Beliau adalah Nuh bin Lamak bin Mutawasylikh (Matushalakh) bin Khanukh—yaitu Idris—bin Yard bin Mahalalel bin Qainan bin Anusy bin Syits bin Adam 'alaihissalam, bapak seluruh manusia.
Kelahirannya terjadi seratus dua puluh enam tahun setelah wafatnya Adam, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Jarir dan lainnya.
Dari Zaid bin Sallam, ia berkata: Aku mendengar Abu Sallam, ia berkata: Aku mendengar Abu Umamah, ia berkata: Seorang laki-laki bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah Adam seorang nabi?" Beliau menjawab, "Ya, seorang nabi yang diajak bicara (oleh Allah)." Laki-laki itu bertanya lagi, "Berapa jarak waktu antara Adam dan Nuh?" Beliau menjawab, "Sepuluh abad."
Dalam Shahih Al-Bukhari, dari Ibnu Abbas, ia berkata: "Antara Adam dan Nuh terdapat sepuluh abad, semuanya berada di atas Islam."
Jika yang dimaksud dengan "abad" adalah seratus tahun—seperti pemahaman kebanyakan orang—maka jarak antara keduanya adalah seribu tahun.
Namun jika yang dimaksud dengan "abad" adalah generasi manusia, sebagaimana dalam firman Allah: "Dan berapa banyaknya kaum sesudah Nuh telah Kami binasakan" (QS. Al-Isra': 17), maka generasi sebelum Nuh memang berumur sangat panjang. Berdasarkan ini, jarak antara Adam dan Nuh bisa mencapai ribuan tahun. Wallahu a'lam.
Pengutusan Beliau
Allah mengutus Nuh 'alaihissalam ketika manusia telah menyembah berhala dan thaghut, serta tenggelam dalam kesesatan dan kekufuran. Allah mengutusnya sebagai rahmat bagi hamba-hamba-Nya. Ia adalah rasul pertama yang diutus kepada penduduk bumi, sebagaimana yang akan dikatakan penghuni mahsyar kepadanya pada hari Kiamat. Kaumnya disebut Bani Rasib, menurut Ibnu Jubair dan lainnya.
Allah telah menyebutkan kisahnya, keadaan kaumnya, serta azab yang diturunkan kepada orang-orang kafir berupa banjir besar (thufan), dan bagaimana Dia menyelamatkan Nuh beserta penumpang bahteranya di beberapa tempat dalam Kitab-Nya yang mulia.
Allah Ta'ala berfirman dalam Surah Hud: "Dan sungguh, Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, (dia berkata), 'Sesungguhnya aku ini pemberi peringatan yang nyata bagi kamu, agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab pada hari yang sangat pedih.' Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya, 'Kami tidak melihat kamu melainkan seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki suatu kelebihan apa pun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang dusta.'" (QS. Hud: 25-27)
Ringkasan Kisah Beliau dengan Kaumnya
Kami telah menyebutkan dari Ibnu Abbas bahwa antara Adam dan Nuh terdapat sepuluh abad, semuanya berada di atas Islam (HR. Al-Bukhari). Kami juga telah menjelaskan bahwa makna "abad" adalah generasi atau suatu masa.
Setelah berlalunya abad-abad saleh itu, mulailah terjadi hal-hal yang menyebabkan penduduk zaman itu jatuh ke dalam penyembahan berhala.
Firman Allah: "Dan mereka (kaum Nuh) berkata, 'Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, Suwa', Yaghuts, Ya'uq, dan Nasr.'" (QS. Nuh: 23)
Siapakah Wadd, Suwa', Yaghuts, Ya'uq, dan Nasr itu?
Diriwayatkan: "Itu adalah nama-nama orang saleh dari kaum Nuh. Ketika mereka meninggal, setan membisikkan kepada kaum mereka, 'Dirikanlah patung-patung di tempat-tempat pertemuan mereka, dan namailah patung-patung itu dengan nama mereka.' Maka kaum itu pun melakukannya. Patung-patung itu belum disembah sampai orang-orang (yang mengenal asal-usulnya) itu meninggal dan ilmu pun dilupakan, barulah patung-patung itu disembah."
Ibnu Jarir dalam tafsirnya berkata: "Mereka adalah orang-orang saleh yang hidup antara Adam dan Nuh, dan mereka memiliki pengikut. Ketika mereka meninggal, para pengikutnya berkata, 'Seandainya kita membuat gambar mereka, tentu akan lebih mendorong kita untuk beribadah ketika kita mengingat mereka.' Maka mereka pun membuat gambar-gambar itu. Ketika generasi itu meninggal dan datang generasi berikutnya, setan pun menyusup dan berkata, 'Sesungguhnya dahulu mereka (nenek moyang) menyembah patung-patung ini, dan dengan perantaranya hujan turun.' Maka merekapun menyembahnya."
Dari 'Urwah bin Az-Zubair, ia berkata: "Wadd, Yaghuts, Ya'uq, Suwa', dan Nasr adalah anak-anak Adam. Wadd adalah yang paling tua dan paling berbakti kepada Adam."
