Masjid Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
Masjid Nabawi adalah masjid kedua yang menjadi tujuan ziarah (rihal) dalam Islam setelah Masjidilharam. Letaknya di sebelah timur Kota Madinah Al-Munawwarah. Masjid ini memiliki peran penting dalam sejarah Islam dan kedudukan agung di hati setiap muslim. Inilah masjid yang didirikan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam atas dasar ketakwaan sejak hari pertama, sebagai mercusuar yang menerangi jalan umat manusia, sekolah tempat dididiknya manusia-manusia terhebat sepanjang sejarah, serta pusat agung bagi penyebaran dakwah dan agama Islam.
"Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa, sejak hari pertama adalah lebih pantas engkau melaksanakan salat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Allah menyukai orang-orang yang bersih." (QS. At-Taubah: 108)
Salat di Masjid Nabawi memiliki pahala yang sangat besar. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Salat di masjidku ini lebih utama daripada seribu salat di masjid lain, kecuali Masjidilharam." (HR. Bukhari). Beliau juga bersabda, "Antara rumahku dan mimbarku adalah taman dari taman-taman surga." (HR. Bukhari).
Sejarah Singkat
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam keluar dari Mekah untuk berhijrah dan tiba di Madinah setelah perjalanan panjang dan melelahkan. Penduduk Madinah menyambut kedatangan beliau. Awalnya, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam singgah dan meletakkan fondasi Masjid Quba. Kemudian beliau melanjutkan perjalanan dengan diiringi warga yang berebut ingin menuntun untanya dan menjamunya.
Dengan lembut, beliau berkata, "Biarkanlah dia, karena dia diperintah (oleh Allah)." Unta tersebut berjalan menyusuri jalan-jalan Madinah, sementara penduduk setiap kampung berharap dapat kehormatan menjadi tuan rumah Nabi. Akhirnya, unta itu berhenti di sebuah tempat penjemuran kurma milik dua anak yatim dari kalangan Anshar.
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam turun seraya bersabda, "Inilah tempatnya, insya Allah." Tempat itu dekat dengan rumah Abu Ayyub, yang kemudian membawa barang-barang Nabi ke rumahnya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menawarkan untuk membeli tanah tersebut. Pemiliknya berkata, "Kami berikan saja kepada Anda, wahai Rasulullah, tanpa bayaran." Namun, beliau menolak menerimanya tanpa membayar dan membelinya dengan sepuluh dinar, lalu mendirikan masjid di atasnya.
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mulai membangun Masjid Nabawi sebagai pusat pelaksanaan ibadah dan pengaturan urusan masyarakat. Beliau sendiri ikut bekerja membangunnya, menggali tanah, mengangkut batu, dan bergotong royong dengan para sahabat.
Saat pembangunan selesai pada masa Nabi, luas masjid sekitar 1.600 meter persegi. Lantainya dari pasir, atapnya dari pelepah kurma, tiang-tiangnya dari batang pohon kurma, dan dindingnya dari batu serta bata lumpur. Kiblatnya awalnya menghadap Baitulmaqdis, di mana muslimin salat ke arah itu selama sekitar 16 bulan sebelum dipindahkan ke Ka'bah atas perintah Allah, kira-kira dua bulan sebelum Perang Badar.
Nabi membuat tiga pintu untuk masjidnya dan menyiapkan tempat teduh (as-Suffah) di bagian belakang untuk menampung musafir, orang asing, dan fakir miskin yang tidak memiliki rumah. Kelak mereka dikenal sebagai Ahlus Suffah.
Perluasan dan Renovasi Sepanjang Sejarah
Pada masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu, dilakukan perbaikan dan renovasi kecil, mengganti tiang-tiang yang lapuk tanpa menambah luas masjid, karena kesibukan menghadapi Perang Riddah dan masa kekhalifahan yang singkat.
Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu memperluas masjid hingga luasnya mendekati 6.400 meter persegi. Beliau berpesan kepada pelaksananya, "Lindungilah orang-orang dari hujan. Janganlah kau cat dengan merah atau kuning yang akan mengganggu kekhusyukan orang." Perluasan Umar menghilangkan bangunan dan rumah di sekeliling masjid dari arah barat, utara, dan selatan. Sisi timur tidak diubah karena terdapat kamar-kamar istri Nabi.
Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu menambah luas masjid menjadi 8.000 meter persegi. Dindingnya dibangun dengan batu pahat, atapnya dilapisi kayu saj, dan pintu-pintu baru ditambahkan.
Pada masa Umayyah, Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik memberikan perhatian besar. Masjid diperluas dan dibangun ulang dengan tiang dari batu yang diisi besi dan timah. Batu pahat, plester, mosaik, dan cat digunakan sebagai bahan. Atapnya memakai kayu saj. Untuk pertama kalinya, kamar-kamar istri Nabi dimasukkan ke dalam kompleks masjid. Al-Walid tidak segan memberi insentif kepada pekerja terampil sebanyak 30 dirham di atas upah tetap.
