpin mereka, dan mereka adalah sisa orang-orang terhormat yang masuk Islam. Dzu'ab bin 'Amr bin Labid dan Al-Khabab (penjaga berhala-berhala mereka), serta Rabab bin Sham'ir bin Julmus menghasud Junda'. Junda' pun mengajak sepupunya, Syihab bin Khalifah—yang juga termasuk orang terhormat mereka—untuk masuk Islam. Namun, para pemimpin tadi melarangnya, sehingga ia pun condong kepada mereka.
Oleh karena itu, Saleh 'alaihissalam berkata kepada mereka: "Unta betina ini adalah tanda (kekuasaan) Allah untukmu." (QS. Al-A'raf: 73)
Beliau menyandarkannya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala sebagai bentuk pengagungan dan pemuliaan, seperti penyebutan "Baitullah" (Rumah Allah) dan "'Abdullah" (hamba Allah).
"Sebagai tanda (kekuasaan) bagimu," (QS. Al-A'raf: 73) yaitu sebagai bukti kebenaran risalah yang kubawa.
"Maka biarkanlah dia makan di bumi Allah dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apa pun, (jika tidak) kamu akan ditimpa azab yang pedih." (QS. Al-A'raf: 73)
Kemudian disepakati bahwa unta betina ini akan tetap hidup di tengah-tengah mereka, ia dapat merumput di mana saja di tanah mereka, dan minum air sehari bergantian. Jika unta itu minum air dari sumur pada suatu hari, maka kaum Tsamud mengambil kebutuhan air mereka pada hari itu untuk keesokan harinya. Dikatakan juga bahwa mereka meminum susunya yang mencukupi kebutuhan mereka.
Oleh karena itu, beliau berkata: "Dia mempunyai giliran untuk mendapatkan air, dan kamu mempunyai giliran pula untuk mendapatkan air di hari yang tertentu." (QS. Asy-Syu'ara': 155)
Oleh karena itu, Allah berfirman: "Sesungguhnya Kami akan mengirim unta betina sebagai cobaan bagi mereka." (QS. Al-Qamar: 27)
Artinya, sebagai ujian bagi mereka, apakah mereka akan beriman atau kafir? Dan Allah Maha Mengetahui apa yang akan mereka perbuat.
"Maka tunggulah dan bersabarlah kamu." (QS. Al-Qamar: 27) Artinya, tunggulah apa yang akan terjadi dari urusan mereka, dan bersabarlah atas gangguan mereka. Nanti akan datang kabar yang jelas kepadamu.
"Dan beritahukanlah kepada mereka bahwa sesungguhnya air itu terbagi antara mereka (dengan unta betina itu); setiap yang berhak minum datang pada hari gilirannya." (QS. Al-Qamar: 28)
Ketika keadaan ini berlangsung lama atas mereka, para pemimpin mereka berkumpul dan sepakat untuk menyembelih unta betina ini agar mereka dapat beristirahat darinya dan mendapatkan air mereka sepenuhnya. Setan pun menghiasi perbuatan mereka.
Allah berfirman: "Kemudian mereka membunuh unta betina itu, dan mereka mendurhakai perintah Tuhan, dan mereka berkata, 'Wahai Saleh! Buktikanlah ancamanmu kepada kami, jika betul engkau termasuk orang yang diutus (Allah).'" (QS. Al-A'raf: 77)
Orang yang mengepalai penyembelihannya adalah pemimpin mereka, Qudar bin Salaf bin Junda'.
Ibnu Jarir dan ulama tafsir lainnya menyebutkan:
Ada dua wanita dari kaum Tsamud. Nama salah satunya adalah Shaduq binti Al-Muhya bin Zuhair bin Al-Mukhtar, seorang wanita terhormat dan kaya. Ia pernah menikah dengan seorang lelaki dari suku Aslam lalu bercerai. Ia menawarkan dirinya kepada sepupunya yang bernama Mishra' bin Muhrij bin Al-Muhya jika ia mau menyembelih unta itu.
Nama wanita lainnya adalah 'Unaizah binti Ghanim bin Majlaz, dijuluki Ummu 'Utsman. Ia adalah seorang wanita tua yang kafir, memiliki empat anak perempuan dari suaminya, Dzu'ab bin 'Amr—salah satu pemimpin. Ia menawarkan keempat anak perempuannya kepada Qudar bin Salaf jika ia mau menyembelih unta itu; ia boleh memilih salah satu anak perempuannya.
