Sejarah Kota Mekkah

Asal Usul Nama Mekah Al-Mukarramah.

Mekah Al-Mukarramah merupakan kota tua dengan akar sejarah yang sangat dalam. Namanya mengalami perubahan seiring perjalanan waktu. Kemungkinan besar, nama ini berasal dari kata dalam bahasa Semit "Bakka" yang berarti lembah. Penulisan "Bakkah" muncul dalam Al-Qur'an, Surah Ali 'Imran.

"Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia."

Referensi tertulis paling awal tentang Mekah kemungkinan berasal dari Ptolomeus pada abad kedua Masehi, yang menyebutkan kota bernama "Makoraba". Para ahli sepakat bahwa kota yang dimaksud adalah Mekah Al-Mukarramah.

Yaqut Al-Hamawi dalam kamus geografinya mencatat beberapa riwayat tentang asal nama Mekah. Di antaranya adalah bahwa nama "Mekah" berasal dari:

* "Makk Al-Qadii" yang artinya menghisap, merujuk pada sedikitnya sumber air di sana.

* Kota ini diyakini menghapus (tamukku) dosa-dosa, sebagaimana anak unta menghisap habis (yamukku) susu induknya.

* Kota ini mampu menghancurkan (tamukku) kezaliman. Sebuah syair menyebut: "Wahai Mekah fajar, hancurkanlah (mikki) dengan sepenuhnya, dan jangan kau hancurkan (la tamukki) Mudhajjihan dan 'Ukka."

Sejarah dari Masa ke Masa Hingga Fajar Islam

* Masa Nabi Ibrahim 'alaihis salam.

Permukiman di Mekah diperkirakan bermula pada era Nabi Ibrahim dan putranya, Ismail 'alaihimas salam, sekitar abad ke-19 sebelum Masehi. Hal ini sesuai dengan doa Nabi Ibrahim yang tercantum dalam Al-Qur'an.

"Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, agar mereka mendirikan salat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur." (QS. Ibrahim: 37)

Allah mengabulkan doa tersebut. Saat persediaan air Hajar dan Ismail habis, memancarlah mata air Zamzam dari bawah kaki Ismail, menarik berbagai suku untuk bermukim di sekitarnya.

* Masa Kekuasaan Suku Khuza'ah.

Sekitar akhir abad ketiga Masehi, suku Khuza'ah di bawah pimpinan Rabi'ah bin Al-Harits berhasil menguasai Mekah. Penerusnya, 'Amr bin Luhay Al-Khuza'i, dikenal sebagai orang yang pertama kali memperkenalkan penyembahan berhala, menyimpang dari ajaran tauhid Nabi Ibrahim.

* Masa Kekuasaan Suku Quraisy.

Kekuasaan atas Mekah beralih ke suku Quraisy setelah proses arbitrase oleh Ya'mur bin 'Auf. Keputusan menyatakan bahwa hak pengurusan Ka'bah (hijabah) dan pemerintahan Mekah diberikan kepada Qushay dari Quraisy, bukan lagi Khuza'ah, meskipun Khuza'ah tetap boleh tinggal di Mekah.

Peristiwa penting pada era ini adalah serangan Abrahah Al-Asyram dengan pasukan bergajah untuk menghancurkan Ka'bah pada tahun 571 M, yang dikenal sebagai Tahun Gajah. Tahun yang sama merupakan tahun kelahiran Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.

* Mekah pada Masa Kenabian Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.

Kedatangan Islam membawa transformasi besar bagi Mekah dan dunia. Rasulullah menekankan pentingnya menuntut ilmu, sebagaimana tergambar dalam wahyu pertama Surah Al-'Alaq. Beliau juga melakukan reformasi sosial besar, seperti menghentikan tradisi mengubur bayi perempuan hidup-hidup, mengatur poligami, menata hukum perkawinan dan perceraian, serta melenyapkan fanatisme kesukuan.

Setelah Penaklukan Mekah (Fathu Makkah), kota ini menjadi pusat keilmuan. Sahabat-sahabat ternama seperti Ibnu Mas'ud, Ibnu Abbas, dan Abu Dzar Al-Ghifari sering berkunjung dan berbagi ilmu di sana.

