Kisah Nabi Syu'aib

Allah berfirman dalam Surah Hud setelah kisah kaum Luth: "Dan kepada (penduduk) Madyan (Kami utus) saudara mereka, Syu'aib. Dia berkata, 'Wahai kaumku! Sembahlah Allah, tidak ada tuhan bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu mengurangi takaran dan timbangan. Sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (makmur) dan sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab pada hari yang membinasakan.'" (QS. Hud: 84)
Dan Allah berfirman dalam Surah Asy-Syu'ara' setelah kisah mereka: "Penduduk Aikah telah mendustakan para rasul, ketika Syu'aib berkata kepada mereka, 'Mengapa kamu tidak bertakwa? Sesungguhnya aku ini seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku tidak meminta imbalan kepadamu atas (seruanku) ini; imbalanku hanyalah dari Tuhan seluruh alam.'" (QS. Asy-Syu'ara': 176-180)

Nasab Beliau

Penduduk Madyan adalah bangsa Arab yang tinggal di kota mereka, Madyan, yang dekat dengan wilayah Ma'an di ujung Syam, tidak jauh dari danau kaum Luth. Mereka hidup setelah kaum Luth dalam waktu yang dekat. Kota Madyan dinamai sesuai nama sukunya, dan mereka adalah keturunan Madyan bin Madyan bin Ibrahim Al-Khalil.

Syu'aib, nabi mereka, adalah putra Mikil bin Yasj—sebagaimana disebutkan Ibnu Ishaq. Ada pula yang mengatakan Syu'aib bin Yasyjur bin Lawi bin Ya'qub. Ibnu 'Asakir berkata: "Ada yang mengatakan neneknya, atau ibunya adalah putri Luth." Beliau termasuk orang yang beriman kepada Ibrahim dan berhijrah bersamanya, lalu masuk ke Damaskus.

Dalam hadits Abu Dzarr yang terdapat dalam Shahih Ibnu Hibban tentang penyebutan para nabi dan rasul, disebutkan: "Ada empat orang dari Arab: Hud, Shalih, Syu'aib, dan nabimu, wahai Abu Dzarr."

Sebagian ulama salaf menjuluki Syu'aib sebagai 'Khatibul Anbiya' (juru bicara para nabi), karena kefasihan, ketinggian ungkapan, dan ketinggian retorikanya dalam mendakwahi kaumnya untuk beriman kepada risalahnya. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam jika menyebut Syu'aib berkata: "Itulah juru bicara para nabi."

Kisah Beliau dengan Kaumnya, Penduduk Madyan

Penduduk Madyan adalah orang-orang kafir yang merampok di jalanan, menakut-nakuti para musafir, dan menyembah 'Aikah'—yaitu sejenis pohon yang rindang dan lebat. Mereka adalah manusia terburuk dalam muamalah; mereka mengurangi takaran dan timbangan, mengambil kelebihan dan memberikan kekurangan.

Maka Allah mengutus seorang lelaki dari kalangan mereka, yaitu Rasulullah Syu'aib 'alaihissalam. Beliau menyeru mereka untuk menyembah Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan melarang mereka dari perbuatan buruk itu, yaitu mengurangi hak orang lain dan menakut-nakuti mereka di jalan-jalan. Sebagian mereka beriman, tetapi kebanyakan kafir, hingga Allah menimpakan azab yang sangat keras kepada mereka.

Sebagaimana firman-Nya: "Dan kepada (penduduk) Madyan (Kami utus) saudara mereka, Syu'aib. Dia berkata, 'Wahai kaumku! Sembahlah Allah, tidak ada tuhan bagimu selain Dia. Sungguh, telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu...'" (QS. Al-A'raf: 85)

Maksudnya, bukti, hujjah, dan argumentasi yang jelas tentang kebenaran risalahnya.

"...maka sempurnakanlah takaran dan timbangan, dan janganlah kamu rugikan manusia terhadap hak-haknya dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik." (QS. Al-A'raf: 85)

Beliau memerintahkan keadilan dan melarang kezaliman, serta mengancam mereka jika melanggar:

"Itu lebih baik bagimu jika kamu orang-orang beriman. Dan janganlah kamu duduk di setiap jalan dengan menakut-nakuti..." (QS. Al-A'raf: 86)

Maksudnya, di setiap jalan kalian mengancam orang-orang dengan mengambil harta mereka melalui pajak dan sejenisnya, serta menakut-nakuti perjalanan.