Dari Abu Ja'far, ia berkata: "(Mereka menceritakan) tentang Wadd, seorang lelaki saleh yang sangat dicintai kaumnya. Ketika ia meninggal, mereka berkumpul di sekitar kuburnya di wilayah Babilonia dan bersedih atasnya. Ketika Iblis melihat kesedihan mereka, ia menyamar dalam wujud manusia lalu berkata, 'Aku melihat kesedihan kalian atas orang ini. Maukah kalian aku buatkan patung yang menyerupainya agar bisa diletakkan di tempat pertemuan kalian, sehingga kalian selalu mengingatnya?' Mereka menjawab, 'Ya.' Maka Iblis pun membuat patung yang menyerupainya. Mereka meletakkannya di tempat pertemuan mereka dan mulai mengingatnya. Ketika Iblis melihat betapa mereka terus mengingatnya, ia berkata lagi, 'Maukah kalian aku buatkan untuk setiap rumah tangga kalian sebuah patung serupa, agar berada di rumah masing-masing dan kalian selalu mengingatnya?' Mereka menjawab, 'Ya.' Maka Iblis membuatkan patung untuk setiap keluarga. Mereka pun melakukannya dan terus mengingat si mayit melalui patung itu. Anak-anak mereka yang tumbuh kemudian melihat apa yang dilakukan orang tua mereka. Keturunan terus berlanjut dan jejak pengingatan terhadap si mayit pun memudar, hingga akhirnya mereka menjadikan patung-patung itu sebagai sesembahan selain Allah. Maka, yang pertama kali disembah selain Allah adalah berhala 'Wadd' yang mereka namai demikian."
Maksud dari penjelasan ini adalah setiap berhala dari nama-nama tersebut disembah oleh sekelompok manusia. Disebutkan bahwa seiring berjalannya waktu dan panjangnya masa, mereka membuat patung-patung itu berbentuk tiga dimensi agar lebih kokoh, yang kemudian disembah selain Allah 'Azza wa Jalla.
Telah tetap dalam Shahihain (Bukhari-Muslim) bahwa ketika disebutkan di hadapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tentang sebuah gereja yang dilihat Ummu Salamah dan Ummu Habibah di negeri Habasyah yang bernama Mariyah, dan mereka menceritakan keindahannya serta gambar-gambar di dalamnya, beliau bersabda: "Mereka itu (kaum terdahulu), jika seorang lelaki saleh di antara mereka meninggal, mereka membangun masjid di atas kuburnya, lalu membuat gambar orang itu di dalamnya. Mereka itulah sejahat-jahat makhluk di sisi Allah 'Azza wa Jalla."
Misi Dakwah Nabi Nuh
Intinya, ketika kerusakan telah merata di muka bumi dan negeri-negeri dipenuhi dengan penyembahan berhala, Allah mengutus hamba dan rasul-Nya, Nuh 'alaihissalam. Ia menyeru kepada penyembahan hanya kepada Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan melarang penyembahan kepada selain-Nya. Beliaulah rasul pertama yang diutus Allah kepada penduduk bumi.
Sebagaimana yang tetap dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dalam hadits syafaat: "(Manusia) akan mendatangi Adam dan berkata, 'Wahai Adam, engkau adalah bapak manusia. Allah menciptakanmu dengan tangan-Nya, meniupkan ruh-Nya ke dalam dirimu, memerintahkan para malaikat untuk sujud kepadamu, dan menempatkanmu di surga. Tidakkah engkau memberikan syafaat untuk kami kepada Tuhanmu? Tidakkah engkau melihat keadaan kami sekarang?' Adam menjawab, 'Tuhanku telah murka dengan kemurkaan yang sangat, yang belum pernah terjadi sebelumnya dan tidak akan terjadi lagi setelahnya. Dia melarangku mendekati pohon (terlarang) tetapi aku melanggarnya. Diriku, diriku! Pergilah kalian kepada selainku, pergilah kepada Nuh.' Maka mereka pun mendatangi Nuh dan berkata, 'Wahai Nuh, engkau adalah rasul pertama yang diutus kepada penduduk bumi, dan Allah menjulukimu hamba yang banyak bersyukur. Tidakkah engkau melihat keadaan kami? Tidakkah engkau melihat apa yang menimpa kami? Tidakkah engkau memberikan syafaat untuk kami kepada Tuhanmu?' Nuh menjawab, 'Tuhanku telah murka pada hari ini dengan kemurkaan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan tidak akan terjadi lagi setelahnya. Diriku, diriku!...'"
Ketika Allah mengutus Nuh 'alaihissalam, beliau menyeru mereka untuk mengesakan ibadah hanya kepada Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya; agar tidak menyembah berhala, patung, atau thaghut di samping-Nya; serta agar mengakui keesaan-Nya, bahwa tiada Tuhan selain Dia dan tiada Rabb selain-Nya. Sebagaimana Allah perintahkan kepada para rasul setelahnya, yang semuanya berasal dari keturunannya.
Sebagaimana firman Allah: "Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan." (QS. As-Saffat: 77)
Dan firman-Nya tentang Nuh dan Ibrahim: "Dan Kami anugerahkan kepada keduanya keturunan yang melaksanakan kenabian dan Kitab." (QS. Al-Hadid: 26) Artinya, setiap nabi setelah Nuh berasal dari keturunannya, demikian pula (para nabi) dari keturunan Ibrahim.
