Perang Nabi Muhammad

Ghazwah Badr

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mendengar tentang kafilah Quraisy yang baru pulang dari Syam menuju Mekah. Kafilah itu dipimpin oleh Abu Sufyan bin Harb dengan sekitar empat puluh orang.

Nabi berencana menyergap kafilah tersebut sebagai balasan atas perlakuan kaum musyrikin saat kaum muslimin hijrah ke Madinah. Beliau bersabda kepada para sahabat, "Ini adalah kafilah Quraisy yang membawa harta mereka. Keluarlah untuk menyergapnya."

Peristiwa ini terjadi pada tanggal 3 Ramadhan tahun 2 Hijriah. Jumlah kaum muslimin adalah 313 orang, dengan dua penunggang kuda dan tujuh puluh unta. Nabi mengangkat Abdullah bin Ummi Maktum sebagai wakil pemimpin di Madinah.

Ketika Abu Sufyan mengetahui rencana Nabi dan para sahabat, ia mengirim Dhamdham bin 'Amr Al-Ghifari untuk meminta bantuan penduduk Mekah. Setibanya di Mekah, Dhamdham berteriak, "Wahai kaum Quraisy! Harta kalian bersama Abu Sufyan disergap oleh Muhammad dan pengikutnya. Aku khawatir kalian tidak bisa menyelamatkannya!"

Kaum musyrikin marah besar. Mereka mempersiapkan 950 orang dengan 100 kuda dan 700 unta. Berita sampai kepada Rasulullah bahwa kafilah Abu Sufyan telah mengubah rute. Abu Sufyan mengirim pesan bahwa kafilahnya telah selamat dan bantuan tidak diperlukan lagi. Namun, Abu Jahal marah dan bersumpah, "Demi Allah, kami tidak akan pulang sebelum kami tiba di Badar!"

Rasulullah mengumpulkan para sahabat dan membacakan firman Allah, "Dan (ingatlah), ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu..." (QS. Al-Anfal: 7).

Al-Miqdad bin Al-Aswad berdiri dan berkata, "Majulah wahai Rasulullah, laksanakan apa yang Tuhanmu perintahkan. Demi Allah, kami tidak akan berkata kepadamu seperti perkataan Bani Israil kepada Musa. Kami akan berkata: Majulah, engkau dan Tuhanmu, dan berperanglah! Kami akan berperang bersamamu."

Rasulullah kemudian bertanya kepada kaum Anshar, "Berilah pendapat kalian, wahai manusia!" Sa'ad bin Mu'adz menjawab, "Wahai Rasulullah, kami telah beriman dan membenarkanmu, dan kami telah memberimu janji setia. Laksanakanlah perintah Allah. Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, seandainya engkau membawa kami menyebrangi lautan ini, pasti kami akan menyebrang bersamamu." Rasulullah pun bersabda, "Bergembiralah! Demi Allah, seolah-olah aku melihat tempat-tempat tewasnya musuh."

Kaum musyrikin tiba di Badar dan bermukim di 'Adwatul Qushwa (tepi jauh lembah), sementara muslimin di 'Adwatud Dunya (tepi dekat lembah). Kaum muslimin membangun tempat perlindungan sederhana untuk Nabi di atas bukit kecil. Dengan khusyuk, Nabi berdoa, "Ya Allah, inilah Quraisy datang dengan kesombongannya, mendustakan Rasul-Mu. Ya Allah, tolonglah kami dengan pertolongan yang Engkau janjikan. Ya Allah, jika kelompok kecil ini binasa hari ini, Engkau tidak akan disembah lagi di muka bumi."

Syal beliau terjatuh dari pundaknya. Abu Bakar berkata, "Wahai Rasulullah, Allah pasti akan memenuhi janji-Nya kepadamu." Kaum muslimin menutup sumur air—setelah mereka menguasai dan meminumnya—agar musyrikin tidak bisa meminumnya.