As-Suddi dalam tafsirnya dari para sahabat menafsirkan, "Dan janganlah kamu duduk di setiap jalan dengan menakut-nakuti," bahwa mereka biasa memungut sepersepuluh (pajak) dari harta orang yang lewat. Ibnu Abbas berkata: "Mereka adalah kaum yang melampaui batas; mereka duduk di jalan-jalan dan mengurangi hak-hak orang (maksudnya, memungut pajak dari mereka). Mereka adalah orang pertama yang membuat kebiasaan itu."
"...dan menghalang-halangi (orang) dari jalan Allah orang-orang yang beriman kepada-Nya, dan menginginkan agar jalan-Nya itu bengkok..." (QS. Al-A'raf: 86)

Maka beliau melarang mereka memutus jalan fisik (duniawi) dan jalan agama (maknawi).

"Dan ingatlah ketika kamu dahulu (masih) berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlahmu. Dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan." (QS. Al-A'raf: 86)

Beliau mengingatkan mereka akan nikmat Allah yang telah memperbanyak jumlah mereka setelah sebelumnya sedikit, dan memperingatkan mereka akan azab-Nya jika menentang petunjuk-Nya, sebagaimana dalam ayat lain:

"Dan janganlah kamu mengurangi takaran dan timbangan. Sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (makmur) dan sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab pada hari yang membinasakan." (QS. Hud: 84)

Artinya, jika kalian terus menerus dalam keadaan ini, Allah akan menghilangkan berkah dari apa yang ada di tangan kalian, memiskinkan kalian, dan mengambil kekayaan yang membuat kalian berkecukupan. Ini ditambah azab akhirat. Barangsiapa mendapatkan kedua hal ini, maka ia telah merugi.

Kemudian beliau berkata, setelah sebelumnya melarang:

"Dan wahai kaumku! Sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil dan janganlah kamu rugikan manusia terhadap hak-haknya dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi dengan berbuat kerusakan. Sisa (keuntungan) Allah lebih baik bagimu jika kamu orang-orang beriman. Dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu." (QS. Hud: 85-86)
Ibnu Abbas dan Al-Hasan Al-Bashri berkata: "'Sisa (keuntungan) Allah' maksudnya, rezeki Allah lebih baik bagimu daripada mengambil harta orang lain." Ibnu Jarir berkata: "Keuntungan yang tersisa setelah menyempurnakan takaran dan timbangan lebih baik bagimu daripada mengambil harta orang lain dengan cara curang."
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya riba, meskipun banyak, akibatnya adalah sedikit." Beliau juga bersabda: "Kedua pihak yang berjual beli memiliki hak khiyar (memilih untuk melanjutkan atau membatalkan) selama mereka belum berpisah. Jika mereka jujur dan terbuka, maka diberkahi jual beli mereka. Namun jika mereka menyembunyikan dan berdusta, maka dihapus keberkahan jual beli mereka."

Intinya, keuntungan yang halal diberkahi meski sedikit, sedangkan yang haram tidak berguna meski banyak. Oleh karena itu, Nabi Syu'aib berkata, "'Sisa (keuntungan) Allah lebih baik bagimu jika kamu orang-orang beriman.'"

Dan firman-Nya: "Dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu," maksudnya, lakukanlah apa yang kuperintahkan demi mengharap wajah Allah dan pahala-Nya, bukan karena aku atau orang lain melihat kalian.

Penolakan dan Ejekan Kaum Madyan

Mereka berkata, "Wahai Syu'aib! Apakah agamamu yang menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh nenek moyang kami atau melarang kami memperlakukan harta kami menurut kehendak kami? Sesungguhnya kamu benar-benar orang yang sangat penyantun dan pandai." (QS. Hud: 87)

Mereka mengucapkan ini dengan nada mengejek, merendahkan, dan menghina: "Apakah shalatmu ini yang memerintahkanmu untuk membatasi kami sehingga kami tidak boleh menyembah selain Tuhanmu dan harus meninggalkan apa yang disembah nenek moyang terdahulu kami? Atau agar kami tidak boleh bertransaksi kecuali dengan cara yang kamu setujui, dan harus meninggalkan transaksi yang kami sukai meskipun kamu tidak menyukainya?"