* Masa Kekhalifahan Rasyidin.

Masjidilharam menjadi pusat kegiatan keagamaan dan intelektual, dipenuhi halaqah ilmu. Khalifah Umar bin Khattab melakukan perluasan pertama masjid pada tahun 17 H dengan menambah tembok dan pintu. Khalifah Utsman bin Affan kemudian memperluasnya lagi dan membangun serambi beratap, serta menutupi Ka'bah dengan kain mewah bernama Qibathi.

* Masa Kekhalifahan Umayyah.

Dimulai pada masa Mu'awiyah bin Abu Sufyan (41 H), dinasti ini melakukan berbagai pembangunan infrastruktur dan memajukan urusan keagamaan. Pada tahun 91 H, Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik memperluas Masjidilharam secara signifikan, menggunakan pilar marmer dan atap kayu berhias.

* Masa Kekhalifahan Abbasiyah.

Para khalifah Abbasiyah sangat memperhatikan pembangunan fisik dan keilmuan di Masjidilharam. Khalifah Abu Ja'far Al-Mansur (139 H) dan Al-Mahdi (160-164 H) melakukan perluasan besar-besaran, memperindah interior dengan marmer dan ukiran, serta mendorong berkembangnya majelis ilmu. Pada periode ini juga terjadi beberapa pemberontakan dari kalangan Alawiyyin yang dapat dipadamkan.

Tahun 317 H menjadi catatan kelam ketika gerakan Qaramithah menyerbu Mekah pada musim haji dan mencuri Hajar Aswad, yang baru dikembalikan 13 tahun kemudian.

* Masa Pemerintahan Para Syarif Mekah.

Kekuasaan atas Mekah kemudian dipegang oleh berbagai dinasti Syarif (keturunan Nabi). Setelah Khasyidiyyun (331-357 H), tampuk kepemimpinan berganti di antara keluarga Musawiyyin, Sulaimaniyyun, dan Hawasyim. Pada tahun 597 H, Bani Qatadah berkuasa dan memerintah Mekah selama sekitar tujuh setengah abad, hingga akhirnya digantikan oleh pemerintahan Saudi.

Pemerintahan Saudi

Pada 17 Rabiul Awal 1343 H, Raja Abdul Aziz rahimahullah memasuki Mekah dalam keadaan berihram dan disambut oleh penduduk. Sejak saat itu, Mekah Al-Mukarramah mengalami pembangunan menyeluruh yang belum pernah terjadi sebelumnya, mencakup pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial, dan budaya.

Perluasan Masjidilharam Sepanjang Sejarah

Allah menyebut "Al-Masjidilharam" sebanyak lima belas kali dalam Al-Qur'an, menunjukkan keagungan dan kedudukannya. Pembangunan fisiknya dimulai oleh Nabi Ibrahim dan Ismail. Setelah masa Khulafaur Rasyidin, perluasan dilakukan bertahap:

1. Umar bin Khattab (17 H): Perluasan pertama dengan pembuatan tembok dan pintu. 2. Utsman bin Affan (26 H): Membangun serambi (riwaq) beratap. 3. Abdullah bin Zubair (66 H): Melakukan renovasi dan perluasan. 4. Al-Walid bin Abdul Malik (91 H): Perluasan besar, memperkenalkan pilar marmer. 5. Abu Ja'far Al-Mansur (139 H) & Al-Mahdi (160-164 H): Perluasan dari berbagai sisi, penambahan ornamen. 6. Al-Mu'tadhid Billah (284 H): Penambahan area dan pintu baru (Bab Az-Ziyadah). 7. Al-Muqtadir Billah (306 H): Perluasan di area Bab Ibrahim. 8. Setelah kebakaran tahun 604 H, Sultan Faraj bin Barquq dari Mesir melakukan restorasi besar-besaran. 9. Sultan Salim Al-Utsmani (979 H): Melakukan renovasi menyeluruh. 10. & 11. Pemerintah Saudi: Melakukan dua tahap perluasan monumental (Tahap Pertama tahun 1375 H dan Tahap Besar di bawah Raja Fahd) yang meningkatkan kapasitas masjid secara drastis.