Oleh karena itu, Nuh berkata kepada kaumnya: "Sembahlah Allah, tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab pada hari yang besar (kiamat)." (QS. Al-A'raf: 59)
Dan Nuh berkata: "Ia (Nuh) berkata, 'Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku siang dan malam, tetapi seruanku itu justru menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (untuk beriman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke telinganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya), dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat. Kemudian aku menyeru mereka (lagi) dengan terang-terangan, kemudian aku menyeru mereka secara terang-terangan dan dengan diam-diam, maka aku katakan kepada mereka, 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu.' Mengapa kamu tidak berharap akan kebesaran Allah?" (QS. Nuh: 5-13)
Nuh menyebutkan bahwa ia telah menyeru mereka kepada Allah dengan berbagai macam dakwah, siang dan malam, sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, dengan janji nikmat di satu waktu dan ancaman di waktu lain. Namun semua itu tidak berhasil pada kebanyakan mereka. Mereka tetap dalam kesesatan dan kedurhakaan, menyembah berhala dan patung, serta terus memusuhinya setiap saat, merendahkan dirinya dan para pengikutnya, mengancam mereka dengan rajam dan pengusiran, serta menyakiti mereka dengan sangat.
"Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata," yaitu para pembesar dan pemimpin mereka: "Sesungguhnya kami memandang kamu berada dalam kesesatan yang nyata." Nuh menjawab, "Hai kaumku, tidak ada padaku kesesatan sedikit pun, tetapi aku adalah seorang utusan dari Tuhan semesta alam." (QS. Al-A'raf: 60-61)
Artinya, "Aku tidak seperti yang kalian sangka, yaitu sesat. Aku justru berada di atas petunjuk yang lurus, seorang utusan dari Rabb semesta alam, yaitu Dzat yang berfirman kepada sesuatu 'Jadilah!' maka jadilah ia."
"Aku menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepadamu dan aku memberi nasihat kepadamu, dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui." (QS. Al-A'raf: 62)
Inilah sifat seorang rasul: ia harus seorang yang fasih (dalam menyampaikan), pemberi nasihat, dan manusia yang paling mengetahui tentang Allah 'Azza wa Jalla.
Mereka juga berkata kepadanya: "Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya, 'Kami tidak melihat kamu melainkan seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki suatu kelebihan apa pun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang dusta.'" (QS. Hud: 27)
Mereka heran bahwa seorang manusia bisa menjadi rasul, dan merendahkan para pengikutnya, yang mereka anggap orang-orang hina.
Dikatakan bahwa para pengikut Nuh adalah orang-orang biasa dan lemah, sebagaimana dikatakan Heraclius. Mereka adalah pengikut para rasul, dan itu tidak lain karena tidak ada halangan bagi mereka untuk mengikuti kebenaran.
Ucapan mereka "yang lekas percaya saja" maksudnya, begitu diajak mereka langsung menerima tanpa pertimbangan matang. Justru celaan mereka ini merupakan pujian bagi para pengikut Nuh. Kebenaran yang nyata tidak memerlukan pertimbangan, pemikiran, atau perenungan yang lama, tetapi wajib diikuti dan ditaati begitu ia tampak.
Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memuji Ash-Shiddiq (Abu Bakar) dengan berkata: "Tidak ada seorang pun yang aku ajak kepada Islam kecuali ia selalu ragu, kecuali Abu Bakar. Ia tidak pernah ragu sedikit pun."
Orang-orang kafir kaum Nuh berkata kepada Nuh dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Dan kami tidak melihat kamu memiliki suatu kelebihan apa pun atas kami." (QS. Hud: 27) Artinya, tidak tampak pada kalian keistimewaan apapun setelah kalian beriman.
"Bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang dusta." Nuh berkata, "Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku, dan diberi-Nya aku rahmat dari sisi-Nya, tetapi rahmat itu disamarkan bagimu. Apa akan kami paksakan kamu menerimanya, padahal kamu tidak menyukainya?" (QS. Hud: 28)
Ini adalah sikap lembut Nuh dalam berdialog dan penuh kasih sayang dalam mengajak mereka kepada kebenaran, sebagaimana firman Allah: "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang terbaik." (QS. An-Nahl: 125)
Dalam ayat ini, Nuh berkata kepada mereka: "Bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku, dan diberi-Nya aku rahmat dari sisi-Nya," yaitu kenabian dan kerasulan. "Tetapi rahmat itu disamarkan bagimu," maksudnya mereka tidak memahaminya dan tidak mendapat petunjuk kepadanya. "Apa akan kami paksakan kamu menerimanya," maksudnya, apakah kami akan memaksakannya kepada kalian? "Padahal kamu tidak menyukainya," artinya, tidak ada cara bagiku menghadapi kalian dalam keadaan seperti ini.
"Dan (dia berkata), 'Hai kaumku, aku tidak meminta harta benda kepada kamu (sebagai upah) bagi seruanku. Upahku hanyalah dari Allah..." (QS. Hud: 29)
Artinya, "Aku tidak mengharapkan upah dari kalian atas penyampaianku, yang membawa manfaat bagi dunia dan akhirat kalian. Aku hanya meminta balasan dari Allah, yang balasan-Nya lebih baik dan lebih kekal bagiku daripada apa yang kalian berikan."