Sebelum pertempuran dimulai, tiga pendekar Quraisy: Utbah bin Rabi'ah, saudaranya Syaibah, dan anaknya Al-Walid, menantang duel. Tiga orang Anshar maju, tetapi mereka menolak dan berteriak, "Wahai Muhammad, keluarkanlah untuk kami orang-orang yang setara dari kaum kami." Maka Rasulullah mengutus Ubaidah bin Al-Harits, Hamzah bin Abdul Muthalib, dan Ali bin Abi Thalib. Hamzah berduel dengan Syaibah dan membunuhnya. Ali berduel dengan Al-Walid dan membunuhnya. Ubaidah dan Utbah saling melukai, lalu Hamzah dan Ali menyerang Utbah dan membunuhnya.

Pertempuran pun berkecamuk dengan dahsyat. Allah mengirimkan bala bantuan malaikat yang turut berperang bersama kaum muslimin. Allah berfirman, "Sungguh, jika kamu bersabar dan bertakwa, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolongmu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda." (QS. Ali 'Imran: 125)

Pertempuran berakhir dengan kemenangan kaum muslimin. Tujuh puluh musyrikin tewas dan tujuh puluh lainnya ditawan. Syuhada muslimin berjumlah empat belas orang. Jenazah musyrikin dilemparkan ke dalam sumur. Nabi meminta tebusan empat ribu dirham untuk setiap tawanan, mengikuti saran Abu Bakar. Bagi yang tidak mampu, diajarkan sepuluh anak muslim membaca dan menulis. Demikianlah kaum muslimin meraih kemenangan agung dengan keimanan mereka atas kaum musyrikin yang mengingkari Allah dan Rasul-Nya.

Ghazwah Uhud

Quraisy merasakan pahitnya kekalahan di Badar dan ingin membalas dendam. Mereka bersiap untuk menghadapi kaum muslimin lagi.

Shafwan bin Umayyah, Ikrimah bin Abu Jahal, dan Abdullah bin Rabi'ah mendatangi Abu Sufyan meminta dana dari keuntungan kafilah untuk membiayai pasukan. Keuntungannya sekitar lima puluh ribu dinar. Abu Sufyan setuju untuk memerangi muslimin. Mereka mengirim provokator ke berbagai kabilah untuk menghasut.

Quraisy mengumpulkan tiga ribu pasukan, disertai wanita untuk menyemangati mereka. Pasukan ini berangkat hingga tiba di Dzul Hulaifah, dekat Uhud.

Rasulullah mendengar kedatangan musyrikin dan bermusyawarah dengan para sahabat. Kaum tua menyarankan bertahan di Madinah, sedangkan kaum muda ingin menghadang di luar. Nabi memutuskan untuk keluar. Beliau memakai baju perang dan berangkat dengan seribu pasukan. Namun, Abdullah bin Ubay, sang munafik, menarik diri dengan sepertiga pasukan, berkata, "Kami tidak tahu untuk apa kami membunuh diri kami sendiri?"

Kaum muslimin berkemah di Gunung Uhud. Nabi menerapkan strategi jitu dengan menempatkan lima puluh pemanah pilihan di lereng gunung, dipimpin Abdullah bin Jubair, dengan perintah ketat untuk tidak meninggalkan posisi apapun yang terjadi.

Pertempuran berkobar. Hamzah bin Abdul Muthalib bertarung dengan gagah berani. Jubair bin Muth'im telah menjanjikan budaknya, Wahsyi, kebebasan jika bisa membunuh Hamzah. Wahsyi berkisah, "Aku mengawasi Hamzah... lalu melemparkan tombakku hingga menembus perutnya. Aku biarkan dia mati." Syahidnya Hamzah merupakan pukulan berat bagi muslimin, namun mereka tetap bertahan.

Mus'ab bin 'Umair bertarung melindungi Nabi hingga gugur. Pembunuhnya berlari memberitahu kaumnya bahwa dia telah membunuh Muhammad. Quraisy mulai kalah lagi. Bendera mereka jatuh terinjak-injak.

Melihat kekalahan musyrikin, para pemanah di atas gunung berkata, "Tidak ada gunanya kami berdiri di sini." Mereka lupa pada wasiat Nabi. Panglima mereka mengingatkan, tetapi tidak dihiraukan. Mereka turun untuk mengumpulkan harta rampasan. Khalid bin Al-Walid, yang saat itu masih musyrik, melihat celah ini. Dia dan sekelompok musyrikin menyerang dari belakang melalui gunung.