Aspek Geografis

1. Letak Geografis: Kota Mekah terletak di lereng bawah Pegunungan Sarawat, di perbatasan antara dataran rendah Tihamah dan pegunungan. Posisinya di barat Jazirah Arab, sekitar 75 km timur Laut Merah dan 80 km barat laut kota Thaif.

2. Koordinat Astronomis: 21°25'19" Lintang Utara dan 39°59'26" Bujur Timur, dengan ketinggian rata-rata 300 meter di atas permukaan laut.

3. Topografi: Wilayahnya didominasi perbukitan dan pegunungan berbatu granit, dengan ketinggian bervariasi dari 20 hingga lebih dari 1900 meter.

4. Geologi: Termasuk dalam formasi geologi tua Perisai Arab, dengan batuan dasar berupa granit yang sangat keras, disertai beberapa lapisan batuan sedimen dan metamorf.

5. Iklim: Beriklim gurun tropis, dipengaruhi transisi antara pola iklim Laut Merah dan Mediterania. Suhu sangat tinggi di musim panas, hangat di musim dingin, dengan curah hujan rendah dan tidak menentu. Angin dominan berasal dari barat laut (musim dingin) dan timur laut yang kering (musim panas).

Kelanjutan: Aspek Geografis dan Arsitektural

5. Pintu-Pintu Masjidilharam: Masjid ini memiliki empat pintu utama, empat puluh satu pintu tambahan, serta enam pintu yang mengarah ke lantai bawah tanah. Di atas masjid terdapat beberapa kubah dan sembilan menara raksasa yang terdistribusi di keempat pintu utama—setiap pintu diapit dua menara—sementara menara kesembilan terletak di atas Bab As-Shafa.

Di sekeliling masjid terdapat tangga berjalan (eskalator). Masjid terdiri dari tiga lantai, dengan masing-masing lantai ditopang oleh 492 pilar yang dilapisi marmer dan dihiasi ukiran serta kaligrafi Islami.

6. Posisi dan Ciri Fisik Ka'bah: Di tengah-tengah masjid berdiri Ka'bah, berbentuk hampir persegi. Pintunya terletak sekitar dua meter di atas tanah, dan untuk mencapainya digunakan tangga khusus. Pada sudut sebelah kiri pintu Ka'bah, setinggi 1,5 meter dari pelataran (Al-Mathaf), terpasang Hajar Aswad.

Di bagian atas tengah dinding barat laut Ka'bah terdapat pancuran emas yang disebut "Mîzâb Ar-Rahmah". Ka'bah senantiasa diselimuti kiswah (kelambu) dari sutra hitam yang dihiasi sulaman ayat-ayat Al-Qur'an.

7. Arsitektur Serambi (Ar-Riwaq): Pelataran thawaf (Al-Mathaf) dikelilingi oleh serambi-serambi masjid yang megah, dengan pilar-pilar yang diakhiri mahkota (capital) indah. Seluruh area dilengkapi karpet mewah, pendingin udara, lampu-lampu hias, dan berbagai ornamen. Tinggi fasad eksterior masjid mencapai 21 meter, semuanya dihiasi dengan pola-pola geometris dan kaligrafi Islam.

Sejarah Kiswah (Penutup Ka'bah)

Sebelum Islam, Ka'bah pernah ditutupi dengan anyaman daun kurma, kulit hewan, serta kain tenunan Yaman. Sejak era Qushay, suku Quraish menerapkan sistem pembagian biaya penutupan Ka'bah di antara kabilah-kabilah sesuai kemampuan ekonomi mereka.

Setelah kedatangan Islam, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam menutupinya dengan kain Yaman. Khalifah Umar dan Utsman kemudian menggunakan kain Qibathi yang diimpor dari Mesir. Khalifah Mu'awiyah memperkenalkan dua lapis penutup: satu dari Qibathi dan satu dari brokat (dibaj).

Khalifah Al-Mahdi dari Abbasiyah adalah yang pertama menggunakan sutra hitam. Setelah kemunduran Abbasiyah, tanggung jawab ini diambil alih oleh penguasa Mesir dan Yaman, hingga akhirnya hanya penguasa Mesir yang menangani hingga tahun 1381 H/1962 M. Raja Abdul Aziz kemudian mengambil alih dan mendirikan pabrik khusus pembuatan kiswah di Mekah.