Di era Abbasiyah, para khalifah melanjutkan pemeliharaan dan pembangunan masjid. Dilakukan renovasi, perluasan, serta penulisan Surah Al-Fatihah dan ayat-ayat lain di dinding. Pada malam Jumat di bulan Ramadhan 654 H/1256 M, terjadi kebakaran besar akibat kelalaian seorang penjaga. Khalifah Al-Mu'tashim Billah segera memerintahkan pemugaran dan perbaikan.
Pada masa Sultan Utsmaniyah Abdul Majid, dilakukan renovasi yang dianggap paling indah dan teliti. Setelah menerima laporan retak dari Syaikhul Haram Daoud Pasha, Sultan mengirimkan insinyur dan pekerja. Pekerjaan yang berlangsung 13 tahun itu menghasilkan masjid dengan 12 baris pilar (ba'ikah), masing-masing terdiri dari 27 tiang yang menyangga kubah-kubah dihiasi lukisan pemandangan kota-kota Turki seperti Istanbul dan Ankara. Pilar di sekitar mihrab terbuat dari batu api yang dilapisi marmer, dengan mahkota tiang berlapis emas dan alas dari kuningan. Antara mahkota tiang disambung papan kayu berlapis kuningan, tergantung lampu gantung (kristal) dari rantai emas dan perak.
Perluasan Besar di Era Saudi
Di era modern di bawah Kerajaan Saudi, Masjid Nabawi mengalami transformasi besar dalam perluasan dan pemugarannya, dimulai dari masa Raja Abdul Aziz, dilanjutkan Raja Saud, Raja Faisal, Raja Khalid, dan puncaknya pada era Raja Fahd bin Abdul Aziz dengan empat perluasan besar.
Perluasan pertama meliputi perbaikan bagian yang rusak, pemugaran kamar Nabi (Al-Hujrah), kubah hijau, tempat salat Nabi, mimbar, pilar-pilar bersejarah, dan menara utama, dengan tetap mempertahankan arsitektur masa Sultan Abdul Majid. Raja Abdul Aziz menambah lima pintu baru: Bab Al-Malik, Bab Umar bin Khattab, Bab Utsman bin Affan, Bab Abdul Aziz, dan Bab Al-Majidi, sehingga total menjadi sepuluh pintu.
Perluasan kedua di masa Raja Faisal menambah area baru yang diberi atap. Perluasan ketiga di era Raja Khalid menambah lapangan luas yang beratap. Perluasan keempat di bawah Raja Fahd adalah yang terbesar sepanjang sejarah, melipatgandakan luas masjid berkali-kali lipat. Dibangun tujuh pintu utama baru plus dua di sisi selatan, dengan total 59 gerbang. Ditambah delapan gerbang untuk eskalator yang melayani lantai atas yang digunakan untuk salat, serta 18 tangga dalam. Teknologi modern diterapkan untuk listrik, pendingin udara, distribusi air, dan sanitasi. Lantai dilapisi marmer. Kapasitas masjid dan pelatarannya mencapai 650.000 jamaah pada hari biasa, dan bisa mencapai sekitar satu juta jamaah saat musim haji dan umrah.
Masjid kini dihiasi ornamen dan ukiran seperti cornice yang memperindah dinding, langit-langit, dan menara, serta karya besi tempa, *mashrabiyyah* (jendela kayu berukir), kaca patri, mahkota pilar, dan pelapis marmer. Untuk kenyamanan, diterapkan sistem pendingin udara baru melalui pipa air dingin. Masjid juga dilengkapi area parkir, fasilitas komersial, tempat wudu, toilet, dan pelataran luas berlapis marmer dengan pola geometris Islami.
Al-Hujrah An-Nabawiyyah (Kamar Nabi)
Terletak di sudut tenggara masjid, dikelilingi pagar (maqshurah) dari kuningan setinggi sekitar 6 meter. Di dalamnya terdapat bangunan segi lima yang dibangun Nuruddin Zanki, fondasinya sangat dalam dan dituangi timah agar tidak bisa digali atau ditembus. Di dalam bangunan ini terdapat makam Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, Abu Bakar Ash-Shiddiq, dan Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhuma. Di utaranya terdapat pagar kuningan lain yang dihubungkan dengan dua pintu. Kamar Nabi dikelilingi empat pilar penyangga Kubah Hijau. Sedangkan Ar-Raudhah Asy-Syarifah (taman surga) terletak antara mimbar dan makam Nabi, dengan panjang 22 meter dan lebar 15 meter.
