Kisah Nabi Yusuf

Disebutkan bahwa Nabi Ya'qub memiliki dua belas anak laki-laki. Kepada merekalah seluruh suku Bani Israil dinisbatkan. Yang paling mulia, terhormat, dan agung di antara mereka adalah Nabi Yusuf 'alaihis salam. Sekelompok ulama berpendapat bahwa tidak ada nabi di antara mereka selain Yusuf. Sedangkan saudara-saudaranya yang lain tidak diberikan wahyu. Dzahir perbuatan dan ucapan mereka dalam kisah ini menunjukkan pendapat tersebut.

Dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Orang yang mulia, anak dari orang yang mulia, anak dari orang yang mulia, anak dari orang yang mulia adalah Yusuf bin Ya'qub bin Ishaq bin Ibrahim."

Orang yang mulia, anak dari orang yang mulia, anak dari orang yang mulia, anak dari orang yang mulia adalah Yusuf bin Ya'qub bin Ishaq bin Ibrahim.

Para ahli tafsir dan lainnya mengatakan, Yusuf 'alaihis salam saat masih kecil sebelum baligh bermimpi melihat sebelas bintang, yang mengisyaratkan saudara-saudaranya, serta matahari dan bulan, yang merupakan perlambang bagi kedua orang tuanya, semuanya bersujud kepadanya. Hal itu membuatnya heran.

Setelah bangun, ia menceritakannya kepada ayahnya. Ayahnya pun memahami bahwa Yusuf akan meraih kedudukan yang tinggi dan keagungan yang besar di dunia dan akhirat, sehingga membuat kedua orang tua dan saudara-saudaranya tunduk kepadanya. Maka ayahnya memerintahkannya untuk merahasiakannya dan tidak menceritakannya kepada saudara-saudaranya agar mereka tidak dengki, menginginkan bencana untuknya, dan menjalankan tipu daya dengan berbagai cara dan muslihat.

Oleh karena itu, dalam suatu atsar disebutkan: "Mintalah pertolongan dalam memenuhi kebutuhanmu dengan menyembunyikannya, karena setiap pemilik kenikmatan akan didengki."

Rencana Jahat Saudara-Saudara Yusuf

Sungguh, terdapat dalam (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya beberapa tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang bertanya. Yaitu ketika mereka (saudara-saudara Yusuf) berkata, "Yusuf dan saudaranya (Bunyamin) lebih dicintai ayah kita daripada kita, padahal kita adalah satu golongan (yang kuat). Sungguh, ayah kita dalam kekeliruan yang nyata. Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu tempat (yang tak dikenal) agar perhatian ayahmu tertuju hanya kepadamu. Dan setelah itu, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang baik." Seorang di antara mereka berkata, "Janganlah kamu bunuh Yusuf, tetapi masukkanlah dia ke dalam dasar sumur agar dia dipungut oleh sebagian musafir, jika kamu benar-benar hendak berbuat."

Sungguh, terdapat dalam (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya beberapa tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang bertanya. Yaitu ketika mereka (saudara-saudara Yusuf) berkata, "Yusuf dan saudaranya (Bunyamin) lebih dicintai ayah kita daripada kita, padahal kita adalah satu golongan (yang kuat). Sungguh, ayah kita dalam kekeliruan yang nyata. Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu tempat (yang tak dikenal) agar perhatian ayahmu tertuju hanya kepadamu. Dan setelah itu, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang baik." Seorang di antara mereka berkata, "Janganlah kamu bunuh Yusuf, tetapi masukkanlah dia ke dalam dasar sumur agar dia dipungut oleh sebagian musafir, jika kamu benar-benar hendak berbuat."

Allah Ta'ala mengingatkan tentang apa yang terkandung dalam kisah ini berupa tanda-tanda (kekuasaan Allah), hikmah-hikmah, petunjuk, pelajaran, dan bukti-bukti yang jelas. Kemudian disebutkan rasa dengki saudara-saudara Yusuf kepadanya karena kecintaan ayah mereka kepada Yusuf dan saudaranya, yaitu saudara kandungnya dari ibu yang bernama Bunyamin, melebihi cinta kepada mereka. Padahal mereka adalah 'ushbah (sekelompok orang yang kuat). Mereka berkata, "Maka seharusnya kamilah yang lebih berhak mendapat cinta daripada kedua orang ini."