Kaum muslimin terkejut dan berlarian kocar-kacir. Bendera musyrikin berkibar lagi. Seorang musyrikin melemparkan batu ke arah Nabi, hingga meretakkan gigi seri beliau. Nabi terjatuh ke dalam lubang yang digali Abu 'Amir Ar-Rahib dan ditutupi jerami. Kepala beliau terluka. Sambil menyeka darah, beliau bersabda, "Bagaimana akan beruntung suatu kaum yang melumuri muka nabinya dengan darah, padahal dia mengajak mereka kepada Tuhannya?"

Nabi memanggil para sahabat, "Kemarilah, wahai hamba-hamba Allah!" Tiga puluh sahabat berkumpul. Beliau mengatur kembali barisan dan mengejar musuh untuk mengubah kemenangan mereka menjadi kekalahan. Setelah musuh cukup jauh, beliau memutuskan kembali ke Madinah.

Dari sini kita pahami, siapa yang menyalahi perintah Rasulullah, jangan mengira dirinya selamat dari takdir, kecuali Allah melimpahkan rahmat-Nya.

Ghazwah Al-Khandaq (Al-Ahzab)

Yahudi Bani Nadhir bertekad balas dendam kepada Nabi dan para sahabat yang mengusir mereka dari Madinah. Mereka berusaha membentuk front kuat untuk menghadapi muslimin.

Pemimpin Bani Nadhir mendatangi Quraisy mengajak memerangi muslimin. Mereka berhasil membuat perjanjian. Tidak puas, mereka juga mendatangi Bani Ghathafan, membujuk mereka bergabung dengan iming-iming hasil kurma Khaibar jika menang.

Maka, bergeraklah pasukan sepuluh ribu orang di bawah pimpinan Abu Sufyan bin Harb pada bulan Syawal tahun 5 Hijriah.

Mengetahui hal ini, Nabi bermusyawarah. Salman Al-Farisi menyarankan menggali parit (khandaq) di pinggiran Madinah. Nabi dan para sahabat menyetujui. Yahudi Bani Quraizhah awalnya membantu dengan menyediakan alat-alat, sesuai perjanjian.

Nabi dan para sahabat mengawasi penggalian. Mereka menemukan batu besar yang mematahkan alat-alat besi. Nabi mendekati batu itu, membaca "Bismillah," lalu memukulnya. Batu itu retak dan memancarkan cahaya. Nabi bertakbir, "Istana-istana Syam, demi Tuhan Ka'bah!" Pukulan kedua membuatnya kembali bersinar. Beliau bertakbir lagi, "Istana-istana Persia, demi Tuhan Ka'bah!"

Kaum muslimin menyelesaikan parit setelah sebulan bekerja dalam cuaca dingin dan kehidupan yang sulit. Barisan depan pasukan musyrikin tiba dari arah Uhud, tetapi terkejut dengan adanya parit yang tak terduga.

Musyrikin tidak menemukan cara untuk memasuki Madinah. Mereka menunggu berhari-hari. Kemudian, Huyay bin Akhtab menyusup ke Bani Quraizhah dan membujuk mereka membatalkan perjanjian dengan muslimin. Setelah mengonfirmasi kebenaran berita itu, Nabi merasa sedih. Muslimin terkepung dari segala penjuru, namun mereka tidak putus asa dari rahmat Allah.

Ikrimah bin Abu Jahal dan beberapa musyrikin berhasil menyusup ke Madinah, tetapi Ali menghadang mereka. Ada yang terbunuh, ada yang melarikan diri, termasuk Ikrimah.

Akhirnya, pertolongan Allah tiba. Ikatan pasukan musyrikin retak. Kepercayaan di antara suku-suku mereka hilang. Allah mengirim angin kencang yang merobek tenda, menghanyutkan perbekalan, dan memadamkan api mereka. Ketakutan melanda musyrikin, dan mereka melarikan diri ke Mekah.

Saat fajar tiba, kaum muslimin tidak menemukan musuh. Keimanan mereka bertambah, dan tawakal mereka kepada Allah semakin kuat. Ghazwah Al-Ahzab bukan sekadar pertempuran fisik, tetapi ujian kesabaran dan pengujian hati. Orang-orang munafik gagal, sementara orang-orang beriman berhasil.