Kedua pemuda itu pun bersedia untuk menyembelihnya. Mereka mengajak kaum mereka untuk hal itu, dan tujuh orang lain menyambut ajakan mereka, sehingga total menjadi sembilan orang. Mereka inilah yang disebutkan dalam firman Allah:
"Dan adalah di kota itu (kaum Tsamud) sembilan orang laki-laki yang selalu membuat kerusakan di muka bumi, dan tidak berbuat kebaikan." (QS. An-Naml: 48)
Mereka membujuk seluruh suku dan meyakinkan mereka untuk menyembelih unta itu. Kaum mereka pun menyetujui dan menaati mereka. Lalu mereka pergi mengintai unta itu. Ketika unta itu kembali dari tempat minumnya, Mishra' bersembunyi dan memanahnya dengan anak panah yang mengenai tulang betisnya. Para wanita datang sambil membangkitkan semangat suku mereka untuk membunuhnya, dan mereka menyingkap wajah-wajah mereka untuk memancing semangat kaum laki-laki.
Qudar bin Salaf segera menyongsong dan menebas urat keting unta itu dengan pedang. Unta itu pun jatuh tersungkur ke tanah, merintih sekali dengan rintihan yang sangat keras sebagai peringatan kepada anaknya. Kemudian Qudar menikam lehernya dan menyembelihnya. Anak unta itu—yang biasa menyusuinya—lari, naik ke sebuah gunung yang tinggi dan memanggil (ibunya) tiga kali.
Abdurrazzaq meriwayatkan dari Ma'mar, dari seseorang yang mendengar Al-Hasan berkata: Anak unta itu berkata, "Wahai Rabb, di manakah ibuku?" Kemudian ia masuk ke dalam sebuah batu dan menghilang di dalamnya.
Dikatakan: Mereka mengejarnya dan menyembelihnya juga.
Allah berfirman: "Lalu mereka memanggil kawannya, maka dia menangkap (unta itu) dan disembelihnya. Maka alangkah hebatnya azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku." (QS. Al-Qamar: 29-30)
Dan Allah berfirman: "Ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka, lalu Rasul Allah (Saleh) berkata (kepadanya), '(Janganlah kamu ganggu) unta betina dari Allah dan (janganlah kamu halangi) minumannya.'" (QS. Asy-Syams: 13-14)
Dari Abdullah bin Zam'ah, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkhutbah dan menyebutkan kisah unta betina serta orang yang menyembelihnya. Beliau bersabda: "'Ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka,' yang bangkit untuk (membunuh)-nya adalah seorang lelaki yang perkasa, terhormat, dan disegani di kalangan sukunya, seperti Abu Zam'ah."
Artinya, seorang yang pemberani, terhormat, disegani, dan ditaati oleh kaumnya.
Dari 'Ammar bin Yasir, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata kepada Ali: "Maukah kuberitahukan kepadamu siapa manusia yang paling celaka?" Ali menjawab, "Ya." Beliau bersabda: "Dua orang laki-laki. Salah satunya adalah Ahmar Tsamud (orang Tsamud yang berwarna kemerahan) yang menyembelih unta betina. Dan orang yang akan memukulmu, wahai Ali, di sini—sambil menunjuk kepalanya—hingga membasahi ini—yaitu jenggotmu—(dengan darah)."
Allah berfirman: "Kemudian mereka membunuh unta betina itu, dan mereka mendurhakai perintah Tuhan, dan mereka berkata, 'Wahai Saleh! Buktikanlah ancamanmu kepada kami, jika betul engkau termasuk orang yang diutus (Allah).'" (QS. Al-A'raf: 77)
Dalam ucapan mereka ini, mereka menggabungkan berbagai bentuk kekufuran yang parah:
- Mereka menyelisihi Allah dan Rasul-Nya dengan mengerjakan larangan yang sangat jelas, yaitu menyembelih unta betina yang Allah jadikan sebagai tanda bagi mereka.
- Mereka meminta disegerakannya azab atas mereka, sehingga mereka berhak menerimanya dari dua sisi: pertama, syarat yang diberikan kepada mereka dalam firman-Nya: "Dan janganlah kamu sentuh unta betina itu dengan sesuatu kejahatan, yang menyebabkan kamu akan ditimpa oleh azab hari yang besar." (QS. Asy-Syu'ara': 156); kedua, permintaan mereka untuk menyegerakannya.