"Sungguh, ayah kita dalam kekeliruan yang nyata," maksudnya dengan mendahulukan cinta kepada mereka berdua di atas kami. Kemudian mereka berembuk di antara mereka tentang membunuh Yusuf atau mengasingkannya ke suatu negeri agar tidak kembali, agar perhatian ayah mereka menjadi murni untuk mereka. Dengan demikian, kecintaan ayahnya akan tercurah sepenuhnya kepada mereka. Mereka juga menyimpan tekad untuk bertobat setelah itu. Ketika mereka telah sepakat dan bersatu pendapat tentang hal itu, seorang di antara mereka berkata, "Janganlah kamu bunuh Yusuf, tetapi masukkanlah dia ke dasar sumur agar dia dipungut oleh sebagian musafir," yaitu orang-orang yang lewat dari kalangan musafir.

Jika kamu memang harus melakukan sesuatu, maka biarlah ini yang kukatakan kepadamu. Keadaan ini lebih ringan daripada membunuhnya atau mengusir serta mengasingkannya. Maka mereka pun menyatukan pendapat pada rencana ini.

Tipu Daya dan Penemuan Yusuf

Kemudian mereka memohon kepada ayah mereka untuk mengizinkan saudara mereka Yusuf pergi bersama mereka. Mereka menunjukkan seolah-olah mereka ingin Yusuf ikut menggembala, bermain, dan bersantai bersama mereka. Padahal mereka telah menyimpan rencana yang diketahui Allah. Sang syaikh (Ya'qub) 'alaihi minallah afdhalush shalah wassalam menjawab, "Wahai anak-anakku, berat bagiku untuk berpisah darinya sesaat pun di siang hari. Ditambah lagi, aku khawatir kalian akan asyik dalam permainan dan kegiatan kalian, sehingga serigala datang memakannya. Ia tidak mampu menghalaunya karena masih kecil dan kalian lengah darinya."

Mereka berkata, "Jika dia benar-benar dimakan serigala, padahal kami banyak (dan kuat), tentulah kami orang-orang yang rugi." Maksudnya, jika serigala menyerangnya lalu memakannya di tengah-tengah kami, atau kami lengah darinya hingga hal itu terjadi sementara kami dalam keadaan banyak (berkelompok), maka sungguh kami adalah orang-orang yang rugi, yaitu orang-orang yang tidak mampu dan celaka.

Mereka berkata, "Jika dia benar-benar dimakan serigala, padahal kami banyak (dan kuat), tentulah kami orang-orang yang rugi."

Maka ketika mereka pergi membawanya dan sepakat untuk menempatkannya di dasar sumur, Kami wahyukan kepadanya, "Engkau pasti akan menceritakan perbuatan mereka ini kepada mereka, sedang mereka tidak menyadari." Dan mereka datang kepada ayahnya pada sore hari sambil menangis. Mereka berkata, "Wahai ayah kami! Kami pergi berlomba-lomba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala. Dan engkau tidak akan percaya kepada kami sekalipun kami benar." Dan mereka datang dengan membawa baju gamisnya (yang dilumuri) darah palsu. Dia (Ya'qub) berkata, "Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu. Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan."

Maka ketika mereka pergi membawanya dan sepakat untuk menempatkannya di dasar sumur, Kami wahyukan kepadanya, "Engkau pasti akan menceritakan perbuatan mereka ini kepada mereka, sedang mereka tidak menyadari." Dan mereka datang kepada ayahnya pada sore hari sambil menangis. Mereka berkata, "Wahai ayah kami! Kami pergi berlomba-lomba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala. Dan engkau tidak akan percaya kepada kami sekalipun kami benar." Dan mereka datang dengan membawa baju gamisnya (yang dilumuri) darah palsu. Dia (Ya'qub) berkata, "Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu. Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan."