Allah menurunkan firman-Nya, "Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah..." (QS. Al-Ahzab: 23-25).

Ghazwah Tabuk

Setelah Fathu Makkah dan masuknya seluruh Hijaz ke dalam Islam, bangsa Arab yang berada di bawah pengaruh Romawi di Syam merasa khawatir dengan kekuatan Islam. Romawi pun memutuskan menyerang muslimin. Mereka menyiapkan pasukan besar di selatan Syam.

Berita itu sampai kepada Rasulullah. Beliau menyerukan pengumpulan pasukan kuat untuk menghadang invasi Romawi. Beliau tahu keadaan sedang sulit, yaitu musim panas dan paceklik.

Nabi mengutus orang-orang untuk mendorong berbagai kabilah bergabung dan orang kaya untuk menyumbangkan harta. Utsman bin Affan menyumbangkan sepuluh ribu dinar, sembilan ratus unta, dan seratus kuda. Abu Bakar Ash-Shiddiq menyumbangkan seluruh hartanya. Abdurrahman bin 'Auf menyumbangkan empat puluh ribu dinar. Para wanita menyumbangkan perhiasan emas mereka.

Pasukan muslimin bergerak ke Tabuk pada bulan Rajab tahun 9 Hijriah dipimpin langsung oleh Nabi, berjumlah sekitar tiga puluh ribu orang. Nabi memberikan bendera komando kepada Abu Bakar. Mereka berkemah di Tsaniyyatul Wada'.

Cuaca sangat panas. Kaum muslimin kesulitan air dan perbekalan. Mereka terpaksa menyembelih unta dan memeras isi perutnya untuk diminum. Karena itulah, perang ini disebut Ghazwah Al-'Usrah (Perang Kesulitan).

Mereka tinggal di Tabuk sekitar dua puluh hari, tetapi tidak menemukan pasukan Romawi yang telah mundur setelah mengetahui kedatangan pasukan muslim yang siap mati syahid.

Nabi bermusyawarah untuk meneruskan perjalanan ke wilayah Syam yang lebih jauh. Umar bin Khattab menyarankan kembali ke Madinah. Nabi menyetujui saran itu, dan mereka pun pulang dengan penuh rasa syukur.

Fathu Makkah (Pembebasan Mekah)

Setelah Perjanjian Hudaibiyah, suku Bakr bergabung dengan Quraisy, sedangkan suku Khuza'ah bergabung dengan sekutu muslimin.

Antara Bani Bakr dan Khuza'ah sudah ada permusuhan dan pertumpahan darah sejak masa jahiliah. Suatu hari, Khuza'ah diserang oleh Bani Bakr yang didukung Quraisy. Sekitar dua puluh orang Khuza'ah tewas. Mereka berlindung di Haram, tetapi Bani Bakr mengejar dan membunuh beberapa orang di sana juga.

Amr bin Salim Al-Khuza'i datang kepada Nabi melaporkan penyerangan itu sambil bersyair meminta pertolongan. Rasulullah menjawab, "Engkau telah ditolong, wahai Amr bin Salim. Demi Allah, aku akan melindungimu dari apa yang aku lindungi diriku sendiri." Beliau berdoa, "Ya Allah, tutuplah mata dan berita dari Quraisy hingga kami menyerang mereka di negeri mereka sendiri."

Quraisy menyesali bantuan mereka kepada Bani Bakr dan pelanggaran perjanjian itu. Mereka mengutus Abu Sufyan ke Madinah untuk memperbaiki kesalahan, tetapi dia pulang dengan tangan hampa.

Rasulullah mulai mempersiapkan pasukan untuk berangkat ke Mekah. Banyak kabilah bergabung. Namun, terjadi sesuatu yang tak terduga dari seorang sahabat, Hathib bin Abi Balta'ah. Dia menulis surat rahasia kepada Quraisy memberitahu rencana Nabi, dan menyuruh seorang wanita menyembunyikannya di sanggul rambutnya. Wahyu turun memberitahu Nabi tentang hal ini. Ali bin Abi Thalib dan Az-Zubair bin Al-Awwam diutus mengejar wanita itu. Surat itu ditemukan.

