Kisah Nabi Idris 'alaihissalam
"Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Idris di dalam Kitab (Al-Qur'an). Sesungguhnya dia seorang yang sangat mencintai kebenaran dan seorang nabi, dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi." (Q.S. Maryam: 56-57)
Allah telah memuji Idris 'alaihissalam dan menyifatinya dengan kenabian serta sifat shiddiq (sangat mencintai kebenaran).
Beliau berada dalam silsilah nasab Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, sebagaimana disebutkan oleh banyak ahli nasab.
Nasab Beliau
Diriwayatkan bahwa setelah Nabi Adam wafat, urusan (kenabian dan kepemimpinan) dilanjutkan oleh putranya, Syits 'alaihissalam, yang juga seorang nabi berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban.
Ketika ajal Syits mendekat, ia berwasiat kepada putranya, **Anusy**. Setelahnya, kepemimpinan dilanjutkan oleh putranya, **Qainan**, kemudian putranya lagi, **Mahalalel**.
Setelah Mahalalel wafat, kepemimpinan beralih kepada putranya, **Yard**. Saat ajal Yard mendekat, ia mewasiatkan kepemimpinan kepada putranya, **Khanukh**—yang dikenal sebagai Idris 'alaihissalam menurut pendapat yang masyhur.
Beliau adalah manusia pertama dari keturunan Adam yang dianugerahi kenabian setelah Adam dan Syits 'alaihimassalam.
Keutamaan dan Dakwah Beliau
Ibnu Ishaq menyebutkan bahwa Idris adalah orang pertama yang menulis dengan pena. Sekelompok ulama berpendapat bahwa dialah nabi yang dimaksud dalam hadits Mu'awiyah bin Al-Hakam As-Sulami.
Ketika Mu'awiyah bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tentang ilmu meramal dengan garis di pasir, beliau menjawab: "Sesungguhnya dahulu ada seorang nabi yang membuat garis (untuk ilmu). Barangsiapa yang membuat garis yang sesuai dengan garisnya, maka itulah (ramalannya)."
Banyak ahli tafsir dan hukum meyakini bahwa Idris adalah orang pertama yang membahas ilmu perbintangan dan filsafat. Mereka menyebutnya "Hermes Trismegistus" dan banyak mengarang dusta atas namanya.
Sebagaimana mereka juga telah berdusta atas nama nabi-nabi, ulama, ahli hikmah, dan wali-wali yang lain. Semua klaim yang bertentangan dengan akidah Islam ini adalah batil dan tertolak.
Makna Pengangkatan ke Tempat yang Tinggi
"...dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi." (Q.S. Maryam: 57)
Makna ayat ini sebagaimana yang ditetapkan dalam hadits shahih Bukhari-Muslim tentang Isra' dan Mi'raj, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berjumpa dengan Idris di langit keempat.
Ibnu Jarir meriwayatkan: Ibnu Abbas pernah bertanya kepada Ka'b Al-Ahbar (sedang aku hadir), "Apa maksud firman Allah tentang Idris '...dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi'?"
Ka'b menjawab: "Adapun Idris, Allah mewahyukan kepadanya, 'Sesungguhnya Aku mengangkat (pahala) untukmu setiap hari setara dengan seluruh amal seluruh keturunan Adam'—mungkin yang dimaksud adalah orang-orang pada zamannya.
Idris pun ingin menambah amalnya. Lalu datanglah seorang malaikat sahabatnya. Idris berkata kepadanya, 'Allah telah mewahyukan kepadaku demikian, maka bicaralah kepada Malaikat Maut agar aku bisa menambah amal.'
Sang malaikat pun membawanya di antara kedua sayapnya, lalu terbang bersamanya ke langit. Ketika mereka berada di langit keempat, mereka bertemu dengan Malaikat Maut yang sedang turun.
Sang malaikat pun menyampaikan permintaan Idris kepada Malaikat Maut. Malaikat Maut bertanya, 'Di mana Idris?' Ia menjawab, 'Ia ada di punggungku.'
Malaikat Maut berkata, 'Sungguh mengherankan! Aku diutus dan diperintahkan, "Cabutlah ruh Idris di langit keempat." Aku pun bertanya-tanya, "Bagaimana aku mencabut ruhnya di langit keempat, sedangkan ia di bumi?!"'
Maka Malaikat Maut pun mencabut ruhnya di sana (di langit). Itulah maksud firman Allah, '...dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.'"
Perbedaan Pendapat Ulama
Dari Ibnu Abbas mengenai firman-Nya, "...dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi," beliau berkata: "(Beliau) diangkat ke langit keenam dan wafat di sana." Demikian pula penduduk Adh-Dhahhak.
Namun, hadits mutawatir yang menyatakan bahwa Idris berada di langit keempat adalah lebih shahih. Ini adalah pendapat Mujahid dan sejumlah ulama lainnya.
Al-Hasan Al-Bashri berkata tentang firman-Nya, "...dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi," beliau berkata: "(Diangkat) ke surga." Wallahu a'lam.
Demikian kisah Nabi Idris 'alaihissalam, seorang nabi yang shiddiq dan diangkat Allah ke kedudukan yang mulia. Kisahnya mengajarkan tentang keutamaan ilmu, amal shaleh, dan ketawadukan dalam beribadah kepada Allah.
Terjemahan tentang Nabi Idris 'alaihissalam telah selesai.