Mereka terus mendesak ayah mereka hingga akhirnya ia mengizinkan Yusuf pergi bersama mereka. Tak lama setelah mereka menghilang dari pandangannya, mereka pun mencaci dan menghinanya dengan perbuatan dan ucapan. Mereka bersepakat untuk melemparkannya ke dasar sumur, yaitu ke dalam lubangnya yang dalam, di atas batu besar yang ada di tengahnya. Batu itu disebut Ra'ufah, yaitu batu besar yang berada di tengah sumur, tempat berdiri orang yang menimba (Al-Maaih) – yaitu orang yang turun untuk menurunkan timba ketika air sedikit – sedangkan orang yang menariknya dengan tali disebut Al-Maatiḥ.

Ketika mereka telah melemparkannya ke dalam sumur, Allah mewahyukan kepadanya bahwa pasti akan ada kelapangan dan jalan keluar dari kesulitan yang ia alami ini. Dan sungguh ia akan memberitahu saudara-saudaranya tentang perbuatan mereka ini, dalam keadaan ia mulia sementara mereka membutuhkannya dan takut kepadanya.

Disebutkan tangisan saudara-saudara Yusuf. Mereka datang kepada ayah mereka pada waktu sore sambil menangis, yaitu di kegelapan malam agar pengkhianatan mereka lebih tersembunyi.

Mereka berkata, "Wahai ayah kami! Sesungguhnya kami pergi berlomba-lomba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami," yaitu pakaian kami, "lalu dia dimakan serigala," maksudnya saat kami lengah darinya karena kami sedang berlomba.

Ucapan mereka, "Dan engkau tidak akan percaya kepada kami sekalipun kami benar," maksudnya, engkau tidak akan membenarkan kami dalam berita yang kami sampaikan tentang serigala yang memakannya, sekalipun kami tidak dicurigai olehmu. Maka bagaimana lagi, sementara engkau mencurigai kami dalam hal ini? Engkau telah mengkhawatirkan bahwa serigala akan memakannya, dan kami telah menjamin kepadamu bahwa ia tidak akan memakannya karena kami banyak di sekitarnya. Maka kami menjadi orang yang tidak dipercaya di sisimu. Engkau pun punya alasan untuk tidak mempercayai kami dalam keadaan seperti ini.

"Dan mereka datang dengan membawa baju gamisnya (yang dilumuri) darah palsu," yaitu darah yang dibuat-buat dan dipalsukan. Karena mereka sengaja menyembelih seekor anak kambing, lalu mengambil darahnya dan mengoleskannya pada baju gamis Yusuf, untuk memberi kesan bahwa ia telah dimakan serigala. Dikatakan, mereka lupa merobeknya. Kelupaan adalah aib dari dusta.

Ketika tanda-tanda kecurigaan tampak pada mereka, tipu daya mereka tidak berhasil menipu ayah mereka. Karena ayah mereka memahami permusuhan mereka terhadap Yusuf dan kedengkian mereka kepadanya karena kecintaannya kepada Yusuf melebihi mereka. Hal itu disebabkan oleh firasatnya tentang keagungan dan kewibawaan yang ada pada Yusuf sejak kecil, sesuai dengan yang Allah kehendaki untuk dikhususkan kepadanya berupa kenabian.

Ketika mereka mendesaknya untuk mengizinkan Yusuf pergi, maka segera setelah mereka membawanya, mereka menghilangkannya dan menyembunyikannya dari pandangannya. Mereka datang sambil pura-pura menangis dan bersekongkol atas apa yang telah mereka sepakati. Oleh karena itu, Ya'qub berkata, "Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu. Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan."

Menurut Ahli Kitab, Ruben yang mengusulkan untuk menempatkan Yusuf di sumur, agar ia dapat mengambilnya tanpa sepengetahuan mereka dan mengembalikannya kepada ayahnya. Namun mereka menyelinap dan menjualnya kepada kafilah tersebut. Ketika Ruben datang pada akhir waktu untuk mengeluarkan Yusuf, ia tidak menemukannya. Ia pun berteriak dan merobek bajunya. Lalu mereka menyembelih seekor anak kambing dan mengoleskan darahnya pada jubah Yusuf. Ketika Ya'qub mengetahuinya, ia merobek bajunya, mengenakan sarung hitam, dan bersedih atas anaknya itu selama berhari-hari. Kelemahan (cerita) ini datang dari kesalahan mereka dalam penafsiran dan penggambaran.