Ketika Nabi menegurnya, Hathib berdalih bahwa tindakannya bukan karena murtad, tetapi karena khawatir akan keselamatan keluarganya di Mekah jika Nabi gagal. Umar meminta izin memenggal kepala "munafik" ini, tetapi Nabi bersabda, "Dia pernah ikut Perang Badar. Bagaimana engkau tahu, mungkin Allah telah melihat orang-orang yang ikut Badar lalu berfirman, 'Berbuatlah sesukamu, karena Aku telah mengampunimu'." Nabi memaafkannya.

Pasukan muslimin yang berjumlah sekitar sepuluh ribu orang bergerak ke Mekah pada pertengahan Ramadhan tahun 8 Hijriah. Mereka tiba di Marr Azh-Zhahran dekat Mekah dan memasang kemah. Mereka menyalakan sepuluh ribu api unggun hingga lembah itu terang benderang.

Abbas bin Abdul Muthalib bertemu dengan Abu Sufyan dan membawanya menghadap Nabi. Nabi bersabda, "Celaka engkau, wahai Abu Sufyan! Bukankah sudah saatnya engkau mengetahui bahwa tiada tuhan selain Allah?" Abu Sufyan menjawab, "Demi Allah, seandainya ada tuhan lain selain Dia, pasti dia telah menolongku sedikit pun." Nabi bertanya lagi, "Celaka engkau! Bukankah sudah saatnya engkau mengetahui bahwa aku adalah utusan Allah?" Abu Sufyan berkata, "Masih ada keraguan dalam hatiku tentang ini."

Setelah dialog panjang, Abu Sufyan masuk Islam. Abbas berkata, "Abu Sufyan suka kebanggaan, berilah dia sesuatu." Maka Nabi bersabda, "Siapa yang masuk ke rumah Abu Sufyan, dia aman. Siapa yang masuk ke Masjidilharam, dia aman. Siapa yang mengunci pintu rumahnya, dia aman."

Nabi ingin menunjukkan kekuatan muslimin kepada Abu Sufyan. Beliau menahannya di celah gunung. Berbagai kabilah dengan panji-panji mereka berjalan lewat, diikuti Nabi dengan pasukan khususnya (Al-Katibah Al-Khadhra'). Abu Sufyan pun berkata, "Tidak ada seorang pun yang mampu melawan mereka."

Abu Sufyan segera kembali ke Mekah dan berteriak, "Wahai kaum Quraisy! Ini Muhammad datang dengan pasukan yang tak dapat kalian lawan. Siapa yang masuk rumahku, dia aman! Siapa yang mengunci pintunya, dia aman! Siapa yang masuk masjid, dia aman!" Orang-orang pun berlindung di rumah dan masjid, mengintip dari celah-celah pintu.

Pasukan muslimin memasuki Mekah pada pagi Jumat, 20 Ramadhan tahun 8 Hijriah. Nabi memasuki Mekah dari arah atas sambil membaca, "Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata." (QS. Al-Fath: 1)

Mekah menyerah. Kaum muslimin bertakbir menggema di penjuru kota. Nabi menuju Al-Haram, thawaf mengelilingi Ka'bah, dan memerintahkan penghancuran berhala-berhala di sekitarnya. Beliau menunjukinya sambil membaca, "Dan katakanlah, 'Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap.' Sesungguhnya yang batil itu pasti lenyap." (QS. Al-Isra': 81)

Setelah Ka'bah dibersihkan, Nabi memerintahkan Bilal untuk mengumandangkan azan di atasnya. Kemudian Nabi bersabda kepada kaum Quraisy, "Menurut kalian, apa yang akan kulakukan terhadap kalian?" Mereka menjawab, "Kebaikan. Saudara yang mulia, putra saudara yang mulia." Nabi pun bersabda, "Pergilah, kalian sekarang bebas (ath-thulaqa')."

Betapa indahnya memaafkan ketika mampu membalas. Betapa manisnya sikap toleransi dan menjauhi balas dendam. Bandingkanlah dengan apa yang dilakukan para pemenang perang dunia terhadap yang kalah di abad kita—abad peradaban menurut mereka—untuk melihat perbedaan antara Islam dan kekufuran. Demikianlah bendera Islam berkibar di Mekah dan sekitarnya.