Jawaban Lembut Syu'aib

Dia (Syu'aib) berkata, "Wahai kaumku! Bagaimana pendapatmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan Dia memberikan rezeki yang baik kepadaku (dari-Nya)? Dan aku tidak ingin menyalahi kamu (dengan melakukan) apa yang aku larang. Aku hanya menghendaki perbaikan selama aku masih sanggup. Petunjukku hanyalah dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan hanya kepada-Nya aku kembali." (QS. Hud: 88)

Ini merupakan ungkapan yang lembut dan ajakan kepada kebenaran dengan isyarat yang sangat jelas.

Maksudnya: Bagaimana pendapatmu jika aku berada di atas bukti yang jelas dari Allah, bahwa Dia mengutusku kepada kalian, dan memberiku kenabian dan risalah, namun hal itu tersembunyi bagi kalian? Maka, apa dayaku atas kalian?

"Dan aku tidak ingin menyalahi kamu (dengan melakukan) apa yang aku larang." (QS. Hud: 88)

Artinya, aku tidak memerintahkan kalian melakukan sesuatu kecuali aku adalah orang pertama yang melakukannya. Dan jika aku melarang sesuatu, maka aku adalah orang pertama yang meninggalkannya.

"Aku hanya menghendaki perbaikan selama aku masih sanggup." (QS. Hud: 88)

Artinya, aku hanya menginginkan perbaikan dalam segala perbuatan dan ucapanku dengan segenap usahaku dan kemampuanku.

"Petunjukku hanyalah dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan hanya kepada-Nya aku kembali." (QS. Hud: 88)

Artinya, kepada-Nya aku bertawakal dalam segala urusan, dan kepada-Nya tempat kembali dan tujuanku dalam segala hal. Ini adalah posisi memberikan motivasi (targhib). Kemudian beliau beralih ke peringatan (tarhib):

"Dan wahai kaumku! Janganlah pertentanganmu terhadapku menyebabkan kamu ditimpa (azab) seperti yang menimpa kaum Nuh, kaum Hud, kaum Shalih atau kaum Luth sedang (bekas-bekas peninggalan) kaum Luth tidak jauh darimu." (QS. Hud: 89)

Artinya, janganlah penentangan dan kebencian kalian terhadap apa yang kubawa membuat kalian terus-menerus dalam kesesatan dan kebodohan, sehingga Allah menimpakan azab dan siksa kepada kalian seperti yang ditimpakan kepada orang-orang yang serupa dan sejenis dengan kalian dari kaum Nuh, Hud, dan Shalih yang mendustakan dan menentang.

"...atau kaum Luth sedang (bekas-bekas peninggalan) kaum Luth tidak jauh darimu." (QS. Hud: 89)

Dikatakan, maksudnya dalam hal waktu, yaitu tidak lama sejak peristiwa yang menimpa mereka karena kekafiran dan kesombongan mereka telah sampai kepada kalian. Ada yang mengatakan, maksudnya dalam hal tempat. Ada pula yang mengatakan dalam hal sifat dan perbuatan buruk, seperti merampok dan mengambil harta orang lain secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi dengan berbagai tipu daya.

Semua penafsiran ini bisa digabungkan, karena mereka memang tidak jauh dari kaum Luth, baik dari segi waktu, tempat, maupun sifat.

Kemudian beliau mencampurkan ancaman dengan motivasi:

"Dan mohonlah ampunan kepada Tuhanmu kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang, Maha Pengasih." (QS. Hud: 90)

Artinya, berhentilah dari apa yang kalian lakukan dan bertobatlah kepada Tuhan kalian Yang Maha Pengasih, Maha Mencintai. Sesungguhnya barangsiapa bertobat kepada-Nya, Dia akan menerima tobatnya. Dia Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya, lebih penyayang daripada seorang ibu kepada anaknya. Dia Maha Mencintai, dan Dia mencintai hamba-Nya yang bertobat meski dari dosa-dosa besar.