Yusuf Ditemukan Kafilah dan Dijual

Dan datanglah sekelompok musafir, lalu mereka menyuruh seorang pengambil air. Maka dia menurunkan timbanya. Dia berkata, "Oh, kabar gembira! Ini seorang anak laki-laki!" Kemudian mereka menyembunyikan dia sebagai barang dagangan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. Dan mereka menjualnya dengan harga yang murah, yaitu beberapa dirham yang terhitung. Dan mereka terhadapnya termasuk orang-orang yang tidak tertarik.

Dan datanglah sekelompok musafir, lalu mereka menyuruh seorang pengambil air. Maka dia menurunkan timbanya. Dia berkata, "Oh, kabar gembira! Ini seorang anak laki-laki!" Kemudian mereka menyembunyikan dia sebagai barang dagangan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. Dan mereka menjualnya dengan harga yang murah, yaitu beberapa dirham yang terhitung. Dan mereka terhadapnya termasuk orang-orang yang tidak tertarik.

Allah Ta'ala mengabarkan tentang kisah Yusuf ketika ditempatkan di sumur: Bahwa ia duduk menunggu kelapangan dan kelembutan Allah kepadanya. Kemudian datanglah sebuah kafilah, yaitu para musafir yang menuju negeri Mesir dari Syam. Mereka mengutus sebagian mereka untuk mengambil air dari sumur itu. Ketika salah seorang dari mereka menurunkan timbanya, Yusuf pun bergantung padanya. Ketika orang itu melihatnya, ia berkata, "Oh, kabar gembira bagiku! Ini seorang anak laki-laki!" Kemudian mereka menyembunyikannya sebagai budak layaknya barang dagangan.

Yusuf di Rumah Al-Aziz dan Ujian Godaan

Dan orang Mesir yang membelinya berkata kepada istrinya, "Muliakanlah tempat tinggalnya. Semoga dia bermanfaat bagi kita atau kita angkat dia sebagai anak." Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir. Dia berada di bumi Mesir, di mana Kami ajarkan kepadanya takwil mimpi. Dan Allah berkuasa atas urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

Dan orang Mesir yang membelinya berkata kepada istrinya, "Muliakanlah tempat tinggalnya. Semoga dia bermanfaat bagi kita atau kita angkat dia sebagai anak." Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir. Dia berada di bumi Mesir, di mana Kami ajarkan kepadanya takwil mimpi. Dan Allah berkuasa atas urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

Ketika dia telah dewasa, Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan perempuan yang di rumahnya dia tinggal menggoda dirinya. Dia menutup pintu-pintu dan berkata, "Marilah ke sini." Dia (Yusuf) berkata, "Aku berlindung kepada Allah. Sungguh, tuanku telah memperlakukan aku dengan baik." Sesungguhnya orang-orang yang zalim tidak akan beruntung.

Ketika dia telah dewasa, Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan perempuan yang di rumahnya dia tinggal menggoda dirinya. Dia menutup pintu-pintu dan berkata, "Marilah ke sini." Dia (Yusuf) berkata, "Aku berlindung kepada Allah. Sungguh, tuanku telah memperlakukan aku dengan baik." Sesungguhnya orang-orang yang zalim tidak akan beruntung.

Sesungguhnya perempuan itu telah bermaksud menundukkan dirinya (kepadanya). Dan Yusuf pun bermaksud menundukkan dirinya (kepada perempuan itu) seandainya dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah agar Kami memalingkan darinya keburukan dan kekejian. Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.

Sesungguhnya perempuan itu telah bermaksud menundukkan dirinya (kepadanya). Dan Yusuf pun bermaksud menundukkan dirinya (kepada perempuan itu) seandainya dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah agar Kami memalingkan darinya keburukan dan kekejian. Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.

Allah Ta'ala mengabarkan bahwa orang yang membeli Yusuf di negeri Mesir adalah seorang pembesar. Dikatakan dia adalah Al-Aziz, yaitu menteri atau penguasa pada masa itu. Namanya disebutkan dalam beberapa riwayat sebagai Qithfir atau Itfir. Dia berkata kepada istrinya, Zulaikha—demikian nama yang masyhur—untuk memuliakan tempat tinggal Yusuf dan memperlakukannya dengan baik.