- Mereka mendustakan Rasul yang telah datang dengan bukti yang meyakinkan atas kenabian dan kebenarannya, padahal mereka mengetahui hal itu dengan yakin. Namun, kekufuran, kesesatan, dan kedurhakaan mendorong mereka untuk meremehkan kebenaran dan meragukan akan turunnya azab atas mereka.
Allah berfirman: "Lalu mereka membunuhnya, dia (Saleh) berkata, 'Bersenang-senanglah kamu sekalian di rumahmu selama tiga hari (itulah) janji yang tidak dapat didustakan.'" (QS. Hud: 65)
Diriwayatkan bahwa ketika mereka menyembelih unta betina, orang pertama yang menyerangnya adalah Qudar bin Salaf—laknat Allah atasnya—yang memotong urat ketingnya hingga ia jatuh ke tanah. Kemudian mereka semua menyerangnya dengan pedang-pedang mereka untuk memotong-motongnya. Ketika anak unta itu—yang masih menyusu—melihatnya, ia lari dari mereka, naik ke puncak gunung di sana, dan merintih tiga kali.
Oleh karena itu, Saleh berkata kepada mereka: "Bersenang-senanglah kamu sekalian di rumahmu selama tiga hari."
Artinya, selain hari mereka itu. Namun, mereka tidak mempercayainya juga dalam janji yang tegas ini. Bahkan, ketika sore hari, mereka bermaksud membunuhnya dan ingin—menurut anggapan mereka—menyusulkannya kepada unta betina.
"Mereka berkata, 'Bersumpahlah kamu dengan nama Allah, bahwa kita harus menyerangnya (Saleh) dan keluarganya pada malam hari.'" (QS. An-Naml: 49)
Artinya, kita akan menyerangnya di rumahnya bersama keluarganya pada malam hari. Kita akan membunuhnya, lalu mengingkari pembunuhannya dan mendustakannya jika para walinya menuntut darahnya.
Oleh karena itu, mereka berkata: "Kemudian kita katakan kepada ahli warisnya, 'Kami tidak menyaksikan kematian keluarganya, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang benar.'" (QS. An-Naml: 49)
Kebinasaan Kaum Tsamud
"Dan mereka merencanakan tipu daya yang jahat, lalu Kami balas terhadap mereka dengan tipu daya (pula), sedang mereka tidak menyadari. Maka perhatikanlah bagaimana akibat dari tipu daya mereka, bahwa Kami membinasakan mereka dan kaum mereka semuanya. Itulah rumah-rumah mereka dalam keadaan runtuh disebabkan mereka berbuat zalim. Sungguh, pada yang demikian itu pasti terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang mengetahui. Dan Kami selamatkan orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa." (QS. An-Naml: 50-53)
Hal itu karena Allah menimpakan batu-batu kepada orang-orang yang berniat membunuh Saleh, sebagai pembalasan dan penyegeraan sebelum kaum mereka.
Kaum Tsamud bangun pada hari Kamis, yaitu hari pertama dari masa penangguhan, dengan wajah-wajah menguning sebagaimana diperingatkan oleh Saleh 'alaihissalam. Ketika sore hari, mereka semua berseru: "Ingatlah, telah berlalu satu hari dari ajal."
Kemudian mereka bangun pada hari kedua dari masa penangguhan, yaitu hari Jumat, dengan wajah-wajah memerah. Ketika sore hari, mereka berseru: "Ingatlah, telah berlalu dua hari dari ajal."
Kemudian mereka bangun pada hari ketiga dari masa bersenang-senang, yaitu hari Sabtu, dengan wajah-wajah menghitam. Ketika sore hari, mereka berseru: "Ingatlah, telah berlalu ajal."
Ketika pagi hari Minggu, mereka memakai wewangian dan bersiap-siap, duduk menunggu azab, siksa, dan murka apa yang akan menimpa mereka. Mereka tidak tahu bagaimana azab akan menimpa mereka, dan dari arah mana azab itu datang.
Ketika matahari terbit, datanglah suara yang sangat keras dari langit di atas mereka, dan guncangan yang dahsyat dari bawah mereka. Maka, ruh-ruh pun dicabut, nyawa-nyawa melayang, gerakan-gerakan berhenti, suara-suara terdiam, dan kebenaran pun tegak. Mereka pun menjadi bangkai-bangkai di rumah mereka, tak bernyawa dan tak bergerak.