"Dan aku tidak akan mengusir orang-orang yang beriman. Sesungguhnya mereka akan bertemu dengan Tuhannya, tetapi aku memandangmu suatu kaum yang tidak mengetahui." (QS. Hud: 29)
Sepertinya mereka memintanya untuk menjauhkan orang-orang beriman itu darinya, dan berjanji akan berkumpul dengannya jika ia melakukannya. Namun Nuh menolak. Ia berkata, "Sesungguhnya mereka akan bertemu dengan Tuhannya," maksudnya, aku takut jika aku mengusir mereka, mereka akan mengadu kepada Allah 'Azza wa Jalla. Oleh karena itu, Nuh berkata: "Dan (dia berkata), 'Hai kaumku, siapakah yang dapat menolongku dari (azab) Allah jika aku mengusir mereka...'" (QS. Hud: 30)
"Dan aku tidak mengatakan kepada kamu (bahwa) aku mempunyai gudang-gudang rezeki dan kekayaan dari Allah, dan aku tidak mengetahui yang gaib, dan tidak (pula) aku mengatakan, 'Sesungguhnya aku adalah malaikat,' dan tidak juga aku mengatakan kepada orang-orang yang dipandang hina oleh penglihatanmu, 'Sekali-kali Allah tidak akan mendatangkan kebaikan kepada mereka.' Allah lebih mengetahui apa yang ada pada diri mereka; sesungguhnya aku, kalau begitu, benar-benar termasuk orang-orang yang zalim." (QS. Hud: 31)
Artinya, "Aku hanyalah seorang hamba dan utusan. Aku tidak mengetahui ilmu Allah kecuali yang Dia ajarkan kepadaku, tidak mampu kecuali apa yang Dia berikan kemampuan, dan tidak memiliki manfaat atau mudarat bagi diriku sendiri kecuali apa yang Allah kehendaki."
"Dan tidak (pula) aku mengatakan kepada orang-orang yang dipandang hina oleh penglihatanmu," yaitu para pengikutnya, "'Allah sekali-kali tidak akan mendatangkan kebaikan kepada mereka.' Allah lebih mengetahui apa yang ada pada diri mereka; sesungguhnya aku, kalau begitu, benar-benar termasuk orang-orang yang zalim."
Maksudnya, aku tidak bersaksi atas mereka bahwa mereka tidak akan mendapatkan kebaikan di sisi Allah pada hari Kiamat. Allah lebih mengetahui keadaan mereka dan akan membalas mereka sesuai apa yang ada dalam diri mereka. Jika kebaikan, maka kebaikan; jika keburukan, maka keburukan.
Lamanya Dakwah dan Kesabaran Nuh
"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim." (QS. Al-Ankabut: 14)
Artinya, meskipun dengan masa yang sangat panjang ini, hanya sedikit dari mereka yang beriman. Setiap kali satu generasi punah, mereka mewasiatkan kepada generasi setelahnya untuk tidak beriman kepada Nuh, memeranginya, dan menentangnya.
Seorang ayah, ketika anaknya telah dewasa dan memahami ucapannya, ia berwasiat secara diam-diam agar anaknya tidak beriman kepada Nuh selamanya. Watak mereka menolak untuk beriman dan mengikuti kebenaran. Oleh karena itu, Allah berfirman: "Dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang jahat dan sangat ingkar." (QS. Nuh: 27)
Oleh karena itu, mereka berkata: "Mereka berkata, 'Hai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami azab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar.' Nuh menjawab, 'Hanyalah Allah yang akan mendatangkan azab itu kepada kamu jika Dia menghendaki, dan kamu sekali-kali tidak dapat melepaskan diri.'" (QS. Hud: 32-33)
Artinya, hanya Allah 'Azza wa Jalla yang mampu melakukan itu. Dialah yang tidak ada sesuatu pun yang sulit bagi-Nya, tidak ada urusan yang memberatkan-Nya. Dialah yang berfirman kepada sesuatu "Jadilah!" maka jadilah ia.
"Dan tidaklah bermanfaat kepadamu nasihatku jika aku hendak memberi nasihat kepada kamu, sekiranya Allah hendak menyesatkan kamu. Dia adalah Tuhanmu, dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan." (QS. Hud: 34)
Artinya, siapa yang Allah kehendaki kesesatannya, maka tidak ada seorang pun yang dapat memberinya petunjuk. Dialah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyesatkan siapa yang Dia kehendaki. Dialah Maha Pelaksana atas apa yang Dia kehendaki, Mahaperkasa, Mahabijaksana, Maha Mengetahui siapa yang berhak mendapat petunjuk dan siapa yang berhak mendapat kesesatan. Dia memiliki hikmah yang sempurna dan hujjah yang meyakinkan.
"Dan diwahyukan kepada Nuh, 'Sesungguhnya tidak akan beriman lagi dari kaummu, kecuali orang yang telah beriman (saja), karena itu janganlah kamu bersedih hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan.'" (QS. Hud: 36)
Ini merupakan penghiburan bagi Nuh 'alaihissalam mengenai kaumnya, bahwa tidak akan ada lagi yang beriman dari mereka selain yang telah beriman. Maksudnya, jangan bersedih atas apa yang terjadi, karena pertolongan sudah dekat dan berita (kemenangan) menakjubkan.
Pembuatan Bahtera dan Peristiwa Banjir Besar
"Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim itu; sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan." (QS. Hud: 37)
Hal itu karena Nuh 'alaihissalam telah putus asa dari kebaikan dan keselamatan mereka. Ia melihat tidak ada kebaikan pada mereka, dan mereka telah menyakitinya, menentangnya, dan mendustakannya dengan segala cara, baik perbuatan maupun ucapan. Maka ia berdoa dengan doa kemurkaan, lalu Allah mengabulkan doanya dan memenuhi permintaannya.