Perkataannya, "Semoga dia bermanfaat bagi kita atau kita angkat dia sebagai anak," menunjukkan harapannya akan kebaikan Yusuf, baik sebagai pembantu yang setia ataupun diangkat sebagai anak untuk menghibur mereka karena mereka tidak mempunyai anak. Dalam ayat lain disebutkan, "Wanita yang bersuami itu menggoda dirinya."

Allah Ta'ala berfirman, "Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di bumi (Mesir)." Yaitu Kami kokohkan kedudukannya dan tinggikan derajatnya di negeri itu. "Untuk Kami ajarkan kepadanya takwil mimpi." Kami jadikan dia seorang yang ahli dalam menafsirkan mimpi dan mengetahui hakikatnya.

"Dan Allah berkuasa atas urusan-Nya." Kekuasaan dan pengaturan-Nya berlaku atas segala sesuatu. "Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." Mereka tidak mengetahui hikmah Allah dalam pengaturan-Nya terhadap makhluk-Nya.

Kemudian Allah berfirman, "Dan ketika dia cukup dewasa, Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu." Ketika Yusuf mencapai usia matang dan sempurna kekuatannya, Kami karuniakan kepadanya kenabian, ilmu, dan pemahaman yang mendalam. "Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik."

Lalu dikisahkan tentang godaan yang menimpanya. "Dan perempuan yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda dirinya." Istri Al-Aziz itu, dengan segala daya upaya, berusaha menggoda Yusuf untuk memenuhi nafsunya. "Dia menutup pintu-pintu," mengunci semua pintu rumah agar tidak ada seorang pun yang masuk dan melihat mereka. "Dan berkata, 'Marilah ke sini.'"

Maka Yusuf menjawab dengan perkataan yang tegas, "Aku berlindung kepada Allah." Aku meminta perlindungan kepada Allah dari perbuatan buruk yang engkau tawarkan. "Sungguh, tuanku telah memperlakukan aku dengan baik." Ia telah berbuat baik kepadaku dengan memberiku tempat tinggal dan kemuliaan, maka tidak pantas aku membalasnya dengan pengkhianatan di rumahnya sendiri. "Sesungguhnya orang-orang yang zalim tidak akan beruntung."

Meskipun godaan itu sangat kuat, dan wanita itu telah bersungguh-sungguh dalam niat buruknya, bahkan Yusuf sendiri hampir tergelincir—sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya, "Dan sesungguhnya perempuan itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan demikian) dengan perempuan itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya."

Maksudnya, Yusuf pun memiliki keinginan manusiawi untuk memenuhi ajakan itu, karena ia adalah manusia yang memiliki syahwat. Namun, Allah memalingkannya dengan menunjukkan tanda kebesaran-Nya. Dikatakan bahwa tanda itu adalah bayangan wajah ayahnya, Ya'qub, yang tampak olehnya, atau kilatan cahaya yang membuatnya takut, atau teguran secara langsung. "Demikianlah, agar Kami memalingkan darinya keburukan dan kekejian." Dengan cara itu, Allah melindunginya dari perbuatan keji zina dan segala keburukannya. "Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih." Ia adalah hamba yang Kami pilih untuk menyucikan dan memeliharanya.

Fitnah dan Pembelaan Diri

Dan keduanya berlomba menuju pintu dan perempuan itu menarik baju gamis Yusuf dari belakang hingga koyak. Dan keduanya mendapati suami perempuan itu di depan pintu. Perempuan itu berkata, "Apakah balasan terhadap orang yang menginginkan kejahatan terhadap keluargamu, selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan siksa yang pedih?" Yusuf berkata, "Dia menggodaku untuk menundukkan diriku (kepadanya)." Dan seorang saksi dari keluarga perempuan itu memberikan kesaksiannya, "Jika baju gamisnya koyak di depan, maka perempuan itu benar dan Yusuf termasuk orang yang berdusta. Dan jika baju gamisnya koyak di belakang, maka perempuan itu dusta dan Yusuf termasuk orang yang benar."