Dikatakan: Tidak ada seorang pun yang tersisa dari mereka kecuali seorang gadis yang lumpuh, bernama Kalbah binti As-Sallaq—juga dipanggil Adz-Dzari'ah—seorang yang sangat kafir dan memusuhi Saleh 'alaihissalam. Ketika ia melihat azab, kedua kakinya menjadi kuat, ia bangun dan berlari secepat mungkin. Ia mendatangi suatu kabilah Arab dan memberitahukan apa yang dilihatnya serta apa yang menimpa kaumnya. Ia meminta air kepada mereka, dan setelah meminumnya, ia pun mati.
Allah berfirman: "Seakan-akan mereka belum pernah berdiam di tempat itu." (QS. Hud: 68) Artinya, seakan-akan mereka tidak pernah tinggal di sana dengan kelapangan dan rezeki yang melimpah.
"Ingatlah, sesungguhnya kaum Tsamud itu ingkar kepada Tuhan mereka. Ingatlah, binasalah kaum Tsamud." (QS. Hud: 68) Artinya, lisan takdir menyerukan hal ini atas mereka.
Dari Jabir, ia berkata: Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melewati Al-Hijr, beliau bersabda: "Janganlah kalian meminta tanda-tanda (mukjizat), karena kaum Saleh telah memintanya, lalu (unta betina itu) datang dari celah ini dan pergi dari celah itu. Namun mereka durhaka terhadap perintah Tuhan mereka, lalu mereka menyembelihnya. Unta itu minum air mereka sehari, dan mereka minum susunya sehari. Mereka menyembelihnya, lalu sebuah suara keras menimpa mereka, dan Allah membinasakan semua yang di bawah langit dari mereka kecuali seorang lelaki yang berada di tanah haram Allah." Para sahabat bertanya, "Siapa dia, wahai Rasulullah?" Beliau bersabda: "Dia adalah Abu Righal. Ketika ia keluar dari tanah haram, ia tertimpa apa yang menimpa kaumnya."
Dari Bujair bin Abi Bujair, ia berkata: Aku mendengar Abdullah bin 'Amr berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda ketika kami keluar bersama beliau menuju Thaif dan melewati sebuah kuburan: "Sesungguhnya ini adalah kuburan Abu Righal. Dia adalah ayahnya Tsaqif, berasal dari kaum Tsamud. Ia dilindungi di tanah haram ini. Ketika ia keluar darinya, ia terkena hukuman yang menimpa kaumnya di tempat ini, lalu dikubur di sini. Tandanya, dikubur bersama dengannya sebatang ranting emas. Jika kalian menggali kuburannya, kalian akan mendapatkannya bersamanya." Orang-orang pun segera menggali dan mengeluarkan ranting itu darinya.
Demikian diriwayatkan Abu Dawud melalui jalur Muhammad bin Ishaq.
Dan firman Allah: "Lalu dia (Saleh) berpaling dari mereka dan berkata, 'Wahai kaumku! Sungguh, aku telah menyampaikan amanat Tuhanku kepadamu dan aku telah menasihatimu, tetapi kamu tidak menyukai orang yang memberi nasihat.'" (QS. Al-A'raf: 79)
Ini adalah kabar tentang Saleh 'alaihissalam bahwa beliau berbicara kepada kaumnya setelah kebinasaan mereka, sambil pergi meninggalkan tempat tinggal mereka menuju tempat lain, seraya berkata:
"Wahai kaumku! Sungguh, aku telah menyampaikan amanat Tuhanku kepadamu dan aku telah menasihatimu." (QS. Al-A'raf: 79) Artinya, aku telah berusaha semampuku untuk memberikan petunjuk kepada kalian, dan sangat menginginkan hal itu dengan perkataanku, perbuatanku, dan niatku.
"Tetapi kamu tidak menyukai orang yang memberi nasihat." (QS. Al-A'raf: 79) Artinya, tabiat kalian tidak mau menerima kebenaran dan tidak menginginkannya. Oleh karena itu, kalian mendapat azab yang pedih, yang terus-menerus menimpa kalian dan berlanjut selamanya. Tidak ada upaya bagiku untuk kalian, dan aku tidak mampu menolak azab dari kalian. Apa yang wajib atasku, yaitu menyampaikan risalah dan memberi nasihat kepada kalian, telah kulakukan dan kusampaikan. Namun, Allah melakukan apa yang Dia kehendaki.