Keangkuhan dan Ancaman Kaum Madyan

Mereka berkata, "Wahai Syu'aib! Kami tidak memahami banyak apa yang engkau katakan itu, dan sesungguhnya kami benar-benar melihat engkau seorang yang lemah di antara kami." (QS. Hud: 91)

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa mereka berkata: "Dia (Syu'aib) buta."

"Dan sekiranya bukan karena keluargamu, tentu kami telah merajammu, dan engkau bukan seorang yang mulia menurut kami." (QS. Hud: 91)

Ini termasuk kekafiran dan pembangkangan mereka yang parah, ketika mereka berkata: "Kami tidak memahami banyak apa yang engkau katakan," maksudnya, kami tidak memahaminya dan tidak memikirkannya, karena kami tidak menyukainya dan tidak menginginkannya, tidak ada keinginan dan kecenderungan kami kepadanya.

"...dan sesungguhnya kami benar-benar melihat engkau seorang yang lemah di antara kami." (QS. Hud: 91)

Maksudnya, teraniaya dan terasingkan.

"Dan sekiranya bukan karena keluargamu, tentu kami telah merajammu, dan engkau bukan seorang yang mulia menurut kami." (QS. Hud: 91)

Jawaban Tegas Syu'aib

Dia (Syu'aib) berkata, "Wahai kaumku! Apakah keluargaku lebih terhormat menurut pandanganmu daripada Allah, sedangkan Dia kamu jadikan sesuatu yang terabaikan di belakangmu? Sesungguhnya Tuhanku meliputi apa yang kamu kerjakan." (QS. Hud: 92)

Artinya, kalian takut kepada keluargaku dan menghormatiku karena mereka, tetapi kalian tidak takut azab Allah dan tidak menghormatiku sebagai utusan Allah? Maka keluargaku lebih kalian muliakan daripada Allah. "Sedangkan Dia kamu jadikan sesuatu yang terabaikan di belakangmu," maksudnya, Dia mengetahui apa yang kalian kerjakan, meliputinya, dan akan membalas kalian pada hari kalian kembali kepada-Nya.

"Dan wahai kaumku! Berbuatlah menurut kemampuanmu, sesungguhnya aku pun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya dan siapa yang berdusta. Dan tunggulah! Aku pun menunggu bersamamu." (QS. Hud: 93)

Ini adalah perintah yang mengandung ancaman keras dan janji yang pasti, agar mereka terus melanjutkan cara, metode, dan kebiasaan mereka. Maka kelak kalian akan tahu siapa yang mendapat kesudahan yang baik, dan siapa yang ditimpa kehancuran dan kebinasaan.

"...siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya." (QS. Hud: 93)

Maksudnya, di kehidupan dunia ini.

"...dan siapa yang berdusta." (QS. Hud: 93)

Maksudnya, antara aku dan kalian, dalam apa yang aku beritakan, aku sampaikan sebagai kabar gembira, dan aku peringatkan.

"Dan tunggulah! Aku pun menunggu bersamamu." (QS. Hud: 93)

Ini seperti firman-Nya: "Dan jika ada segolongan dari kamu yang beriman kepada (ajaran) yang aku diutus untuk menyampaikannya dan segolongan lain tidak beriman, maka bersabarlah sampai Allah memberi keputusan di antara kita. Dan Dia adalah hakim yang terbaik." (QS. Al-A'raf: 87)

Ultimatum dan Doa Syu'aib

Pemuka-pemuka dari kaumnya yang menyombongkan diri berkata, "Wahai Syu'aib! Kami pasti akan mengusir engkau dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, kecuali jika kamu kembali kepada agama kami." Berkata (Syu'aib), "Dan apakah (kamu akan mengusir kami) meskipun kami tidak menyukainya? Sungguh, kami akan mengada-adakan kebohongan yang besar terhadap Allah jika kami kembali kepada agamamu setelah Allah menyelamatkan kami darinya. Dan tidaklah patut kami kembali kepadanya, kecuali jika Allah, Tuhan kami menghendaki. Pengetahuan Tuhan kami meliputi segala sesuatu. Hanya kepada Allah kami bertawakal. Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil). Engkaulah pemberi keputusan yang terbaik." (QS. Al-A'raf: 88-89)

Mereka menuntut—menurut anggapan mereka—agar orang-orang yang beriman dari kalangan mereka kembali kepada agama mereka. Maka Syu'aib tampil membela kaumnya dengan berkata: "Dan apakah (kamu akan mengusir kami) meskipun kami tidak menyukainya?"