Hajar Aswad

Merupakan tanda kebesaran Baitullah, disebut sebagai batu dari surga. Bentuknya oval, permukaannya halus, berwarna hitam keperakan dengan bercak-bercak kemerahan dan urat kekuningan.

Nabi Ibrahim 'alaihis salam adalah orang pertama yang meletakkannya. Peristiwa terkenal terjadi ketika Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam—sebelum diangkat menjadi nabi—berhasil mencegah pertikaian antarkabilah tentang siapa yang berhak meletakkan Hajar Aswad dengan solusi bijak: beliau meletakkannya di atas selembar kain dan meminta para pemimpin kabilah mengangkat bersama-sama, kemudian beliau sendiri yang menempatkannya di sudut Ka'bah.

Sepanjang sejarah, Hajar Aswad beberapa kali mengalami pencurian dan pengembalian, termasuk oleh gerakan Qaramithah dan terakhir oleh seorang pria dari Afghanistan pada tahun 1351 H/1932 M yang berhasil dicuri sebagian namun kemudian dikembalikan.

Maqam Ibrahim

Merupakan batu tempat Nabi Ibrahim berdiri saat membangun Ka'bah yang semakin tinggi. Ismail mengambilkannya untuk dijadikan pijakan ayahnya. Bekas telapak kaki Nabi Ibrahim masih tampak di batu tersebut.

Pada masa Khalifah Umar bin Khattab, batu ini dipindahkan agak menjauh dari Ka'bah agar tidak mengganggu jamaah yang thawaf, dan posisinya tetap seperti itu hingga kini.

Hijir Ismail

Merupakan area berbentuk setengah lingkaran di sebelah utara Ka'bah, disebut juga Al-Hathim. Ketika suku Quraish merenovasi Ka'bah, mereka mengurangi enam hasta dari sisi utara dan memasukkannya ke dalam area Hijir. Abdullah bin Zubair mengembalikan ukuran aslinya, tetapi Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi kemudian memotongnya lagi. Keadaan ini bertahan hingga sekarang.

Pada masa Abbasiyah, Khalifah Abu Ja'far Al-Mansur dan Al-Mahdi melakukan perbaikan dan melapisi lantainya dengan marmer, diikuti renovasi-renovasi selanjutnya pada periode-periode berikutnya.

Shafa dan Marwah

Dua bukit yang menjadi tempat pelaksanaan sa'i, salah satu rukun haji. Jarak antara keduanya sekitar 493 langkah. Dahulu, di antara kedua bukit ini terdapat pasar yang ramai, menyulitkan jamaah yang bersa'i.

Setelah berbagai renovasi, area sa'i (Al-Mas'â) kini terdiri dari dua lantai dengan panjang 294,5 meter dan lebar 20 meter. Lantai dasar dibagi dua jalur dengan pembatas di tengah untuk mengatur arus perjalanan dari Shafa ke Marwah dan sebaliknya. Terdapat juga jalur khusus di tengah untuk jamaah yang lemah.

Masuk ke area sa'i melalui enam belas pintu di sisi timur, sementara lantai atas dapat diakses melalui dua tangga di dalam masjid.

Sumur Zamzam

Terletak dekat Ka'bah, mulut sumurnya sekarang berada di bawah lantai pelataran thawaf, sedalam 1,56 meter. Sebuah tanda bulat bertuliskan "Sumur Zamzam" menandai lokasinya di belakang Maqam Ibrahim.

Sumur ini terdiri dari dua bagian: bagian atas yang dibangun (sedalam 12,8 meter) dan bagian bawah yang terpahat di batuan dasar (sedalam 17,2 meter). Zamzam dialiri oleh tiga mata air utama di dinding sumur pada kedalaman sekitar 13 meter.

Sejarahnya bermula dari mukjizat bagi Hajar dan Ismail yang kehausan. Setelah sekian lama, mata air ini pernah kering dan terlupakan hingga ditemukan kembali oleh kakek Nabi Muhammad, Abdul Muthalib, tidak lama sebelum kelahiran beliau.