Dari Ibnu Abbas, ia berkata: Ketika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melewati lembah 'Usfan saat haji, beliau bersabda: "Wahai Abu Bakar, lembah apa ini?" Abu Bakar menjawab, "Lembah 'Usfan." Beliau bersabda: "Sungguh, Hud dan Saleh 'alaihimassalam pernah melewatinya dengan mengendarai unta putih yang tali kekangnya dari sabut, kain sarung mereka dari kain kasar, dan selendang mereka dari kulit, sedang bertalbiyah menunaikan haji ke Baitul 'Atiq."
Rasulullah Melewati Lembah Al-Hijr, Daerah Kaum Tsamud, pada Perang Tabuk
Dari Ibnu Umar, ia berkata: Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan kaum muslimin singgah di Tabuk, beliau singgah bersama mereka di Al-Hijr, dekat rumah-rumah kaum Tsamud. Orang-orang mengambil air dari sumur-sumur yang biasa diminum oleh kaum Tsamud, lalu mereka membuat adonan dan memasang kuali-kuali. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan mereka untuk menuangkan isi kuali-kuali itu dan memberikan adonan itu kepada unta-unta, kemudian beliau berangkat bersama mereka hingga singgah di dekat sumur yang biasa diminum oleh unta betina (kaum Saleh). Beliau melarang mereka memasuki tempat tinggal kaum yang diazab, seraya bersabda: "Sesungguhnya aku khawatir kalian akan tertimpa seperti apa yang menimpa mereka, maka janganlah kalian masuk ke tempat mereka."
Dari Abdullah bin Umar, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda ketika berada di Al-Hijr: "Janganlah kalian memasuki tempat orang-orang yang diazab ini, kecuali jika kalian menangis. Jika kalian tidak menangis, maka janganlah kalian memasukinya, agar kalian tidak tertimpa seperti apa yang menimpa mereka." (HR. Bukhari-Muslim dari beberapa jalur)
Dalam sebagian riwayat: Bahwa ketika beliau 'alaihissalam melewati tempat tinggal mereka, beliau menutupi kepalanya, mempercepat laju tunggangannya, dan melarang memasuki tempat tinggal mereka, "kecuali jika kalian menangis."
Dalam riwayat lain: "Jika kalian tidak menangis, maka berpura-puralah menangis, karena khawatir kalian akan tertimpa seperti apa yang menimpa mereka." Shalawat dan salam Allah atasnya.
Amir bin Sa'd radhiyallahu 'anhu berkata: Ketika terjadi pada Perang Tabuk, orang-orang bergegas memasuki tempat tinggal penduduk Al-Hijr. Hal itu sampai kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, lalu beliau menyerukan shalat berjamaah. Ia berkata: Aku mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sedang beliau memegang untanya dan bersabda: "Mengapa kalian memasuki tempat tinggal kaum yang dimurkai Allah?" Seorang lelaki memanggil beliau karena heran terhadap mereka, "Wahai Rasulullah?" Beliau bersabda: "Maukah kuberitahukan kepada kalian sesuatu yang lebih mengherankan dari itu? Seorang lelaki dari kalangan kalian sendiri memberitahukan kepada kalian apa yang terjadi sebelum kalian dan apa yang akan terjadi setelah kalian. Maka, istiqamahlah dan luruslah, karena Allah tidak peduli sedikit pun dengan siksaan kalian. Dan akan datang suatu kaum yang tidak dapat menolak sesuatu pun dari diri mereka."
Sanadnya hasan, namun tidak diriwayatkan dalam Shahihain.
Disebutkan bahwa kaum Saleh berumur panjang. Mereka membangun rumah-rumah dari tanah liat yang hancur sebelum kematian salah seorang dari mereka. Maka, mereka memahat rumah-rumah di gunung-gunung. Disebutkan juga bahwa ketika kaum Tsamud meminta mukjizat kepada Saleh 'alaihissalam, lalu Allah mengeluarkan unta betina dari batu besar untuk mereka, beliau memerintahkan mereka tentang unta itu dan anaknya yang berada di dalam perutnya. Beliau memperingatkan mereka akan azab Allah jika mereka mengganggunya, dan memberitahukan bahwa mereka akan menyembelihnya, yang menjadi sebab kebinasaan mereka.