Maksudnya, mereka tidak akan kembali kepada kalian dengan pilihan sendiri. Mereka hanya akan kembali jika terpaksa. Sebab, iman yang telah meresap ke dalam hati tidak mungkin dibenci oleh seseorang, dan tidak mungkin seseorang murtad darinya atau menghindar darinya.

"Sungguh, kami akan mengada-adakan kebohongan yang besar terhadap Allah jika kami kembali kepada agamamu setelah Allah menyelamatkan kami darinya. Dan tidaklah patut kami kembali kepadanya, kecuali jika Allah, Tuhan kami menghendaki. Pengetahuan Tuhan kami meliputi segala sesuatu. Hanya kepada Allah kami bertawakal." (QS. Al-A'raf: 89)

Artinya, Dialah yang mencukupi kami dan melindungi kami, dan kepada-Nya tempat kami berlindung dalam segala urusan kami.

Kemudian beliau memohon kemenangan atas kaumnya dan meminta pertolongan Rabb-nya untuk menyegerakan apa yang pantas mereka terima:

"Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil). Engkaulah pemberi keputusan yang terbaik." (QS. Al-A'raf: 89)

Artinya, Hakim yang terbaik. Maka beliau berdoa (memohon kebinasaan) atas mereka, dan Allah tidak menolak doa para rasul-Nya ketika mereka memohon pertolongan atas orang-orang yang mengingkari, mengkufuri, dan menentang rasul-Nya.

"Dan pemuka-pemuka dari kaumnya yang kafir berkata (kepada pengikut-pengikutnya), 'Sesungguhnya jika kamu mengikuti Syu'aib, tentu kamu menjadi orang-orang yang rugi.'" (QS. Al-A'raf: 90)

Kebinasaan Penduduk Madyan

Allah berfirman: "Maka mereka ditimpa gempa, lalu mereka menjadi mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka." (QS. Al-A'raf: 91)

Dalam Surah Al-A'raf disebutkan bahwa mereka ditimpa 'rajfah' (gempa), yaitu bumi mereka berguncang dengan guncangan yang sangat keras yang mencabut nyawa mereka dari jasadnya, menjadikan makhluk hidup di bumi mereka seperti benda mati, dan menjadikan mayat mereka bergelimpangan tanpa nyawa, tanpa gerak, dan tanpa indra.

Allah mengumpulkan berbagai jenis hukuman dan bentuk siksaan atas mereka karena sifat-sifat buruk yang mereka miliki. Allah timpakan gempa yang sangat keras yang menghentikan gerakan, suara keras yang mematikan suara, dan awan yang mengirimkan percikan api dari segala penjuru.

Namun, Allah mengabarkan tentang mereka dalam setiap surah sesuai dengan konteksnya. Dalam kisah Al-A'raf, mereka mengancam nabi Allah dan pengikutnya dengan pengusiran, atau agar mereka kembali kepada agama mereka. Maka Allah berfirman: "Maka mereka ditimpa gempa, lalu mereka menjadi mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka." Ini sesuai dengan konteks ancaman mereka dengan pengusiran, lalu dibalas dengan gempa yang menghentikan mereka di tempat tinggal mereka.

Adapun dalam Surah Hud disebutkan bahwa mereka ditimpa 'shayhah' (suara keras), karena mereka berkata dengan nada menghina dan mengejek: "Apakah agamamu yang menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh nenek moyang kami..." (QS. Hud: 87). Maka, sesuai kiranya disebutkan suara keras yang mengecam ucapan buruk yang mereka lontarkan kepada rasul yang mulia dan fasih itu, yang datang bersama gempa yang menghentikan mereka.