Mimbar
Awalnya, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berpidato dengan berdiri bersandar pada sebuah batang kurma. Seorang sahabat baru kemudian menawarkan untuk membuatkan mimbar bertangga. Mimbar pertama terbuat dari kayu pada tahun ke-8 atau 9 Hijriah. Ketika Nabi beralih dari batang kurma ke mimbar baru, batang kurma tersebut merintih seperti rintihan unta yang kehilangan anaknya, hingga Nabi menepuknya untuk menenangkannya.
Nabi berdiri di anak tangga ketiga saat berkhotbah. Abu Bakar kemudian turun satu tingkat, diikuti Umar satu tingkat lagi. Utsman awalnya berdiri di tangga terbawah dengan kaki menyentuh tanah selama enam tahun, kemudian naik ke posisi Nabi saat jamaah semakin banyak. Marwan bin Al-Hakam menambah enam anak tangga di bawahnya, sehingga meninggikan mimbar asli. Mimbar Nabi terbakar dalam peristiwa kebakaran tahun 654 H. Sepanjang sejarah, berbagai penguasa menggantinya dengan mimbar baru, hingga yang terakhir adalah mimbar marmer indah yang dikirim Sultan Murad Khan tahun 998 H/1590 M.
Menara
Awalnya masjid tidak memiliki menara. Bilal radhiyallahu 'anhu mengumandangkan azan dari atap rumah terdekat. Al-Walid bin Abdul Malik adalah yang pertama memperkenalkan mihrab ceruk, *shanashîr* (ornemen atap), dan menara—sebanyak empat buah di setiap sudut masjid. Pada masa Sultan Mamluk Al-Asyraf Qaitbay, sebuah sambaran petir menyebabkan kebakaran yang merusak menara utama, kubah kamar Nabi, atap, pintu, dan perpustakaan. Perbaikan kemudian dilakukan.
Dalam perluasan Saudi keempat di era Raja Fahd, dibangun enam menara baru setinggi 99 meter (105 meter dengan hiasan bulan sabit), lebih tinggi 33 meter dari empat menara lama: Al-Aziziyyah, As-Sinjariyyah, Ar-Ra'isiyyah, dan Bab As-Salam.
As-Suffah
Merupakan tempat teduh di bagian belakang masjid (selatan) saat kiblat masih ke Baitulmaqdis, kemudian pindah ke utara setelah pemindahan kiblat, tepatnya di pojok timur laut. Tempat ini menjadi tempat tinggal sementara para Muhajirin yang tidak memiliki rumah atau keluarga di Madinah. Mereka tinggal di masjid hingga mendapat pekerjaan. Jumlah Ahlus Suffah pernah mencapai 600 orang. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sering duduk bersama dan berbagi makanan dengan mereka. Para sahabat lain juga sering menjamu mereka. Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu adalah salah satu yang terkenal dari Ahlus Suffah. Perlahan, seiring membaiknya keadaan ekonomi para Muhajirin, mereka pindah ke rumah masing-masing dan As-Suffah pun tidak lagi digunakan.
Perpustakaan dan Pendidikan
Masjid Nabawi memiliki banyak lemari buku yang berkembang pesat pada masa Mamluk, dengan perpustakaan yang berdiri sendiri atau melekat pada *ribath* (asrama) dan sekolah. Pada akhir era Utsmaniyah, terdapat 88 perpustakaan umum dan khusus. Yang paling terkenal adalah Perpustakaan Arif Hikmat, yang didirikan oleh seorang ulama dan hakim Turki, yang menyimpan banyak khazanah dan manuskrip berharga.
Madinah sepanjang sejarah didatangi banyak ulama dari Syam, Mesir, Maghrib, Asia Tengah, dan India. Mereka tinggal beberapa tahun untuk "bermuqim" (tinggal dekat masjid) dan belajar. Mereka membuka halaqah (lingkaran) ilmu di masjid yang dapat diikuti siapa saja tanpa biaya dan kurikulum tetap. Pada akhir abad ke-13 H, pemerintah Utsmaniyah di era Sultan Sulaiman Al-Qanuni mulai memberi gaji kepada 18 pengajar tetap di Masjid Nabawi. Namun, jumlah pengajar sukarela yang hidup dari sumbangan atau usaha pribadi jauh lebih banyak.
Di samping halaqah, terdapat juga *kuttab* (sekolah dasar tradisional) yang mengajarkan Al-Qur'an dan hadis kepada anak-anak sejak dini. Beberapa *kuttab* berada di dalam masjid, dengan guru dan asisten yang digaji oleh Baitul Mal Nabawi. Sebagian lain tersebar di berbagai penjuru kota dengan sistem pembayaran dari orang tua murid, termasuk hadiah khusus saat seorang anak khatam Al-Qur'an.
Hingga kini, kegiatan pengajaran tetap berlangsung di Masjid Nabawi yang dibawakan oleh ulama-ulama besar, dengan materi tetap dalam bidang fikih, tafsir, dan ilmu agama lainnya.