Allah Ta'ala berfirman: "Dan sesungguhnya Nuh telah benar-benar menyeru Kami, maka sesungguhnya sebaik-baik yang memperkenankan (adalah Kami). Dan Kami telah menyelamatkannya dan pengikut-pengikutnya dari bencana yang besar." (QS. Ash-Shaffat: 75-76)
Dan Allah berfirman: "Maka dia mengadu kepada Tuhannya, 'Bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu tolonglah (aku).'" (QS. Al-Qamar: 10)
Maka terkumpullah dosa-dosa mereka: kekufuran, kefasikan, dan doa nabi mereka atas mereka. Saat itulah, Allah memerintahkannya untuk membuat bahtera (fulk)—yaitu kapal besar yang belum pernah ada bandingannya sebelumnya dan tidak akan ada yang serupa setelahnya.
Allah memberitahukan kepadanya bahwa ketika keputusan-Nya datang dan siksaan-Nya yang tidak dapat ditolak oleh kaum yang durhaka itu turun, maka janganlah Nuh mengulangi pembicaraan tentang mereka atau meminta pertimbangan lagi. Sebab, dikhawatirkan rasa iba menyergapnya terhadap kaumnya ketika menyaksikan langsung azab yang menimpa mereka, karena berita yang didengar tidak sama dengan menyaksikan langsung.
Oleh karena itu, Allah berfirman: "...dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim itu; sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan. Dan mulailah Nuh membuat bahtera. Dan setiap kali pemimpin dari kaumnya berjalan melewati Nuh, mereka mengejeknya." (QS. Hud: 37-38)
Artinya, mereka mengolok-oloknya karena meragukan akan terjadinya ancaman yang diberikan Nuh.
"Berkata Nuh, 'Jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kami (pun) mengejekmu sebagaimana kamu mengejek (kami).'" (QS. Hud: 38)
Artinya, kamilah yang mengejek kalian dan heran terhadap kalian, atas kelanjutan kekufuran dan penentangan kalian yang pasti akan mendatangkan azab bagi kalian dan menimpa kalian.
"Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya dan yang akan ditimpa azab yang kekal." (QS. Hud: 39)
Sifat mereka adalah kekufuran yang keras dan penentangan yang parah di dunia. Demikian pula di akhirat, mereka juga akan mengingkari bahwa pernah datang seorang rasul kepada mereka.
Dari Abu Sa'id, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Nuh 'alaihissalam dan umatnya akan datang. Allah 'Azza wa Jalla berfirman, 'Apakah engkau telah menyampaikan (risalah)?' Ia menjawab, 'Ya, wahai Rabb.' Allah berfirman kepada umatnya, 'Apakah telah sampai kepada kalian?' Mereka menjawab, 'Tidak, tidak ada seorang nabi pun yang datang kepada kami.' Allah berfirman kepada Nuh, 'Siapa yang akan menjadi saksi bagimu?' Ia menjawab, 'Muhammad dan umatnya.' Maka Muhammad dan umatnya bersaksi bahwa ia telah menyampaikan."
Inilah makna firman Allah: "Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu." (QS. Al-Baqarah: 143)
Sebagian ulama salaf berkata: Setelah Allah mengabulkan doa Nuh, Dia memerintahkannya untuk menanam pohon untuk dibuat bahtera. Ia menanamnya dan menunggu selama seratus tahun, kemudian merangkainya dalam seratus tahun lagi. Ada yang mengatakan empat puluh tahun. Wallahu a'lam.
Ats-Tsauri berkata: Allah memerintahkannya agar panjang bahtera itu delapan puluh hasta dan lebarnya lima puluh hasta. Bahtera itu dilapisi ter dari luar dan dalam, serta diberi haluan yang lancip untuk membelah air.
Qatadah berkata: Panjangnya tiga ratus hasta dan lebarnya lima puluh hasta. Inilah yang disebutkan dalam Taurat.
Al-Hasan Al-Bashri berkata: Enam ratus hasta panjangnya dan tiga ratus hasta lebarnya.
Dari Ibnu Abbas: Seribu dua ratus hasta panjangnya dan enam ratus hasta lebarnya.
Ada pula yang mengatakan panjangnya dua ribu hasta dan lebarnya seratus hasta. Tingginya tiga puluh hasta, terdiri dari tiga tingkat, masing-masing sepuluh hasta. Tingkat paling bawah untuk hewan ternak dan binatang buas, tingkat tengah untuk manusia, dan tingkat paling atas untuk burung. Pintunya ada di samping, dan memiliki atap penutup dari atas yang menutup rapat.
Allah Ta'ala berfirman: "Nuh berkata, 'Ya Tuhanku, tolonglah aku, karena mereka mendustakan aku.' Maka Kami wahyukan kepadanya, 'Buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami.'" (QS. Al-Mu'minun: 26-27)
Artinya, dengan perintah Kami kepadamu dan di bawah pengawasan Kami atas pembuatannya, serta Kami menyaksikannya agar Kami membimbingmu kepada kebenaran dalam pembuatannya.