Ghazwah Khaibar

Tidak lama setelah Rasulullah kembali dari Perjanjian Hudaibiyah dan beristirahat sebulan di Madinah, beliau memerintahkan berangkat ke Khaibar. Yahudi Khaibar memusuhi muslimin dan telah berusaha keras menghimpun pasukan sekutu (Al-Ahzab) dalam Perang Khandaq.

Nabi berangkat pada awal tahun 7 Hijriah dengan pasukan 1.600 orang. Khaibar adalah benteng kuat yang terdiri dari delapan kastil terpisah. Yahudi Khaibar adalah kelompok Yahudi terkuat dan paling banyak persenjataannya.

Pertempuran sengit terjadi. Yahudi bertahan mati-matian. Saling tembak-menembak berlangsung selama enam malam.

Pada malam ketujuh, Umar bin Khattab menangkap seorang Yahudi yang keluar dari benteng. Orang itu berkata, "Jika kalian jamin keselamatanku, aku akan tunjukkan jalan kemenangan." Setelah dijamin, dia berkata, "Penghuni benteng ini telah putus asa dan akan keluar besok. Jika benteng ini terbuka, mintalah rumah yang di dalamnya ada manjanik, baju besi, dan pedang untuk menaklukkan benteng lain."

Rasulullah bersabda, "Besok akan aku serahkan bendera kepada seseorang yang Allah beri kemenangan melalui tangannya, yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan dicintai Allah dan Rasul-Nya."

Semua orang berharap mendapatkannya. Keesokan harinya, Nabi bertanya, "Mana Ali bin Abi Thalib?" Dijawab, "Matanya sakit, wahai Rasulullah." Nabi memanggilnya, meludahi matanya dengan ludah suci, dan mendoakannya hingga sembuh. Lalu Nabi memberinya bendera sambil bersabda, "Demi Allah, jika Allah memberi petunjuk satu orang lewatmu, itu lebih baik bagimu daripada unta merah."

Saat Ali mendatangi mereka, Marhab si Yahudi keluar dengan sombongnya. Ali membunuhnya. Muslimin mengepung benteng-benteng. Semangat juang mereka tak terbendung. Benteng demi benteng jatuh. Yahudi putus asa dan meminta berdamai dengan syarat nyawa mereka dijamin. Nabi menerimanya. Tanah mereka menjadi milik Allah, Rasul-Nya, dan kaum muslimin.

Demikianlah muslimin menguasai Khaibar dan mendapatkan banyak senjata serta harta rampasan. Tiga puluh tiga orang Yahudi tewas, lima belas muslim syahid. Di antara rampasan itu terdapat beberapa naskah Taurat. Atas permintaan Yahudi, Nabi mengembalikannya—tidak seperti tindakan Romawi yang membakar kitab suci saat menduduki Yerusalem, atau pasukan Tartar yang membakar buku-buku di Baghdad.

Ghazwah Mu'tah

Pada bulan Jumadil Awal tahun 8 Hijriah, Rasulullah mempersiapkan pasukan untuk membalas kematian Al-Harits bin 'Umair yang diutus beliau membawa surat dakwah kepada penguasa Bushra.

Nabi mengangkat Zaid bin Haritsah sebagai komandan, dengan sabda, "Jika Zaid gugur, maka Ja'far bin Abi Thalib. Jika Ja'far gugur, maka Abdullah bin Rawahah. Jika Abdullah gugur, maka Khalid bin Al-Walid."

Pasukan berjumlah tiga ribu orang dari Muhajirin dan Anshar. Nabi berpesan untuk tidak membunuh wanita, anak kecil, orang tua renta, menebang pohon, atau merobohkan bangunan.

Mereka tiba di Ma'an, wilayah Syam. Heraclius telah menghimpun dua ratus ribu pasukan. Dua pasukan yang tidak seimbang ini bertemu. Kaum muslimin bertempur dengan gagah berani. Zaid bin Haritsah, sang pembawa bendera, gugur. Komando beralih ke Ja'far bin Abi Thalib. Ia membawa bendera dengan tangan kanannya hingga terpotong, lalu dengan tangan kirinya hingga terpotong lagi. Akhirnya ia memeluk bendera dengan kedua lengannya hingga seorang Romawi menebasnya. Ia syahid dan digelari "Dzul Janahain" (Pemilik Dua Sayap), karena Allah mengganti kedua tangannya dengan dua sayap di surga.