Dan keduanya berlomba menuju pintu dan perempuan itu menarik baju gamis Yusuf dari belakang hingga koyak. Dan keduanya mendapati suami perempuan itu di depan pintu. Perempuan itu berkata, "Apakah balasan terhadap orang yang menginginkan kejahatan terhadap keluargamu, selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan siksa yang pedih?" Yusuf berkata, "Dia menggodaku untuk menundukkan diriku (kepadanya)." Dan seorang saksi dari keluarga perempuan itu memberikan kesaksiannya, "Jika baju gamisnya koyak di depan, maka perempuan itu benar dan Yusuf termasuk orang yang berdusta. Dan jika baju gamisnya koyak di belakang, maka perempuan itu dusta dan Yusuf termasuk orang yang benar."

Maka ketika suaminya melihat baju gamis Yusuf koyak dari belakang, dia (suami) berkata, "Sesungguhnya ini adalah tipu dayamu. Tipu dayamu memang besar." (Kemudian dia berkata), "Hai Yusuf, berpalinglah dari ini. Dan (kamu, hai istriku) mohon ampunlah atas dosamu. Sesungguhnya engkau termasuk orang yang bersalah."

Maka ketika suaminya melihat baju gamis Yusuf koyak dari belakang, dia (suami) berkata, "Sesungguhnya ini adalah tipu dayamu. Tipu dayamu memang besar." (Kemudian dia berkata), "Hai Yusuf, berpalinglah dari ini. Dan (kamu, hai istriku) mohon ampunlah atas dosamu. Sesungguhnya engkau termasuk orang yang bersalah."

Allah Ta'ala mengisahkan bahwa ketika Yusuf lari menuju pintu untuk melarikan diri dari godaan wanita itu, wanita itu mengejarnya. Dalam keadaan berlari, wanita itu menarik baju gamis Yusuf dari belakang hingga baju itu koyak. Mereka berdua kemudian bertemu dengan suami wanita itu, yaitu Al-Aziz, di depan pintu.

Melihat keadaan tersebut, wanita itu langsung memutar balik fakta untuk menyelamatkan dirinya. Ia menuduh Yusuf dengan berkata, "Apakah balasan terhadap orang yang menginginkan kejahatan terhadap keluargamu?" Maksudnya, apa hukumannya? "Selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan siksa yang pedih?"

Mendengar tuduhan itu, Yusuf segera membela diri dengan mengatakan, "Dia menggodaku untuk menundukkan diriku (kepadanya)." Aku yang digoda, bukan menggoda.

Untuk mencari kejelasan, seorang saksi dari keluarga wanita itu, yang disebutkan dalam riwayat sebagai seorang bayi dalam buaian atau sepupunya yang bernama Bisyur, memberikan kesaksian yang cerdas. Ia berkata, "Mari kita lihat buktinya. Jika baju gamisnya koyak di depan, berarti Yusuf mengejar wanita itu dan wanita itu berusaha membela diri, maka wanita itu benar dan Yusuf dusta. Namun, jika baju gamisnya koyak di belakang, berarti Yusuf lari menjauh dan wanita itu menariknya dari belakang, maka wanita itu dusta dan Yusuf benar."

Ketika suami wanita itu, Al-Aziz, melihat bahwa baju gamis Yusuf koyak dari belakang, menjadi jelas baginya bahwa istrinyalah yang bersalah. Maka ia pun berkata kepada istrinya, "Sesungguhnya ini adalah tipu dayamu. Tipu dayamu memang besar." Kemudian ia menengahi dengan bijak. Kepada Yusuf ia berkata, "Hai Yusuf, berpalinglah dari ini." Maksudnya, lupakanlah masalah ini, jangan sebarkan. Dan kepada istrinya ia berkata, "Dan (kamu, hai istriku) mohon ampunlah atas dosamu. Sesungguhnya engkau termasuk orang yang bersalah."

Kisah ini menunjukkan kebenaran Yusuf dan kebijaksanaan Al-Aziz yang meskipun mengetahui kesalahan istrinya, ia berusaha menutupi aib keluarganya sembari menasihati istrinya untuk bertaubat.