"Maka apabila perintah Kami telah datang dan dapur (air) telah memancar, maka masukkanlah ke dalam bahtera itu sepasang (jantan dan betina) dari tiap-tiap (jenis), dan (masukkan pula) keluargamu, kecuali orang yang telah lebih dahulu ditetapkan (akan ditimpa azab) di antara mereka. Dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim, karena sesungguhnya mereka akan ditenggelamkan." (QS. Al-Mu'minun: 27)
Allah memerintahkan kepadanya dengan perintah-Nya yang agung dan tinggi, bahwa ketika keputusan-Nya datang dan siksaan-Nya turun, hendaklah ia membawa di dalam bahtera ini sepasang (jantan dan betina) dari setiap jenis hewan, serta segala yang bernyawa lainnya, baik untuk dimakan maupun tidak, demi kelangsungan keturunannya. Juga agar membawa keluarganya, yaitu ahli baitnya, kecuali yang telah ditetapkan keputusan atasnya, yaitu orang yang kafir. Sebab, doa yang tidak tertolak telah berlaku padanya, dan pasti baginya siksaan yang tidak dapat ditolak. Allah juga memerintahkan agar Nuh tidak memohon lagi untuk mereka ketika ia menyaksikan azab besar yang telah Allah tetapkan atas mereka, Dzat Pelaksana atas apa yang Dia kehendaki.
Yang dimaksud dengan "at-tannur" (dapur/tungku) menurut mayoritas ulama adalah permukaan bumi. Artinya, bumi memancarkan air dari segala penjurunya, hingga memancar dari tempat-tempat sumber api (tanur).
Firman Allah: "Hingga apabila perintah Kami datang dan dapur telah memancarkan air, Kami berfirman, 'Muatkanlah ke dalam (bahtera) itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya, dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman.' Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit." (QS. Hud: 40)
Ini adalah perintah agar ketika siksaan menimpa mereka, ia memuat ke dalam bahtera sepasang dari setiap jenis.
Firman-Nya "dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya," yaitu orang yang doa (Nuh) yang mustajab telah berlaku padanya, yaitu orang kafir di antara mereka. Di antaranya adalah putranya, Yam, yang tenggelam sebagaimana akan dijelaskan.
"Dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman," maksudnya, bawalah pula orang-orang yang beriman kepadanya dari umatnya.
Allah Ta'ala berfirman: "Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit." (QS. Hud: 40)
Ini meskipun masa dakwahnya panjang dan ia tinggal di tengah-tengah mereka, dengan seruan yang sungguh-sungguh siang dan malam, dengan berbagai macam ucapan dan bujukan, serta ancaman dan peringatan di satu sisi, dan janji serta harapan di sisi lain.
Ulama berbeda pendapat tentang jumlah orang yang bersama Nuh di bahtera. Dari Ibnu Abbas, mereka berjumlah delapan puluh orang bersama istri-istri mereka. Dari Ka'b Al-Ahbar, mereka berjumlah tujuh puluh dua orang. Ada pula yang mengatakan sepuluh orang.
Adapun istri Nuh, dikatakan bahwa ia tenggelam bersama yang tenggelam lainnya. Ia termasuk yang telah ditetapkan ketetapan atasnya karena kekufurannya. Ia adalah ibu semua anak-anak Nuh, yaitu Ham, Sam, Yafits, Yam—yang oleh Ahli Kitab disebut Kana'an, dialah yang tenggelam—dan 'Abir.
Allah Ta'ala berfirman: "Maka apabila kamu dan orang-orang yang beserta kamu telah berada di atas bahtera itu, maka ucapkanlah, 'Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami dari orang-orang yang zalim.' Dan berdoalah, 'Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkati, dan Engkau adalah sebaik-baik yang memberi tempat.'" (QS. Al-Mu'minun: 28-29)
Allah memerintahkannya untuk memuji Rabb-nya atas apa yang Dia mudahkan baginya dari bahtera ini, yang dengan itu Dia menyelamatkannya, membedakan antara dirinya dengan kaumnya, dan memuaskan hatinya dari orang-orang yang menentang dan mendustakannya.
Sebagaimana firman Allah: "Dan Yang menciptakan semua yang berpasang-pasangan dan menjadikan untukmu kapal dan binatang ternak yang kamu tunggangi. Supaya kamu duduk di atas punggungnya kemudian kamu ingat nikmat Tuhanmu apabila kamu telah duduk di atasnya; dan supaya kamu mengucapkan, 'Mahasuci (Allah) yang telah menundukkan semua ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami.'" (QS. Az-Zukhruf: 12-14)
Demikianlah, kita diperintahkan untuk berdoa di awal setiap urusan agar membawa kebaikan dan berkah, serta berakhir dengan baik.
Nuh 'alaihissalam pun menaati wasiat ini: "Dan Nuh berkata, 'Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.'" (QS. Hud: 41)
Artinya, dengan menyebut nama Allah saat memulai perjalanan dan mengakhirinya.
Allah Ta'ala berfirman: "Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung-gunung." (QS. Hud: 42)
Hal itu karena Allah menurunkan hujan dari langit, yang belum pernah dikenal bumi sebelumnya dan tidak akan pernah turun lagi setelahnya. Hujan itu seperti mulut geriba (yang deras). Allah juga memerintahkan bumi, maka memancarlah air dari seluruh celah dan penjurunya.
Sebagaimana firman Allah: "Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan air yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, maka bertemulah air-air itu untuk satu urusan yang telah ditetapkan. Dan Kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan pasak." (QS. Al-Qamar: 11-13)
"Al-Aushur" (pasak) maksudnya adalah paku.
"Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung-gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil, 'Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang kafir.'" (QS. Hud: 42)
Dan bahtera itu berlayar di bawah pengawasan Kami, yaitu dengan penjagaan, pemeliharaan, pengawasan, dan penyaksian Kami atasnya, sebagai balasan bagi orang yang kafir.
Ibnu Jarir dan lainnya menyebutkan bahwa banjir besar terjadi pada tanggal tiga belas bulan Abib (Agustus) menurut penanggalan Qibti.
Allah berfirman: "Sesungguhnya ketika air naik (sampai ke gunung) Kami bawa (nenek moyang) kamu ke dalam bahtera." (QS. Al-Haqqah: 11) yaitu bahtera. "Agar Kami jadikan peristiwa itu peringatan bagi kamu dan agar diperhatikan oleh telinga yang mau mendengar." (QS. Al-Haqqah: 12)
Sebagian ahli tafsir berkata: Air naik lima belas hasta di atas gunung tertinggi di bumi. Inilah yang disebutkan oleh Ahli Kitab. Ada yang mengatakan delapan puluh hasta. Air menutupi seluruh bumi, panjang dan lebarnya, dataran rendah dan tinggi, gunung-gunung, padang pasir, dan tanah tandus. Tidak tersisa satu pun makhluk hidup di muka bumi yang masih bernyawa, baik kecil maupun besar.
Imam Malik meriwayatkan dari Zaid bin Aslam: "Penduduk zaman itu telah memenuhi dataran rendah dan gunung. Tidak ada satu jengkal pun tanah di bumi melainkan ada pemilik dan penguasanya."
"Dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil, 'Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang kafir.' Anaknya menjawab, 'Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah.' Nuh berkata, 'Tidak ada yang melindungi pada hari ini dari azab Allah, selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang.' Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan." (QS. Hud: 42-43)
Anak ini adalah Yam, saudara Sam. Dikatakan namanya adalah Kana'an. Ia adalah seorang kafir yang berbuat buruk. Ia menyelisihi ayahnya dalam agama dan keyakinan, sehingga binasa bersama orang-orang yang binasa.
Ini menunjukkan bahwa orang yang selamat bersama ayahnya adalah orang asing dalam hal nasab, tetapi karena mereka sepakat dalam agama dan keyakinan.
"Dan difirmankan, 'Hai bumi, telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah.' Dan air pun disurutkan, perintah pun diselesaikan, dan bahtera itu pun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan, 'Binasalah orang-orang yang zalim.'" (QS. Hud: 44)
Artinya, setelah penghuni bumi binasa dan tidak tersisa seorang pun yang menyembah selain Allah 'Azza wa Jalla, Allah memerintahkan bumi untuk menelan airnya, dan memerintahkan langit untuk berhenti, yaitu menahan hujan.
Allah berfirman: "Maka mereka mendustakan Nuh, kemudian Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera, dan Kami jadikan mereka itu pemegang kekuasaan dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu." (QS. Yunus: 73)
Kemudian Allah berfirman: "Difirmankan, 'Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkahan dari Kami atasmu dan atas umat-umat (yang mukmin) dari orang-orang yang bersamamu. Dan ada (pula) umat-umat yang Kami beri kesenangan pada mereka (dalam kehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab yang pedih dari Kami.'" (QS. Hud: 48)
Ini adalah perintah kepada Nuh 'alaihissalam, ketika air telah surut dari permukaan bumi dan memungkinkan untuk berjalan dan menetap di atasnya, agar ia turun dari bahtera yang telah berhenti setelah perjalanan besarnya, di atas Gunung Judi—sebuah gunung terkenal di wilayah Jazirah.
"Dengan selamat sejahtera dan penuh keberkahan dari Kami," maksudnya, turunlah dalam keadaan selamat dan penuh berkah atasmu dan atas umat-umat dari orang-orang yang akan lahir nanti, yaitu dari keturunanmu. Sesungguhnya Allah tidak menjadikan keturunan dan anak cucu bagi seorang pun dari orang-orang beriman yang bersamanya, kecuali Nuh 'alaihissalam.
Allah berfirman: "Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan." (QS. Ash-Saffat: 77)
Maka semua yang ada di muka bumi hari ini, dari berbagai bangsa Bani Adam, merujuk kepada ketiga anak Nuh: Sam, Ham, dan Yafits.
Diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sam adalah bapak orang Arab, Ham adalah bapak orang Habasyah, dan Yafits adalah bapak orang Romawi." (HR. At-Tirmidzi)
Dari Ibnu Abbas, ia berkata: "Bersama Nuh di bahtera ada delapan puluh orang laki-laki beserta keluarga mereka. Mereka berada di bahtera selama seratus lima puluh hari. Allah mengarahkan bahtera ke Mekah, lalu berputar mengelilingi Baitullah selama empat puluh hari, kemudian mengarahkannya ke Judi dan berlabuh di sana."
Nuh 'alaihissalam mengutus burung gagak untuk membawa kabar tentang bumi. Ia pergi dan hinggap di bangkai, sehingga terlambat kembali. Kemudian Nuh mengutus burung merpati, yang kembali membawa setangkai daun zaitun dan kakinya berlumuran lumpur. Maka Nuh tahu bahwa air telah surut. Ia turun ke bawah Gunung Judi, membangun sebuah desa, dan menamainya "Tsamanin" (delapan puluh). Suatu hari, ketika mereka sedang makan bersama, tiba-tiba lidah mereka berubah menjadi delapan puluh bahasa, salah satunya bahasa Arab. Sebagian dari mereka tidak memahami perkataan sebagian yang lain. Maka Nuh 'alaihissalam menjadi penerjemah bagi mereka.