Bendera lalu dipegang Abdullah bin Rawahah. Ia bertempur hingga syahid. Khalid bin Al-Walid mengambil alih. Dengan kecerdikan taktik perang, ia menyelamatkan pasukan dari kekalahan yang hampir terjadi. Ia memanfaatkan malam untuk mengubah formasi: sayap kanan menjadi kiri, sayap kiri menjadi kanan, barisan depan menjadi belakang, dan sebaliknya.

Saat pagi tiba, Romawi kebingungan melihat perubahan formasi dan mendengar gemuruh suara. Mereka mengira bantuan telah datang. Ketakutan melanda, dan mereka mundur. Khalid terus mengatur strategi mundur sambil tetap bertempur selama beberapa hari hingga Romawi khawatir terjebak ke padang pasir. Pertempuran pun berhenti.

Demikianlah, kekalahan pasukan muslimin berubah menjadi kemenangan. Sungguh, kemenangan terbesar adalah ketahanan tiga ribu pasukan menghadapi dua ratus ribu musuh. Sungguh langka seorang prajurit bertahan melawan tujuh puluh musuh bersenjata. Kekuatan imanlah yang membuat muslimin tegar.

Ghazwah Hunain

Setelah muslimin menaklukkan Mekah, kabilah-kabilah sekitar Quraisy gelisah dengan kemenangan muslimin atas Quraisy.

Hawazin dan Tsaqif khawatir menjadi sasaran berikutnya. Mereka berkata, "Mari kita serang Muhammad sebelum dia menyerang kita." Kedua kabilah ini meminta bantuan kabilah tetangga. Mereka mengangkat Malik bin 'Auf sebagai panglima. Ia memerintahkan agar para wanita, anak-anak, hewan ternak, dan harta dibawa ke barisan belakang, agar para lelaki bertarung mati-matian membela mereka.

Nabi mengetahui hal ini dan berangkat menghadapi mereka pada bulan Syawal tahun 8 Hijriah. Jumlah muslimin dua belas ribu orang: sepuluh ribu yang ikut Fathu Makkah, dan dua ribu orang Quraisy yang baru masuk Islam.

Melihat jumlah yang besar, sebagian muslimin terperdaya dan berkata, "Kita tidak akan kalah karena sedikit."

Musuh mengetahui kedatangan muslimin dan menyiapkan penyergapan di mulut Wadi Authas (dekat Thaif). Jumlah mereka dua puluh ribu.

Nabi dan para sahabat tiba di lembah saat menjelang fajar, gelap masih menyelimuti. Tiba-tiba, hujan anak panah menghujani mereka dari segala penjuru. Kekacauan terjadi. Barisan muslimin goyah, dan banyak yang berlarian.

Melihat kekalahan ini, Nabi berseru, "Aku Nabi, tidak dusta. Aku putra Abdul Muthalib." Beliau menyuruh Abbas memanggil kaum muslimin, "Wahai kaum Anshar! Wahai kaum Muhajirin! Wahai para peserta Bai'atush Syajarah (Bai'atur Ridhwan)!" Seruan ini membangkitkan semangat iman dan keberanian. Mereka menjawab, "Kami memenuhi panggilanmu, wahai Rasulullah!"

Pasukan kembali tertata. Pertempuran memanas kembali. Nabi mengawasi langsung. Tak lama kemudian, musyrikin kalah dan berlarian, meninggalkan wanita, harta, dan anak-anak. Muslimin sibuk menangkap tawanan dan mengumpulkan rampasan. Tawanan musyrikin hari itu berjumlah enam ribu orang.

Demikianlah, kekalahan berubah menjadi kemenangan dengan izin Allah. Hunain menjadi pelajaran berharga bagi muslimin: kemenangan bukan karena banyaknya jumlah dan peralatan, dan sikap bangga akan hal itu bukanlah akhlak muslim.

Beberapa waktu kemudian, delegasi Hawazin datang menyatakan masuk Islam. Delegasi Tsaqif juga menyatakan keislaman. Mereka yang kemarin saling bertempur, kini menjadi bersaudara dalam agama Allah.