Adapun dalam Surah Asy-Syu'ara' disebutkan bahwa mereka ditimpa 'azab yaumidh dhullah' (azab hari naungan awan). Hal itu merupakan jawaban atas permintaan mereka dan mendekatkan mereka pada apa yang mereka inginkan. Karena mereka berkata:

"Mereka berkata, 'Kamu hanyalah orang yang kena sihir. Dan kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami, dan sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk orang-orang yang dusta. Maka jatuhkanlah kepada kami gumpalan dari langit, jika kamu termasuk orang-orang yang benar.' Dia (Syu'aib) berkata, 'Tuhanku lebih mengetahui apa yang kamu kerjakan.'" (QS. Asy-Syu'ara': 185-188)
Allah berfirman: "Kemudian mereka mendustakannya, lalu mereka ditimpa azab pada hari (naungan) awan. Sesungguhnya azab itu adalah azab hari yang besar." (QS. Asy-Syu'ara': 189)

Disebutkan bahwa mereka dilanda panas yang sangat terik, dan Allah menghentikan angin dari mereka selama tujuh hari. Air, tempat teduh, atau masuk ke liang-liang pun tidak membantu mereka. Maka mereka melarikan diri dari tempat tinggal mereka ke padang pasir. Lalu sebuah awan menaungi mereka, dan mereka berkumpul di bawahnya untuk berteduh. Ketika mereka telah lengkap di bawahnya, Allah mengirimkan awan itu dengan melemparkan percikan api dan batu-batu kepada mereka. Bumi berguncang, dan suara keras dari langit mencabut nyawa-nyawa dan merusak jasad-jasad.

"...lalu mereka menjadi mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka. (Yaitu) orang-orang yang mendustakan Syu'aib, seakan-akan mereka belum pernah berdiam di kota itu. Orang-orang yang mendustakan Syu'aib, mereka itulah orang-orang yang rugi." (QS. Al-A'raf: 91-92)

Dan Allah menyelamatkan Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersamanya, sebagaimana firman-Nya:

"Dan ketika datang perintah Kami, Kami selamatkan Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersama dia dengan rahmat dari Kami. Dan orang-orang yang zalim itu dibinasakan oleh suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di tempat tinggalnya. Seakan-akan mereka belum pernah tinggal di tempat itu. Ingatlah, kebinasaan bagi penduduk Madyan sebagaimana kaum Samud telah binasa." (QS. Hud: 94-95)

Kemudian Allah menyebutkan bahwa nabi mereka mengecam mereka dengan cercaan dan teguran:

"Wahai kaumku! Sungguh, aku telah menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepadamu dan aku telah menasihatimu..." (QS. Al-A'raf: 93)

Artinya, aku telah menyampaikan apa yang wajib atasku berupa penyampaian yang sempurna dan nasihat yang lengkap. Aku telah berusaha memberikan petunjuk kepadamu dengan segala yang mampu aku lakukan dan upayakan. Namun itu tidak bermanfaat bagimu karena Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang disesatkan, dan tidak ada penolong bagi mereka. Maka aku tidak menyesali kalian setelah ini, karena kalian tidak menerima nasihat dan tidak takut hari penghinaan.

Oleh karena itu, beliau berkata: "...maka bagaimanakah aku akan berduka cita terhadap orang-orang kafir?" (QS. Al-A'raf: 93)

Artinya, bersedih. Maksudnya, bagaimana aku bersedih atas kaum yang kafir, yang tidak menerima kebenaran, tidak kembali kepadanya, dan tidak menghiraukannya? Maka mereka ditimpa azab Allah yang tidak dapat ditolak, yang tidak dapat dilawan atau dihindari oleh siapa pun yang mengalaminya.

Al-Hafizh Ibnu 'Asakir dalam Tarikh-nya meriwayatkan dari Ibnu Abbas: "Sesungguhnya Syu'aib 'alaihissalam hidup setelah Yusuf 'alaihissalam." Dari Wahb bin Munabbih: "Syu'aib 'alaihissalam wafat di Mekah bersama orang-orang beriman yang bersamanya, dan kuburan mereka berada di sebelah barat Ka'bah, antara Darun Nadwah dan Daru Bani Sahm."