Qatadah dan lainnya berkata: Mereka menaiki bahtera pada tanggal sepuluh bulan Rajab, berlayar selama seratus lima puluh hari, dan berlabuh di Gunung Judi selama sebulan. Mereka keluar dari bahtera pada hari 'Asyura (10 Muharram).
Dari Abu Hurairah, ia berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melewati sekelompok orang Yahudi yang sedang berpuasa pada hari 'Asyura. Beliau bertanya, "Puasa apa ini?" Mereka menjawab, "Ini adalah hari ketika Allah menyelamatkan Musa dan Bani Israil dari tenggelam, dan Firaun ditenggelamkan. Ini juga hari ketika bahtera (Nuh) berlabuh di atas Gunung Judi. Maka Nuh dan Musa berpuasa sebagai syukur kepada Allah 'Azza wa Jalla." Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata, "Aku lebih berhak (mengikuti) Musa dan lebih berhak berpuasa pada hari ini." Beliau lalu memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa. Beliau berkata kepada para sahabatnya, "Barangsiapa di antara kalian yang sudah berpuasa sejak pagi, hendaknya ia menyempurnakan puasanya. Dan barangsiapa di antara kalian yang sudah makan, hendaknya ia berpuasa pada sisa hari itu."
Hadits ini memiliki syahid (penguat) dalam hadits shahih dari jalur lain. Yang aneh adalah penyebutan Nuh juga di dalamnya. Wallahu a'lam.
Sebagian dari Kehidupan dan Ibadah Nabi Nuh
Allah Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur." (QS. Al-Isra': 3)
Dikatakan bahwa ia selalu memuji Allah atas makanannya, minumannya, pakaiannya, dan segala urusannya.
Dari Anas bin Malik, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya Allah benar-benar ridha kepada seorang hamba yang makan sesuap makanan lalu memuji-Nya atas makanan itu, atau minum seteguk minuman lalu memuji-Nya atas minuman itu."
Puasa Nabi Nuh
Dari Abdullah bin 'Amr, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Nuh berpuasa sepanjang masa kecuali hari Idul Fitri dan Idul Adha. Dawud berpuasa setengah masa. Ibrahim berpuasa tiga hari setiap bulan. Ia berpuasa sepanjang masa dan berbuka sepanjang masa."
Haji Nabi Nuh
Dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah berhaji. Ketika sampai di lembah 'Usfan, beliau bertanya, "Wahai Abu Bakar, lembah apa ini?" Abu Bakar menjawab, "Ini lembah 'Usfan." Beliau bersabda, "Sungguh, Nuh, Hud, dan Ibrahim pernah melewati tempat ini dengan menunggang keledai putih yang tali kekangnya dari sabut, kain sarung mereka dari kain kasar dan selendang mereka dari kulit, sedang menunaikan haji ke Baitul 'Atiq."
Wasiat Nabi Nuh kepada Anaknya
Dari Abdullah bin 'Amr, ia berkata: Kami sedang bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ketika datang seorang badui yang mengenakan jubah sutra yang bersulam benang emas. Ia berkata, "Ketahuilah, sesungguhnya pemimpin kalian ini telah merendahkan setiap penunggang kuda, anak penunggang kuda—atau ia berkata: ingin merendahkan setiap penunggang kuda, anak penunggang kuda—dan mengangkat setiap penggembala, anak penggembala." Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memegang kerah jubahnya dan berkata, "Aku melihat engkau memakai pakaian orang yang tidak berakal!" Kemudian beliau bersabda: "Sesungguhnya Nabi Allah, Nuh 'alaihissalam, ketika ajalnya mendekat, berkata kepada anaknya, 'Aku akan mewasiatkan kepadamu; aku perintahkan kamu dengan dua hal dan aku larang kamu dari dua hal. Aku perintahkan kamu dengan kalimat Laa ilaaha illallah (tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah). Sesungguhnya jika tujuh langit dan tujuh bumi diletakkan di satu sisi timbangan dan Laa ilaaha illallah diletakkan di sisi lain, niscaya Laa ilaaha illallah yang lebih berat. Seandainya tujuh langit dan tujuh bumi merupakan lingkaran yang gelap, niscaya Laa ilaaha illallah yang akan menembusnya. (Aku juga perintahkan kamu dengan) Subhanallah wa bihamdih (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya). Sesungguhnya dengan kalimat itulah segala sesuatu bertasbih, dan dengan-Nya seluruh makhluk diberi rezeki. Dan aku larang kamu dari kesyirikan dan kesombongan.'"
Al-Qur'an menunjukkan bahwa Nuh tinggal di tengah kaumnya setelah diutus dan sebelum banjir besar selama seribu tahun kurang lima puluh tahun. Lalu mereka ditimpa banjir besar dalam keadaan zalim. Kemudian, hanya Allah yang tahu berapa lama ia hidup setelah itu.
Adapun makamnya 'alaihissalam: Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Al-Azraqi dari Abdurrahman bin Sabith atau selainnya dari kalangan tabi'in secara mursal, bahwa makam Nuh 'alaihissalam berada di Masjidil Haram.